Liputan6.com, Pidie: Anggota Brigade Mobil dan Kepolisian Resor Pidie terlibat kontak senjata dengan anggota Gerakan Aceh Merdeka saat menyisir dua desa di Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam, Kamis (10/7). Diperkirakan seorang anggota gerakan separatis terluka, namun berhasil meloloskan diri. Peristiwa itu bermula saat aparat mengumpulkan warga Desa Tebing Tanjung dan Tebing Jaya di sebuah meunasah atau musala. Kartu tanda penduduk warga desa diperiksa untuk diidentifikasi. Baru beberapa saat pemeriksaan berlangsung, tiba-tiba terdengar suara tembakan.
Aparat keamanan lantas mengejar pelaku penembakan yang diduga anggota GAM. Di sepanjang jalan ditemukan ceceran darah yang berasal dari tubuh anggota GAM yang terluka tadi. Pasukan gabungan kemudian menggeledah sejumlah rumah penduduk yang diperkirakan tempat persembunyian pelaku. Seorang warga dibawa aparat untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Pekan silam juga terjadi kontak senjata antara anggota GAM dan pasukan TNI yang tengah menyisir di Cot Girek, Kandang, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, Aceh Utara. Delapan anggota gerakan separatis tewas. Dari lokasi kejadian, dua pucuk senjata api, sebuah granat, dan bendera GAM disita [baca: Kontak Senjata di Lhokseumawe, Delapan GAM Tewas].
Sementara itu, William Nessen, wartawan asal Amerika Serikat yang ditahan Kepolisian Daerah NAD dikunjungi ibunya, petang tadi. Kedatangan Hermine Fuld, sempat dilarang petugas imigrasi Bandar Udara Polonia Medan, Sumatra Utara, karena perempuan berusia 72 tahun itu tidak mengantungi izin dari Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, seperti yang diharuskan selama Darurat Militer.
Suasana haru terpancar dari wajah Hermine. Nessen tampak ceria menyambut kedatangan ibunya. Setelah berpelukan, mereka menuju ruangan lain untuk berbincang-bincang. Amir Syamsuddin, kuasa hukum Nessen menyatakan, kehadiran Hermine semata-mata untuk bertemu dengan anaknya dan ingin melihat secara langsung kondisi jurnalis lepas itu.
Hermine yang hanya sehari di Banda Aceh diminta menandatangani formulir persyaratan Penguasa Darurat Militer (PDM) yang menyatakan tidak akan memberikan keterangan pers tanpa izin PDM. William Nessen ditahan Polda NAD karena disangka telah melanggar undang-undang keimigrasian [baca: William Nessen Resmi Menjadi Tersangka]. Sebelumnya dia terjebak di markas GAM saat TNI menyerbu. Setelah melewati batas ultimatum, Nessen menyerahkan diri.
Di tempat terpisah, bus Cenderawasih jurusan Kuala Timpang dilaporkan dihadang tiga pria yang menyandang senjata api di Desa Menasah, Kecamatan Lhok Sukon, Aceh Utara, siang tadi. Abdul Rahman, sopir bus itu mengatakan, ketiga pria tersebut menyuruh 12 penumpang turun. Mobil yang kosong kemudian dibakar. Saat api membesar, kobarannya menyambar sembilan penumpang, termasuk bayi perempuan berumur satu tahun. Dua korban langsung mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Cut Meutia. Hingga saat ini polisi masih menyelidiki kasus tersebut.(COK/Tim Liputan 6 SCTV)
Aparat keamanan lantas mengejar pelaku penembakan yang diduga anggota GAM. Di sepanjang jalan ditemukan ceceran darah yang berasal dari tubuh anggota GAM yang terluka tadi. Pasukan gabungan kemudian menggeledah sejumlah rumah penduduk yang diperkirakan tempat persembunyian pelaku. Seorang warga dibawa aparat untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Pekan silam juga terjadi kontak senjata antara anggota GAM dan pasukan TNI yang tengah menyisir di Cot Girek, Kandang, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, Aceh Utara. Delapan anggota gerakan separatis tewas. Dari lokasi kejadian, dua pucuk senjata api, sebuah granat, dan bendera GAM disita [baca: Kontak Senjata di Lhokseumawe, Delapan GAM Tewas].
Sementara itu, William Nessen, wartawan asal Amerika Serikat yang ditahan Kepolisian Daerah NAD dikunjungi ibunya, petang tadi. Kedatangan Hermine Fuld, sempat dilarang petugas imigrasi Bandar Udara Polonia Medan, Sumatra Utara, karena perempuan berusia 72 tahun itu tidak mengantungi izin dari Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, seperti yang diharuskan selama Darurat Militer.
Suasana haru terpancar dari wajah Hermine. Nessen tampak ceria menyambut kedatangan ibunya. Setelah berpelukan, mereka menuju ruangan lain untuk berbincang-bincang. Amir Syamsuddin, kuasa hukum Nessen menyatakan, kehadiran Hermine semata-mata untuk bertemu dengan anaknya dan ingin melihat secara langsung kondisi jurnalis lepas itu.
Hermine yang hanya sehari di Banda Aceh diminta menandatangani formulir persyaratan Penguasa Darurat Militer (PDM) yang menyatakan tidak akan memberikan keterangan pers tanpa izin PDM. William Nessen ditahan Polda NAD karena disangka telah melanggar undang-undang keimigrasian [baca: William Nessen Resmi Menjadi Tersangka]. Sebelumnya dia terjebak di markas GAM saat TNI menyerbu. Setelah melewati batas ultimatum, Nessen menyerahkan diri.
Di tempat terpisah, bus Cenderawasih jurusan Kuala Timpang dilaporkan dihadang tiga pria yang menyandang senjata api di Desa Menasah, Kecamatan Lhok Sukon, Aceh Utara, siang tadi. Abdul Rahman, sopir bus itu mengatakan, ketiga pria tersebut menyuruh 12 penumpang turun. Mobil yang kosong kemudian dibakar. Saat api membesar, kobarannya menyambar sembilan penumpang, termasuk bayi perempuan berumur satu tahun. Dua korban langsung mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Cut Meutia. Hingga saat ini polisi masih menyelidiki kasus tersebut.(COK/Tim Liputan 6 SCTV)