Endriartono: Ersa Disandera GAM atau Menyanderakan Diri?

"Apa betul dia disandera, bukan menyanderakan diri," kata Endriartono di sela-sela rapat kerja dengan Komisi I DPR di Jakarta, hari ini.

oleh Liputan6Diterbitkan 08 Juli 2003, 14:36 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Panglima TNI Jenderal Endiartono Sutarto menjelaskan bahwa hingga saat ini TNI masih mengganggap reporter stasiun televisi RCTI Ersa Siregar dan kamerawan Ferry Santoro disandera kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka. Dia juga mengatakan, batas waktu yang diberikan kepada Ersa--untuk kembali ke lokasi ditemukannya mobil RCTI di Peurlak--dan bakal berakhir Selasa (8/7) pukul 18.00 nanti tetap berlaku [baca: Lagi, Anggota Brimob Tewas Ditembak GAM].

Namun demikian, Panglima TNI mengaku masih membutuhkan kejelasan lebih lanjut tentang keberadaan Ersa di sarang GAM. "Apa betul dia disandera, bukan menyanderakan diri," kata Endriartono di sela-sela rapat kerja dengan Komisi I DPR di Jakarta, hari ini. Panglima juga mengatakan, pihaknya sudah meminta kepada GAM agar membebaskan Ersa Cs. Alasannya, Ersa adalah jurnalis sehingga GAM berkewajiban melepaskan Ersa dan kawan-kawan dalam keadaan selamat. "Kalau GAM tidak mau, kita akan bebaskan paksa," kata Panglima TNI. Sementara Kepala Staf TNI AD Jenderal Ryamizard Ryacudu mengatakan, jika bebas nanti, TNI tetap akan memeriksa Ersa dan Ferry.

Di Bireun, sekitar 1.300 dari 1.600 pengungsi di dua lokasi di kawasan Bireun dipulangkan ke rumah masing-masing di Desa Juli dan Desa Juli Tambo Tanjong. Namun sebelum itu, para pengungsi didata terlebih dahulu oleh personel TNI/Polri, termasuk mendata kartu keluarga dan kartu tanda penduduk Merah Putih. Barang bawaan mereka juga diperiksa. Keputusan memulangkan pengungsi dilakukan setelah kawasan tempat mereka tinggal dinyatakan aman. Penduduk di dua desa tersebut mengungsi sejak Darurat Militer di Aceh diberlakukan 19 Mei silam. Sedangkan di Lhokseumawe, Aceh Utara, sebanyak 24 pengungsi asal Kecamatan Nisam dirawat di Rumah Sakit Cut Meutia karena menderita malaria, demam, dan diare.

Sementara itu, 650 personel Batalyon Infanteri 527 Lumajang, Yonif 516, dan Yonif 512 Kodam V Brawijaya berangkat ke Aceh diiringi isak tangis istri dan anggota keluarga mereka. Mereka ke Tanah Rencong dengan Kapal RI Teluk Bayur dari Dermaga Armada Timur Surabaya, Jawa Timur, untuk menggantikan Yonif 521 yang sudah bertugas setahun di Aceh Barat dan Aceh Selatan [baca: Personel Yonif 527 Siap Ditugaskan ke Aceh].

Keberangkatan para serdadu TNI itu dilepas Panglima Kodam V Brawijaya Mayor Jenderal TNI Achmad Djunaidy Sikki. Pada kesempatan itu, Pangdam Brawijaya berpesan agar personel Yonif 527, 516, dan 512 bertugas secara profesional. Mereka diharapkan pula mampu membedakan sipil bersenjata dengan sipil yang patut dilindungi. Secara khusus, Pangdam Brawijaya meminta anggota TNI tak mengulang kasus perkosaan di Tanah Rencong karena bisa merusak citra TNI.(SID/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya