Stimulus Ekonomi China Ternyata Tak Berdampak, Butuh Waktu Lebih Lama

CFO Meituan Shaohui Chen menyatakan, dampak positif kebijakan stimulus yang telah dikeluarkan oleh pemerintah ini membutuhkan waktu.

oleh Satrya Bima PramudatamaDiterbitkan 06 Desember 2024, 18:00 WIB
Seorang pekerja membersihkan pintu kaca toko barang mewah di sebuah pusat perbelanjaan di Beijing, China, Senin (6/3/2023). (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Liputan6.com, Jakarta - China telah menjalankan berbagai langkah stimulus moneter maupun fiskal sejak akhir September 2024 untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Tetapi sampai saat ini dampak dari stimulus itu belum terlihat jelas. 

Memang terdapat tanda-tanda perbaikan di sektor properti dan manufaktur tetapi dampaknya masih terbatas. Perusahaan-perusahaan besar seperti Meituan, Alibaba, dan Tencent tetap berhati-hati dalam memproyeksikan pertumbuhan.

CFO Meituan Shaohui Chen menyatakan, dampak positif kebijakan stimulus ekonomi yang telah dikeluarkan oleh pemerintah ini membutuhkan waktu.

“Kami yakin kebijakan ini secara bertahap akan mendukung ekonomi riil dan mendorong belanja konsumen,” ujarnya dikutip dari CNBC pada Jumat (6/12/2024).

Hingga saat ini, peningkatan yang terlihat belum signifikan. Indeks manajer pembelian (PMI) Caixin untuk manufaktur mencatat angka 51,5 pada November, tertinggi sejak Juni, menunjukkan adanya ekspansi kecil dalam aktivitas pabrik. PMI resmi juga naik menjadi 50,3, tertinggi sejak April.

Ekonom senior di Caixin Insight Group, Wang Zhe mengatakan bahwa, "Meskipun ekonomi tampaknya sudah mencapai titik terendah, masih diperlukan konsolidasi lebih lanjut," kata dia. 

Dia juga menyoroti bahwa dampak stimulus belum terasa di pasar tenaga kerja.

Selain itu, direktur pelaksana di Teneo, Gabriel Wildau menambahkan bahwa kebijakan stimulus ini akan berlangsung bertahap. "Prinsipnya adalah melakukan 'cukup' daripada 'apa pun yang diperlukan'," katanya.

Ketegangan China dengan AS Meningkat

Komuter yang memakai masker berjalan melintasi persimpangan di kawasan pusat bisnis pada hari dengan tingkat polusi udara yang tinggi di Beijing, China, Senin (6/3/2023). Pejabat ekonomi China menyatakan keyakinannya bahwa mereka dapat memenuhi target pertumbuhan tahun ini sekitar 5 persen dengan menghasilkan 12 juta pekerjaan baru dan mendorong pengeluaran konsumen setelah berakhirnya kontrol antivirus yang membuat jutaan orang tetap di rumah. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

Disisi lain ketegangan dengan AS meningkat. Pekan lalu, AS kembali membatasi produsen chip Tiongkok, dan Presiden terpilih Donald Trump mengumumkan rencana tarif 10% untuk semua impor dari Tiongkok.

Menurut laporan China Beige Book, meski terdapat peningkatan dalam belanja ritel dan penjualan rumah tetapi konsumsi jasa masih lemah. Pasar menginginkan lebih banyak stimulus, apalagi dengan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Kementerian Keuangan China juga menyatakan kemungkinan adanya dukungan fiskal tambahan tahun depan, dan para investor menantikan hasil dari pertemuan perencanaan ekonomi tahunan China yang akan digelar pertengahan Desember.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya