Carrefour Diprediksi Bakal Terus Lego Usahanya

memperkirakan mampu meraup keuntungan hingga 530 juta euro (US$ 682 juta) dari penjualan 25% sahamnya ke rekan bisnisnya, Majid Al Futtaim (MAF).

oleh Siska Amelie F DeilDiterbitkan 24 Mei 2013, 13:50 WIB
Carrefour, perusahaan ritel asal Perancis diprediksi akan terus melego kepemilikan sahamnya pada usahanya di beberapa negara.

Terakhir, perusahaan diperkirakan mampu meraup keuntungan hingga 530 juta euro (US$ 682 juta) dari penjualan 25% sahamnya ke rekan bisnisnya, Majid Al Futtaim (MAF).

Tindakan ini menguras total aset perusahaan senilai US$ 3,4 miliar euro sejak kedatangan CEO Carefour Georges Plassat pada Mei 2012.

Pengurangan aset juga terjadi karena Carrefour membayar utang dan fokus pada pengalihan bisnis-bisnis ke hypermarket di Kawasan Eropa seperti melansir laman Globalpost, Jumat (24/5/2013).

Para analis menilai harga penjualan saham yang disepakati Carrefour dengan cukup wajar; naik sekitar 0,7 kali penjualan 2012 dan 13,5 - 13,8 kali dari penghasilan. Hal ini memungkinkan Carrefour fokus pada pasar-pasar baru yang lebih besar seperti Brasil dan Cina.

Namun beberapa analis mempertanyakan langkah penjualan yang diambil perusahaan ritel asal Perancis ini. Sebab langkah ini dinilai akan mengurangi eksposur bagi wilayah yang menawarkan peluang pertumbuhan dinamis jangka panjang dan menengah.

"Sementara kinerja Carrefour di lingkungan ekonomi Eropa masih sulit berkembang," ungkap Analis Barclyas.

Saham Carrefour turun lebih dari 5% di tengah kekhawatiran produsen ritel kedua terbesar di dunia ini terlalu banyak menarik pasar negara berkembang setelah meraih penjualan baik di Timur Tengah.

Saham perusahaan ritel terbesar di dunia setelah Wal-Mart ini ditutup dengan penurunan 5,1% pada Kamis 23 Mei 2013, menghabiskan keuntungan di hari sebelumya. Tapi sahamnya masih sebesar 14% dalam lima minggu terakhir.

Pendapatan Carrefour meningkat 2,8 miliar euro pada 2012, lewat penjualan unit usahanya di Indonesia, Kolombia, dan Malaysia. Bulan lalu sebesar 12% saham bisnis Carrefour SA di Turki juga telah dijual.

Plassat sebelumnya berencana berinvestasi 2,2 - 2,3 miliar euro untuk merenovasi dan melebarkan toko-toko di Perancis, Brasil, dan China tahun ini. Dirinya mengatakan tak ada rencana untuk keluar dari negara-negara lain.

"Tapi kesepakatan terakhir membuktikan penjualan saham Carrefour belum berakhir," ujar Analis Natixis, Pierre-Edouard Boudot. Kesepakatan MAF dituding terikat spekulasi masa depan bisnis Carrefour di Italia dan Polandia.

Tunisia, negara di mana Carrefour memiliki bisnis gabungan dengan perusahaan Utic, Taiwan and Polandia bisa masuk daftar berikutnya, menurut Analis PlanetRetail Gildas Aitamer.

Sayang, pihak Carrefour masih tutup mulut menanggapi prediksi para analis tersebut.

MAF berencana untuk menjaga dan menguatkan strategi kerjasamanya dengan Carrefour di beberapa negara baru dengan format baru.

"Rencana ini juga ditujukan untuk menjaga kerjasama franchise eksklusif dengan perusahaan Perancis sampai 2025," ungkap pihak Carrefour.

Hasilnya Carrefour dinilai dapat mengurangi eksposur modalnya, sambil menjaga kestabilan usahanya di pasar-pasar yang dipilih, juga meraih pendapatan lewat kontrak franchies. (Nur)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya