Penis Abdul Muhyi (22) yang dipotong tak lagi bisa disambungkan. Pemberian 'penis palsu' sebenarnya bisa dilakukan. Namun, rasa dan bentuk penis palsu tak akan sama lagi.
Kelamin warga Bojongsari, Depok, Jawa Barat, dipotong seorang waria di ruas Jalur Gas sekitar Universitas Pamulang, tak jauh dari Polsek Pamulang, Tangerang Selatan
Menurut Ahli Bedah dr. Sidik Setiamihardja, SpBP, pembuatan 'penis palsu' biasanya menggunakan kulit, apakah itu dari tangan, perut, atau paha. Kulit yang diambil tentu yang berlemak sehingga bisa dibentuk seperti batang penis.
"Itu mesti ada batangnya sama saluran kencingnya. Tapi ini belum lengkap, kalau cuma diambil kulit nanti nggak bisa berdiri. Mesti ada sesuatu," kata dr. Sidik Setiamihardja, SpBP, dalam sambungan telepon kepada Liputan6.com, Jumat (17/5/2013).
Dokter yang berpraktik di RS Bina Estetika itu menjelaskan, pilihan penis buatan itu tergantung pasien karena sebelum dilakukan prosedur bedah harus didiskusikan bersama pasien. Selain itu, bagian yang terpotong juga harus dilihat.
"Kalau seandainya di ujung leher, di bawah kepala mungkin lebih baik tidak dibikin penis palsu. Bahan yang ada dipanjangkan saja," jelasnya.
Rekonstruksi Penis
Operasi rekonstruksi penis bisa bertahap. Pada teknik bedah, kulit dengan pembuluh darah diambil. Namun kulit yang dimaksud adalah kulit yang berlemak. "Misalnya kulit perut dilepas dan dibuat seperti saluran di dalamnya ada lagi saluran kecil untuk pipis".
Selain kulit, diperlukan juga pembuluh darah."Pembuluh darah disambungkan ke penis biar nanti darahnya mengalir lagi," katanya.
Jika sudah sukses, lanjut dr Sidik, darah mengalir lagi ke penis kecuali jika terjadi infeksi.
Dan apabila pasien ingin bisa ereksi, dr Sidik mengatakan, dokter akan menambahkan sesuatu di dalamnya. "Ada batang yang dimasukkan ke sana. Dokter akan memilihkan bahan agar bisa lurus yakni implan".
dr Sidik menjelaskan, untuk bentuknya, setiap orang bisa berbeda. Yang pasti, ukuran dipastikan tak berlebihan.
dr Sidik juga mengingatkan, jangan berharap penis palsu itu bentuknya seperti semula. Soalnya, penis dari kulit tentu lebih lembek sehingga terkulai. (Mel/Igw)
Kelamin warga Bojongsari, Depok, Jawa Barat, dipotong seorang waria di ruas Jalur Gas sekitar Universitas Pamulang, tak jauh dari Polsek Pamulang, Tangerang Selatan
Menurut Ahli Bedah dr. Sidik Setiamihardja, SpBP, pembuatan 'penis palsu' biasanya menggunakan kulit, apakah itu dari tangan, perut, atau paha. Kulit yang diambil tentu yang berlemak sehingga bisa dibentuk seperti batang penis.
"Itu mesti ada batangnya sama saluran kencingnya. Tapi ini belum lengkap, kalau cuma diambil kulit nanti nggak bisa berdiri. Mesti ada sesuatu," kata dr. Sidik Setiamihardja, SpBP, dalam sambungan telepon kepada Liputan6.com, Jumat (17/5/2013).
Dokter yang berpraktik di RS Bina Estetika itu menjelaskan, pilihan penis buatan itu tergantung pasien karena sebelum dilakukan prosedur bedah harus didiskusikan bersama pasien. Selain itu, bagian yang terpotong juga harus dilihat.
"Kalau seandainya di ujung leher, di bawah kepala mungkin lebih baik tidak dibikin penis palsu. Bahan yang ada dipanjangkan saja," jelasnya.
Rekonstruksi Penis
Operasi rekonstruksi penis bisa bertahap. Pada teknik bedah, kulit dengan pembuluh darah diambil. Namun kulit yang dimaksud adalah kulit yang berlemak. "Misalnya kulit perut dilepas dan dibuat seperti saluran di dalamnya ada lagi saluran kecil untuk pipis".
Selain kulit, diperlukan juga pembuluh darah."Pembuluh darah disambungkan ke penis biar nanti darahnya mengalir lagi," katanya.
Jika sudah sukses, lanjut dr Sidik, darah mengalir lagi ke penis kecuali jika terjadi infeksi.
Dan apabila pasien ingin bisa ereksi, dr Sidik mengatakan, dokter akan menambahkan sesuatu di dalamnya. "Ada batang yang dimasukkan ke sana. Dokter akan memilihkan bahan agar bisa lurus yakni implan".
dr Sidik menjelaskan, untuk bentuknya, setiap orang bisa berbeda. Yang pasti, ukuran dipastikan tak berlebihan.
dr Sidik juga mengingatkan, jangan berharap penis palsu itu bentuknya seperti semula. Soalnya, penis dari kulit tentu lebih lembek sehingga terkulai. (Mel/Igw)