Liputan6.com, Denpasar: Suhu politik di Bali mulai memanas menjelang pemilihan gubernur. Sekitar 500 kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan mendatangi Kantor DPRD Tingkat I Bali, baru-baru ini. Mereka menolak rekomendasi paket calon gubernur dan wakil gubernur yang dikeluarkan Dewan Pimpinan Pusat PDIP, yaitu pasangan Dewa Bratha dan Alit Kalakan. Alasannya, Fraksi PDI-P sudah mengajukan paket pasangan Cok Ratmadi dan Agus Suradyana.
Penolakan kader PDI-P bermula dari surat rekomendasi DPP yang ditandatangani Sekretaris Jenderal Sutjipto dan Gunawan Wiorsarojo. Dalam surat itu, DPP PDIP meminta kader partai memilih calon gubernur Dewa Bratha dan Alit Kalakan. Keputusan ini kontan memancing emosi kader PDIP. Mereka menolak calon tersebut dan meminta Ketua DPD PDIP Bali Ida Bagus Putu Wesnawa melawan keputusan DPP.
Ketika ditemui, Wesnawa mengaku tak berani melangkahi prosedur pencalonan yang sudah diajukan DPP PDIP. Alasannya, rekomendasi itu sudah diketahui Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri. Wesnawa meminta para kader sabar dan memberi waktu kepada dirinya untuk berdialog dengan Mega yang akan datang ke Bali, Kamis mendatang.
Tahapan pemilihan gubernur di Jawa Tengah juga menuai protes. Kali ini dilakukan mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Mereka mendatangi Gedung DPRD Jateng dan menolak praktik politik uang dalam pemilihan gubernur setempat.
Dalam aksinya, mahasiswa sempat menggelar pertunjukan yang menggambarkan sikap anggota Dewan rakus uang. Wakil rakyat dituding lebih mementingkan uang dibanding kualitas calon gubernur. Mahasiswa membagikan uang dalam bentuk fotokopi kepada penonton aksi sebagai lambang masih kentalnya politik uang dalam pemilihan gubernur.
Menurut mahasiswa, meski sulit dibuktikan, ada beberapa calon gubernur yang membayar anggota DPRD agar bisa dicalonkan. Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa minta masyarakat lebih pro-aktif dalam mengawasi pemilihan gubernur. Mereka juga meminta panitia pemilihan gubernur membatalkan hasil pemilihan bila terbukti ada kecurangan.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)
Penolakan kader PDI-P bermula dari surat rekomendasi DPP yang ditandatangani Sekretaris Jenderal Sutjipto dan Gunawan Wiorsarojo. Dalam surat itu, DPP PDIP meminta kader partai memilih calon gubernur Dewa Bratha dan Alit Kalakan. Keputusan ini kontan memancing emosi kader PDIP. Mereka menolak calon tersebut dan meminta Ketua DPD PDIP Bali Ida Bagus Putu Wesnawa melawan keputusan DPP.
Ketika ditemui, Wesnawa mengaku tak berani melangkahi prosedur pencalonan yang sudah diajukan DPP PDIP. Alasannya, rekomendasi itu sudah diketahui Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri. Wesnawa meminta para kader sabar dan memberi waktu kepada dirinya untuk berdialog dengan Mega yang akan datang ke Bali, Kamis mendatang.
Tahapan pemilihan gubernur di Jawa Tengah juga menuai protes. Kali ini dilakukan mahasiswa Universitas Negeri Semarang. Mereka mendatangi Gedung DPRD Jateng dan menolak praktik politik uang dalam pemilihan gubernur setempat.
Dalam aksinya, mahasiswa sempat menggelar pertunjukan yang menggambarkan sikap anggota Dewan rakus uang. Wakil rakyat dituding lebih mementingkan uang dibanding kualitas calon gubernur. Mahasiswa membagikan uang dalam bentuk fotokopi kepada penonton aksi sebagai lambang masih kentalnya politik uang dalam pemilihan gubernur.
Menurut mahasiswa, meski sulit dibuktikan, ada beberapa calon gubernur yang membayar anggota DPRD agar bisa dicalonkan. Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa minta masyarakat lebih pro-aktif dalam mengawasi pemilihan gubernur. Mereka juga meminta panitia pemilihan gubernur membatalkan hasil pemilihan bila terbukti ada kecurangan.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)