Liputan6.com, Jakarta - Dalam rangka memperingati 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Rusia, Kedutaan Besar Federasi Rusia di Indonesia berkolaborasi dengan Museum of The World Ocean dan Museum Bahari Jakarta menggelar pameran foto bertajuk "Marine Ships Must Be". Pameran ini menyoroti hubungan maritim kedua negara serta menggambarkan peran laut dalam membentuk sejarah, budaya, dan interaksi antarbangsa.
Acara pembukaan dihadiri oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, serta beberapa duta besar negara sahabat, termasuk Belarus, Uzbekistan, Mongolia, Malaysia, Azerbaijan, Timor Leste, Armenia, dan India. Hadir pula Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti, serta Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh.
Advertisement
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pameran ini. Ia menekankan bahwa hubungan Indonesia-Rusia telah terjalin lama, bahkan sejak kunjungan Tsarevich Nikolai Alexandrovich ke Pulau Jawa pada 1891.
"Tema Marine Ships Must Be memiliki makna simbolis yang kuat dan mendalam. Kapal tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai simbol pertukaran budaya antar negara," ujar Fadli Zon di Museum Bahari, Senin (25/3/2025).
Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, turut menyampaikan bahwa sejarah hubungan maritim antara Rusia dan Indonesia telah berlangsung selama lebih dari tiga abad.
"Pameran ini berkaitan dengan sejarah tentara Rusia yang telah berlangsung sejak diterbitkannya Dekret Boyar Duma dari Rusia berdasarkan rekomendasi Tentara Rusia pada Oktober 1696. Dengan demikian, tentara Rusia telah eksis selama lebih dari tiga abad, dengan sejarah yang mencakup kemenangan di berbagai belahan dunia, perjalanan, serta penemuan geografis," kata Dubes Tolchenov.
Dubes Tolchenov juga mengungkapkan bahwa kerja sama maritim antara Indonesia dan Rusia terus berkembang, termasuk melalui latihan maritim gabungan.
"Pada bulan November tahun lalu, untuk pertama kalinya Tentara Rusia dan TNI-Indonesia bergabung dalam latihan maritim Aruda 2024 di Laut Jawa, dekat Surabaya. Dalam latihan ini, kapal perang Rusia, seperti korvet Gromky, Resky, Aldar Tsidenjapov, serta kapal pendukung Pechenga, turut berpartisipasi. Selain itu, dua korvet Rusia juga mengikuti latihan International Naval Exercises Komodo 2025 di Bali," ungkap Dubes Tolchenov.
Sebagai informasi, pameran Marine Ships Must Be yang dibuka pada 24 Maret digelar di Ruang Sunda Kelapa Museum Bahari Jakarta melalui kerja sama dengan Kedubes Rusia di Jakarta serta Museum of The World Ocean di Kaliningrad, dan akan berlangsung hingga 16 April 2025.
Sejarah dan Kerja Sama Maritim Indonesia-Rusia hingga 15 Karya Ditampilkan
Sejak era Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, laut telah menjadi penghubung utama bagi Nusantara dalam membangun hubungan ekonomi dan budaya dengan dunia luar. Warisan kejayaan maritim ini menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki hubungan mendalam dengan dunia kelautan.
"Sebagai negara maritim, baik Indonesia maupun Rusia telah lama menyadari pentingnya jalur laut sebagai jembatan menuju kemakmuran ekonomi dan pemahaman budaya," tutur Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon.
Adapun pameran foto "Marine Ships Must Be" menampilkan 15 karya seniman Rusia, Andrey Trony, koleksi Museum of the World Ocean yang merekam sejarah hubungan maritim Indonesia-Rusia antara tahun 1688-1740.
Selain foto, pengunjung dapat menyaksikan berbagai artefak yang menggambarkan kejayaan maritim Nusantara, mulai dari kapal tradisional hingga teknologi kelautan modern.
Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh, menekankan pentingnya pameran ini dalam memperkenalkan budaya maritim kedua negara.
"Ekshibisi ini menjadi momen penting untuk merayakan serta memperkuat persahabatan dan kerja sama yang telah terjalin antara kedua negara. Selain itu, acara ini juga menjadi wadah untuk memperkenalkan budaya masing-masing, terutama yang berkaitan dengan dunia maritim, yang merupakan pondasi penting bagi banyak negara," ujar Mochamad Miftahulloh.
"Rusia dan Indonesia adalah negara maritim yang memiliki sejarah panjang dalam bidang ini. Maritim telah memainkan peran penting dalam membentuk identitas dan sejarah masing-masing negara. Departemen Kultura Provinsi DKI Jakarta mengapresiasi dan berterima kasih atas dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Ini merupakan bentuk dukungan dari pemerintah pusat dalam mengembangkan budaya kedua negara, Indonesia dan Rusia," tambah Mochamad Miftahulloh.
Fokus Pameran
Fokus utama dari pameran ini adalah menyoroti kapal-kapal pesisir sebagai simbol hubungan historis antara kedua negara. Kapal-kapal ini tidak hanya mewakili pertukaran fisik, tetapi juga interaksi budaya yang mempererat hubungan maritim Indonesia dan Rusia sepanjang sejarah.
Sebagai negara kepulauan yang membentang dari Sabang hingga Merauke dengan lebih dari 17.000 pulau dan jalur laut sepanjang lebih dari 80.000 km, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam memanfaatkan laut sebagai jalur perdagangan dan interaksi budaya. Kerajaan maritim di Nusantara, seperti Sriwijaya dan Majapahit, telah menjadikan laut sebagai kekuatan utama dalam membangun ekonomi dan budaya.
"Melalui kolaborasi antara Indonesia dan Rusia dalam pameran ini, kita dapat memperoleh wawasan lebih luas tentang sejarah, nilai-nilai, dan tradisi satu sama lain sebagai bangsa maritim," kata Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon.
Gelaran ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi masyarakat Indonesia untuk mengenal lebih dalam sejarah hubungan maritim antara Indonesia dan Rusia serta memahami pentingnya laut dalam kehidupan sosial dan budaya kedua bangsa.