Liputan6.com, Pidie: Ketegangan antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Nanggroe Aceh Darussalam, masih terus berlanjut. Pertempuran sengit yang mengorbankan jiwa pun terus terjadi di sejumlah daerah rawan konflik di Bumi Serambi Mekah. Satu di antaranya yang baru terjadi adalah di Kabupaten Pidie. Seorang anggota Brigade Mobil Bhayangkara Satu Ridwan Jakfar dilaporkan tewas di Desa Gemuruh, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie, NAD, Sabtu (5/7), sekitar pukul 11.00 WIB. "Anggota kami satu gugur," ujar Kepala Komado Operasi Penegakan Hukum Rencong-I/2003, Brigadir Jenderal Polisi Jonny Wainal Usman.
Johny mengatakan bahwa Bharatu Ridwan yang merupakan anggota Resimen III Pelopor Kelapa Dua ini ditembak hingga tewas oleh sejumlah anggota GAM ketika sedang mengamankan senjata AK-47. Padahal, bulan depan lajang berusia 23 tahun ini dijadwalkan akan kembali ke Jakarta bulan depan. Saat ini jenazah Ridwan yang telah bertugas selama hampir lima bulan di NAD, telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara di Lamteumen Barat, Banda Aceh. Rencananya jenazah akan dikebumikan di kampung halamannya di Ternate, Maluku Utara.
Korban jiwa tak hanya jatuh dari pihak Brimob. Dua nyawa anggota GAM juga ikut melayang. Dari insiden itu, polisi berhasil menyita dua pucuk senjata laras panjang jenis AK-47, satu unit handy talky, seragam Tentara Nasional Aceh, dan ransum.
Sebelumnya, anggota Resimen III Brimob Bharatu Sukandar juga tewas tertembak GAM saat terjadi baku tembak di Bireun, Aceh, pekan keempat April 2003. Jenazah kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya di Desa Tanjung, Pemengkasan, Madura, Jawa Timur [baca: Bharatu Sukandar Dimakamkan di Pamekasan].
Pada hari yang sama, mobil Toyota Kijang milik stasiun televisi swasta Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) tanpa awaknya ditemukan di Kawasan Peureulak, Aceh Timur, NAD. Mobil ini dan beserta tiga anggota Tim Liputan RCTI, yaitu reporter Ersa Siregar, juru kamera Feri Santoro, dan sopir Ratmasyah alias Punta, dikabarkan hilang sejak empat hari silam. Dan sejak itu, TNI yang berkoordinasi dengan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh dan seluruh jajaran di tingkat Komando Daerah Militer, Komando Rayon Militer, dan Bintara Pembina Desa membantu untuk menemukan wartawan RCTI yang hilang tersebut [baca: Tim Khusus Pencari Wartawan RCTI Dibentuk].
Panglima Komando Operasi Militer Brigadir Jenderal TNI Bambang Dharmono yang datang langsung memeriksa lokasi penemuan mengatakan, telah memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan daerah tersebut. Bambang juga memberikan ultimatum batas waktu hingga 8 Juli 2003 pada pukul 18.00 WIB kepada Ersa dan kawan-kawan, untuk kembali ke lokasi mobil RCTI ditemukan. "Saya memberikan jaminan keamanan sepenuhnya," tegas Bambang. Apabila peringatan tadi tak diindahkan, TNI dipastikan akan menyerang markas GAM di daerah tersebut.
Masih di Tanah Rencong, gara-gara konflik yang terjadi, kehidupan sosial dan ekonomi sebagian besar warga di sejumlah daerah di Aceh, seperti di Kecamatan Tangse, Pidie, terganggu dan tak menentu. Satu di antara kegiatan yang belakangan sudah tak berjalan lagi adalah pasar yang dilaksanakan setiap sepekan sekali. Hampir sebulan ini pasar mingguan itu sudah tak digelar lagi. Akibatnya, penduduk setempat harus bergantung dengan pedagang keliling dan muge (pedagang ikan keliling). Hal ini disebabkan operasi militer sering digelar untuk mengamankan anggota GAM. Sebab, kawasan itu dikenal sebagai basis gerakan GAM di daerah Pidie.
Meski pasar mingguan tersebut sudah berhenti digelar, kegiatan berladang di Tangse masih terus berjalan. Para petani tetap mengolah tanaman palawija, seperti pinang dan kopi untuk dipasarkan. Warga berharap ketegangan yang terjadi di daerah mereka segera berakhir. Sebab, jika wilayah tersebut terus terisolasi, hasil panen akan sia-sia karena tak bisa dipasarkan dengan baik.
