Mengenal Busa Laut yang Muncul di Pantai Selatan Australia

Fenomena ini terjadi dalam skala besar di laut, terutama saat gelombang dan angin mengaduk materi organik yang melimpah. Alga yang mekar (algal blooms) merupakan salah satu sumber umum busa laut tebal.

oleh Switzy SabandarDiterbitkan 26 Maret 2025, 01:00 WIB
Burung terbang di atas buih laut yang menutupi sebagian Laut Mediterania di sebelah trotoar pelabuhan Tel Aviv, Israel, Selasa, 7 Februari 2023, saat angin kencang dan gelombang dari Badai Barbara menghantam negara itu. Meskipun ini merupakan kejadian normal di seluruh dunia, hal itu dianggap relatif jarang terjadi di Israel. (AP Photo/Ariel Schalit)

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena busa misterius yang muncul di wilayah pantai selatan Australia, tepatnya di sepanjang Pantai Waitpinga dan Parsons yang berjarak sekitar 80 kilometer di selatan Adelaide. Busa tersebut diduga menjadi penyebab lebih dari 100 peselancar yang sakit dan kematian biota laut di wilayah tersebut, mulai dari ikan hingga gurita.

Busa yang membentang ratusan meter di garis pantai ini kemungkinan disebabkan oleh lonjakan pertumbuhan mikroalga yang dipicu oleh suhu panas, air yang tenang, dan gelombang panas laut yang sedang berlangsung. Dikutip dari laman National Ocean Service pada Selasa (25/03/2025), berikut adalah fakta menarik tentang busa laut.

Busa atau buih laut (sea foam) adalah fenomena alam saat partikel organik yang terlarut di laut mengalami pengadukan oleh angin dan gelombang. Materi tersebut meliputi garam laut, protein, lemak, ganggang mati, deterjen, dan polutan lainnya yang bercampur dalam air laut.

Fenomena ini terjadi dalam skala besar di laut, terutama saat gelombang dan angin mengaduk materi organik yang melimpah. Alga yang mekar (algal blooms) merupakan salah satu sumber umum busa laut tebal.

Ketika alga membusuk di lepas pantai, materi organiknya diombak oleh air laut hingga menghasilkan busa tebal yang kemudian terdampar di pesisir.

Busa laut yang muncul di Pantai Waitpinga dan Parsons diduga berkaitan dengan fenomena mekaran alga berbahaya (harmful algal blooms). Lonjakan suhu permukaan laut, curah hujan yang rendah, dan kondisi perairan yang tenang memicu pertumbuhan alga yang pesat.

Alga ini kemudian mati dan membusuk, melepaskan partikel organik yang membentuk busa laut beracun. Gelombang panas laut yang melanda wilayah Australia bagian selatan dalam beberapa pekan terakhir semakin memperparah kondisi ini.

Menurut laporan peneliti dari Universitas Adelaide, konsentrasi racun pada busa laut di lokasi tersebut cukup tinggi hingga berpotensi membahayakan manusia dan hewan laut yang bersentuhan langsung dengannya.

Sebagian besar busa laut tidak berbahaya dan menjadi indikasi ekosistem laut yang produktif. Namun, busa yang dihasilkan dari mekaran alga berbahaya berpotensi membawa dampak negatif pada kesehatan manusia dan lingkungan.

Misalnya, selama mekaran alga Karenia brevis di pantai Teluk, busa laut yang pecah dapat melepaskan aerosol beracun yang mengiritasi mata dan mengancam penderita asma. Kasus serupa terjadi pada 2007 di California dan 2009 di Pasifik Barat Laut, saat busa laut berbahan dasar alga Akashiwo sanguinea menghilangkan lapisan tahan air pada bulu burung laut, menyebabkan banyak burung mengalami hipotermia fatal.

Di Pantai Waitpinga dan Parsons, laporan dari otoritas setempat menyebutkan bahwa busa laut yang tebal juga berpotensi membawa bakteri berbahaya yang menyebabkan infeksi kulit, iritasi mata, dan gangguan pernapasan pada para peselancar dan wisatawan.

(Tifani)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya