Liputan6.com, Aceh Utara: Sekitar 1.500-an warga Desa Alue Garut di Kecamatan Nisam, Aceh Utara, diperintahkan pasukan TNI untuk mengungsi, Rabu (2/7). Di antara ribuan orang itu, turut pula Nurul Fahmi, bayi berumur 25 hari. Bayi lelaki itu terlihat meraung-raung di pelukan ibunya. Bersama kedua orangtuanya yang bekerja sebagai petani, bayi yang kulitnya masih merah itu harus meninggalkan tempat tinggalnya. Aparat keamanan meminta warga setempat mengungsi ke daerah yang dianggap bebas dari anggota Gerakan Aceh Merdeka.
Sambil membawa sebagian barang yang dibungkus kain, ribuan penduduk desa berjalan kaki menempuh jarak 10 kilometer ke lokasi pengungsian sementara di Desa Aleu Papeun. Ini dikarenakan truk yang tersedia, tidak mampu membawa semua orang. Pengungsian ini adalah gelombang keempat dan diperkirakan 7.000-an warga telah mengosongkan desanya. Selanjutnya mereka akan ditempatkan di lokasi pengungsian Cot Meureung.
Di Banda Aceh, Tim Forensik Satuan Tugas Kesehatan yang dipimpin Ida Bagus Surya Putra menyimpulkan, empat kerangka manusia yang ditemukan di Desa Jambo Papan, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, adalah korban kekejaman GAM. Hasil ini diperoleh setelah dokter menemukan bekas tindak kekerasan dan luka di sejumlah bagian tubuh. Keempat kerangka yang dikubur dalam satu liang itu diidentifikasi sebagai Idrus, Muhammad Ali, Hasimi, dan Zulfahmi [baca: Kuburan Massal Ditemukan di Jambo Papan].
Mereka adalah warga Desa Krueng Kluet, Kecamatan Kluet Utara, yang diculik dan disiksa bersama puluhan warga lain karena menyandera enam pemimpin gerakan separatis wilayah Koto, 5 Juni 2001. "Kami meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia datang sendiri ke sini, jangan nuduh sembarangan. Lihat bagaimana kekejaman GAM," ujar Ridwan Toni, saksi mata yang menemukan kuburan itu. Setelah diperiksa sejenak di lokasi, empat kerangka warga sipil itu dikuburkan kembali.
Sejumlah saksi menuturkan, sekitar 500-an warga pernah ditangkap, 90 orang di antaranya disiksa, dan 30 penduduk akhirnya tewas mengenaskan. Di Desa Koto ditemukan beberapa kerangkeng yang menjadi ruang tahanan dan rumah aksi, tempat eksekusi bagi warga yang tak mau menuruti kemauan GAM. Saksi lain menyebutkan GAM menyiksa warga dengan cara ditarik dengan mobil atau disembelih. Penduduk juga dipaksa membuat perjanjian untuk tidak lagi menyandera anggota GAM.
Kemarin, Ketua Tim Ad Hoc Pemantau Perdamaian Aceh Komnas HAM M.M. Billah mengungkapkan, telah memperoleh informasi tentang kuburan massal di tiga titik di Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen. Namun informasi itu harus dicek lagi dalam kunjungan berikutnya. Menurut Billah, mayat-mayat itu dikuburkan di kolam yang sudah ditimbun, sebuah sumur, dan di hutan. Informasi tersebut diperoleh dari para saksi yang menyaksikan mayat-mayat itu dikuburkan. Saksi memperkirakan sekitar 7-8 jasad dikubur di kolam, lalu 7-8 mayat lain dimasukkan ke sumur atau tergeletak di hutan.(COK/Tim Liputan 6 SCTV)
Sambil membawa sebagian barang yang dibungkus kain, ribuan penduduk desa berjalan kaki menempuh jarak 10 kilometer ke lokasi pengungsian sementara di Desa Aleu Papeun. Ini dikarenakan truk yang tersedia, tidak mampu membawa semua orang. Pengungsian ini adalah gelombang keempat dan diperkirakan 7.000-an warga telah mengosongkan desanya. Selanjutnya mereka akan ditempatkan di lokasi pengungsian Cot Meureung.
Di Banda Aceh, Tim Forensik Satuan Tugas Kesehatan yang dipimpin Ida Bagus Surya Putra menyimpulkan, empat kerangka manusia yang ditemukan di Desa Jambo Papan, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, adalah korban kekejaman GAM. Hasil ini diperoleh setelah dokter menemukan bekas tindak kekerasan dan luka di sejumlah bagian tubuh. Keempat kerangka yang dikubur dalam satu liang itu diidentifikasi sebagai Idrus, Muhammad Ali, Hasimi, dan Zulfahmi [baca: Kuburan Massal Ditemukan di Jambo Papan].
Mereka adalah warga Desa Krueng Kluet, Kecamatan Kluet Utara, yang diculik dan disiksa bersama puluhan warga lain karena menyandera enam pemimpin gerakan separatis wilayah Koto, 5 Juni 2001. "Kami meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia datang sendiri ke sini, jangan nuduh sembarangan. Lihat bagaimana kekejaman GAM," ujar Ridwan Toni, saksi mata yang menemukan kuburan itu. Setelah diperiksa sejenak di lokasi, empat kerangka warga sipil itu dikuburkan kembali.
Sejumlah saksi menuturkan, sekitar 500-an warga pernah ditangkap, 90 orang di antaranya disiksa, dan 30 penduduk akhirnya tewas mengenaskan. Di Desa Koto ditemukan beberapa kerangkeng yang menjadi ruang tahanan dan rumah aksi, tempat eksekusi bagi warga yang tak mau menuruti kemauan GAM. Saksi lain menyebutkan GAM menyiksa warga dengan cara ditarik dengan mobil atau disembelih. Penduduk juga dipaksa membuat perjanjian untuk tidak lagi menyandera anggota GAM.
Kemarin, Ketua Tim Ad Hoc Pemantau Perdamaian Aceh Komnas HAM M.M. Billah mengungkapkan, telah memperoleh informasi tentang kuburan massal di tiga titik di Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen. Namun informasi itu harus dicek lagi dalam kunjungan berikutnya. Menurut Billah, mayat-mayat itu dikuburkan di kolam yang sudah ditimbun, sebuah sumur, dan di hutan. Informasi tersebut diperoleh dari para saksi yang menyaksikan mayat-mayat itu dikuburkan. Saksi memperkirakan sekitar 7-8 jasad dikubur di kolam, lalu 7-8 mayat lain dimasukkan ke sumur atau tergeletak di hutan.(COK/Tim Liputan 6 SCTV)