Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan mencatat jumlah lulusan S3 di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan negara lain seperti Malaysia, Iran dan Jepang.
Hal itu disampaikan Direktur Utama LPDP Eko Prasetyo dalam acara Pelatihan Kemenkeu terkait Pengelolaan Dana Abadi Pendidikan di Marbella Suites, Bandung, Sabtu (18/5/2013).
"Dari satu juta penduduk di Indonesia, hanya 98 orang yang sudah meraih gelar S3. Angka jumlah tersebut masih sedikit, jika kita melihat data Dikti tahun 2011, Malaysia mempunyai 509 peraih gelar S3 per satu juta penduduk, Iran mencapai 1.140 orang dan Jepang sangat besar mencapai 6.438 orang," ujar Eko.
Belum lagi, jika dibandingkan dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, jumlah peraih gelar S3 di Indonesia masih sangat sedikit.
"Faktor sumber daya manusia itu sangat penting, karena itulah akan kami majukan kedepannya, sehingga bisa bersaing dengan negara-negara lain yang sudah meraih gelas S3 yang jumlahnya sangat banyak," katanya.
Menurut Eko, jumlah itu harus segera ditingkatkan. Apalagi untuk mendukung suksesnya program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dibutuhkan 7.000-10.000 lulusan S3.
Begitupun untuk sarjana teknik, Indonesia masih sangat minim. Saat ini prosentasi, sarjana teknik di Indonesai baru 11,56%. Sementara prosentase lulusan teknik di beberapa negara lebih besar seperti Jerman sebesar 16%, Jepang sebesar 18%, Vietnam sebesar 20% dan Malaysia 24%.
"Indonesia juga masih sangat rendah dana riset untuk penelitian dan rendahnya hasil karya ilmiah inovatif (buku dan karya paten)," tuturnya. (Dis/Ndw)
Hal itu disampaikan Direktur Utama LPDP Eko Prasetyo dalam acara Pelatihan Kemenkeu terkait Pengelolaan Dana Abadi Pendidikan di Marbella Suites, Bandung, Sabtu (18/5/2013).
"Dari satu juta penduduk di Indonesia, hanya 98 orang yang sudah meraih gelar S3. Angka jumlah tersebut masih sedikit, jika kita melihat data Dikti tahun 2011, Malaysia mempunyai 509 peraih gelar S3 per satu juta penduduk, Iran mencapai 1.140 orang dan Jepang sangat besar mencapai 6.438 orang," ujar Eko.
Belum lagi, jika dibandingkan dengan negara-negara di Eropa dan Amerika, jumlah peraih gelar S3 di Indonesia masih sangat sedikit.
"Faktor sumber daya manusia itu sangat penting, karena itulah akan kami majukan kedepannya, sehingga bisa bersaing dengan negara-negara lain yang sudah meraih gelas S3 yang jumlahnya sangat banyak," katanya.
Menurut Eko, jumlah itu harus segera ditingkatkan. Apalagi untuk mendukung suksesnya program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dibutuhkan 7.000-10.000 lulusan S3.
Begitupun untuk sarjana teknik, Indonesia masih sangat minim. Saat ini prosentasi, sarjana teknik di Indonesai baru 11,56%. Sementara prosentase lulusan teknik di beberapa negara lebih besar seperti Jerman sebesar 16%, Jepang sebesar 18%, Vietnam sebesar 20% dan Malaysia 24%.
"Indonesia juga masih sangat rendah dana riset untuk penelitian dan rendahnya hasil karya ilmiah inovatif (buku dan karya paten)," tuturnya. (Dis/Ndw)