Liputan6.com, Jakarta: Pengamat militer Letnan Jenderal Purnawirawan Sayidiman Suryohadiprodjo di Jakarta, Sabtu (5/7), menilai, pertahanan Indonesia sangat membutuhkan peralatan baru berteknologi tinggi. Indikasi kebutuhan yang sangat mendesak tersebut dapat dilihat dari terjadinya insiden pelanggaran udara lima pesawat F/A-18 Hornet milik Amerika Serikat di Pulau Bawean. Karena itu Sayidiman berpendapat, imbal beli Sukhoi dari Rusia tidak semestinya diganggu persoalan birokrasi yang ruwet.
Seperti diberitakan sebelumnya, lima pesawat tempur Hornet milik Angkatan Laut AS kepergok melintas di atas Pulau Bawean, Jawa Timur, dan dihadang dua pesawat F-16 milik Indonesia, Kamis silam. Kendati demikian, menurut Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Chappy Hakim mereka tak melanggar peraturan batas wilayah udara RI. Sebab, mereka telah meminta izin meski belum keluar karena kendala birokrasi. Namun, mereka salah dalam hal durasi waktu terbang yakni dua jam lebih atau melebihi ketentuan yang diizinkan [baca: Pesawat AS Bermanuver Mencurigakan di Bawean].
Pesawat tempur jenis Hornet mampu menjalankan fungsi pemburu maupun penyerang dengan cepat. Dengan kelebihan yang dimilikinya pesawat berdaya jelajah 3.670 kilometer ini sangat cocok untuk tugas pengawalan, pertempuran, mata-mata, maupun penyerangan malam hari.
Dengan spesifikasi yang dimilikinya, pesawat ini juga dapat menghindar jika terdeteksi musuh dan sebaliknya mampu menemukan target yang tidak terdeteksi sebelumnya. Pesawat produksi McDonnell Douglas ini juga mampu terbang kembali ke pangkalan meski terkena tembakan. Pesawat Hornet saat ini digunakan sejumlah negara sekutu AS seperti Kanada, Spanyol, Australia, dan Kuwait. Selain itu juga dimiliki Finlandia, Swiss, dan Malaysia.
Sedangkan pesawat tempur multiperan F-16 Fighting Falcon adalah pesawat paling banyak digunakan. Saat ini lebih dari 4.000 unit pesawat jenis ini menjadi alat pertahanan sejumlah negara. Seperti halnya F-15 Striking Eagle, F-16 juga mampu menahan gaya gravitasi melampaui daya tahan pilot yang menerbangkannya.
Pesawat produksi General Dynamics ini dapat digunakan untuk mengacau perlengkapan elektronik lawan dan sebaliknya mampu menahan upaya serupa dari pihak lawan. Generasi terbaru pesawat ini dilengkapi dengan radar yang mampu mendeteksi sasaran 30 persen lebih baik dalam jumlah lebih dari satu sekaligus. Pesawat berdaya jelajah 3.900 kilometer ini dioperasikan sejumlah negara seperti Indonesia, Mesir, Israel, Korea Selatan, Singapura dan negara-negara yang tergabung dalam negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)
Seperti diberitakan sebelumnya, lima pesawat tempur Hornet milik Angkatan Laut AS kepergok melintas di atas Pulau Bawean, Jawa Timur, dan dihadang dua pesawat F-16 milik Indonesia, Kamis silam. Kendati demikian, menurut Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Chappy Hakim mereka tak melanggar peraturan batas wilayah udara RI. Sebab, mereka telah meminta izin meski belum keluar karena kendala birokrasi. Namun, mereka salah dalam hal durasi waktu terbang yakni dua jam lebih atau melebihi ketentuan yang diizinkan [baca: Pesawat AS Bermanuver Mencurigakan di Bawean].
Pesawat tempur jenis Hornet mampu menjalankan fungsi pemburu maupun penyerang dengan cepat. Dengan kelebihan yang dimilikinya pesawat berdaya jelajah 3.670 kilometer ini sangat cocok untuk tugas pengawalan, pertempuran, mata-mata, maupun penyerangan malam hari.
Dengan spesifikasi yang dimilikinya, pesawat ini juga dapat menghindar jika terdeteksi musuh dan sebaliknya mampu menemukan target yang tidak terdeteksi sebelumnya. Pesawat produksi McDonnell Douglas ini juga mampu terbang kembali ke pangkalan meski terkena tembakan. Pesawat Hornet saat ini digunakan sejumlah negara sekutu AS seperti Kanada, Spanyol, Australia, dan Kuwait. Selain itu juga dimiliki Finlandia, Swiss, dan Malaysia.
Sedangkan pesawat tempur multiperan F-16 Fighting Falcon adalah pesawat paling banyak digunakan. Saat ini lebih dari 4.000 unit pesawat jenis ini menjadi alat pertahanan sejumlah negara. Seperti halnya F-15 Striking Eagle, F-16 juga mampu menahan gaya gravitasi melampaui daya tahan pilot yang menerbangkannya.
Pesawat produksi General Dynamics ini dapat digunakan untuk mengacau perlengkapan elektronik lawan dan sebaliknya mampu menahan upaya serupa dari pihak lawan. Generasi terbaru pesawat ini dilengkapi dengan radar yang mampu mendeteksi sasaran 30 persen lebih baik dalam jumlah lebih dari satu sekaligus. Pesawat berdaya jelajah 3.900 kilometer ini dioperasikan sejumlah negara seperti Indonesia, Mesir, Israel, Korea Selatan, Singapura dan negara-negara yang tergabung dalam negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)