Mengenai kondisi perekonomian di Aceh, berdasarkan data Badan Pusat Statistik selama Darurat Militer digelar, dari populasi penduduk NAD yang mencapai sekitar 4,1 juta jiwa, sebanyak 40 persen di antaranya atau sekitar 1,6 juta jiwa tergolong miskin. Padahal pada tahun silam, jumlah penduduk miskin hanya mencapai sekitar 1,4 juta jiwa [baca: Kondisi Kesehatan Pengungsi di Bireun Menurun].(LIA/Tim Liputan 6 SCTV)
Johny mengatakan bahwa Bharatu Ridwan yang merupakan anggota Resimen III Pelopor Kelapa Dua ini ditembak hingga tewas oleh sejumlah anggota GAM ketika sedang mengamankan senjata AK-47. Padahal, bulan depan lajang berusia 23 tahun ini dijadwalkan akan kembali ke Jakarta bulan depan. Saat ini jenazah Ridwan yang telah bertugas selama hampir lima bulan di NAD, telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara di Lamteumen Barat, Banda Aceh. Rencananya jenazah akan dikebumikan di kampung halamannya di Ternate, Maluku Utara.
Korban jiwa tak hanya jatuh dari pihak Brimob. Dua nyawa anggota GAM juga ikut melayang. Dari insiden itu, polisi berhasil menyita dua pucuk senjata laras panjang jenis AK-47, satu unit handy talky, seragam Tentara Nasional Aceh, dan ransum.
Sebelumnya, anggota Resimen III Brimob Bharatu Sukandar juga tewas tertembak GAM saat terjadi baku tembak di Bireun, Aceh, pekan keempat April 2003. Jenazah kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya di Desa Tanjung, Pemengkasan, Madura, Jawa Timur [baca: Bharatu Sukandar Dimakamkan di Pamekasan].
Pada hari yang sama, mobil Toyota Kijang milik stasiun televisi swasta Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) tanpa awaknya ditemukan di Kawasan Peureulak, Aceh Timur, NAD. Mobil ini dan beserta tiga anggota Tim Liputan RCTI, yaitu reporter Ersa Siregar, juru kamera Feri Santoro, dan sopir Ratmasyah alias Punta, dikabarkan hilang sejak empat hari silam. Dan sejak itu, TNI yang berkoordinasi dengan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh dan seluruh jajaran di tingkat Komando Daerah Militer, Komando Rayon Militer, dan Bintara Pembina Desa membantu untuk menemukan wartawan RCTI yang hilang tersebut [baca: Tim Khusus Pencari Wartawan RCTI Dibentuk].
Panglima Komando Operasi Militer Brigadir Jenderal TNI Bambang Dharmono yang datang langsung memeriksa lokasi penemuan mengatakan, telah memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan daerah tersebut. Bambang juga memberikan ultimatum batas waktu hingga 8 Juli 2003 pada pukul 18.00 WIB kepada Ersa dan kawan-kawan, untuk kembali ke lokasi mobil RCTI ditemukan. "Saya memberikan jaminan keamanan sepenuhnya," tegas Bambang. Apabila peringatan tadi tak diindahkan, TNI dipastikan akan menyerang markas GAM di daerah tersebut.
Masih di Tanah Rencong, gara-gara konflik yang terjadi, kehidupan sosial dan ekonomi sebagian besar warga di sejumlah daerah di Aceh, seperti di Kecamatan Tangse, Pidie, terganggu dan tak menentu. Satu di antara kegiatan yang belakangan sudah tak berjalan lagi adalah pasar yang dilaksanakan setiap sepekan sekali. Hampir sebulan ini pasar mingguan itu sudah tak digelar lagi. Akibatnya, penduduk setempat harus bergantung dengan pedagang keliling dan muge (pedagang ikan keliling). Hal ini disebabkan operasi militer sering digelar untuk mengamankan anggota GAM. Sebab, kawasan itu dikenal sebagai basis gerakan GAM di daerah Pidie.
Meski pasar mingguan tersebut sudah berhenti digelar, kegiatan berladang di Tangse masih terus berjalan. Para petani tetap mengolah tanaman palawija, seperti pinang dan kopi untuk dipasarkan. Warga berharap ketegangan yang terjadi di daerah mereka segera berakhir. Sebab, jika wilayah tersebut terus terisolasi, hasil panen akan sia-sia karena tak bisa dipasarkan dengan baik.
Mengenai kondisi perekonomian di Aceh, berdasarkan data Badan Pusat Statistik selama Darurat Militer digelar, dari populasi penduduk NAD yang mencapai sekitar 4,1 juta jiwa, sebanyak 40 persen di antaranya atau sekitar 1,6 juta jiwa tergolong miskin. Padahal pada tahun silam, jumlah penduduk miskin hanya mencapai sekitar 1,4 juta jiwa [baca: Kondisi Kesehatan Pengungsi di Bireun Menurun].(LIA/Tim Liputan 6 SCTV)