Liputan6.com, Bandung: Mendung menyelimuti 256 warga yang tinggal di Rumah Susun Sarijadi Bandung, Jawa Barat. Mereka muram. Bingung dan kecewa. Maklum, jangankan untuk membayar sewa kontrakan, buat menyambung hidup sehari-hari saja mereka pusing. Demikian hasil pemantauan SCTV di Rusun Sarijadi, baru-baru ini.
Pusing mereka bukan tanpa soal. Sebab, warga yang hampir sebagian besar bekerja di PT Dirgantara Indonesia itu sudah kehilangan pekerjaannya. Memang belum sampai dipecat. Tapi kebijakan perusahaan yang merumahkan mereka otomatis memangkas hampir sebagian besar penghasilan mereka [baca: PT Dirgantara Indonesia Tutup]. Walhasil, kini kegiatan penghuni rusun empat lantai itu hanya kumpul-kumpul dan berbincang ngalor ngidul sekadar mengisi waktu luang.
Beban para karyawan setelah dirumahkan memang berat. Apalagi kemungkinan besar subsidi uang sewa kamar 6X6 meter--ruang tamu, ruang tidur, ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi--di rusun diputus perusahaan. Kalau biasanya tiap bulan mereka hanya dibebani biaya sewa Rp 7 ribu--lantai empat--dan Rp 10 ribu untuk lantai dasar, kini mulai periode mendatang, mereka harus membayar lebih besar. Belum lagi mereka harus membiayai kebutuhan hidup keluarga.
Saat ini para karyawan korban kebijakan itu hanya berharap perusahaan tak memutus subsidi pembayaran sewa rumah. Sebab kalau itu sampai terjadi, mereka mengaku bingung akan tempat tinggal. Mereka kini memang hanya bisa menunggu, tak lebih.(ICH/Patria Hidayat)
Pusing mereka bukan tanpa soal. Sebab, warga yang hampir sebagian besar bekerja di PT Dirgantara Indonesia itu sudah kehilangan pekerjaannya. Memang belum sampai dipecat. Tapi kebijakan perusahaan yang merumahkan mereka otomatis memangkas hampir sebagian besar penghasilan mereka [baca: PT Dirgantara Indonesia Tutup]. Walhasil, kini kegiatan penghuni rusun empat lantai itu hanya kumpul-kumpul dan berbincang ngalor ngidul sekadar mengisi waktu luang.
Beban para karyawan setelah dirumahkan memang berat. Apalagi kemungkinan besar subsidi uang sewa kamar 6X6 meter--ruang tamu, ruang tidur, ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi--di rusun diputus perusahaan. Kalau biasanya tiap bulan mereka hanya dibebani biaya sewa Rp 7 ribu--lantai empat--dan Rp 10 ribu untuk lantai dasar, kini mulai periode mendatang, mereka harus membayar lebih besar. Belum lagi mereka harus membiayai kebutuhan hidup keluarga.
Saat ini para karyawan korban kebijakan itu hanya berharap perusahaan tak memutus subsidi pembayaran sewa rumah. Sebab kalau itu sampai terjadi, mereka mengaku bingung akan tempat tinggal. Mereka kini memang hanya bisa menunggu, tak lebih.(ICH/Patria Hidayat)