Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi mengungkapkan pemerintah harus mengejar setiap dolar Amerika Serikat (AS) dari potensi ekspor yang dimilikinya. Kerja keras ini diperlukan untuk menekan nilai defisit selama tiga bulan pertama 2013 yang mencapai US$ 67,5 juta.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor perdagangan periode Januari-Maret 2013 sebesar US$ 45,46 miliar atau lebih kecil dari nilai ekspor sebesar US$ 45,39 miliar.
"Setiap dolar AS kenaikan ekspor harus dikejar dan diusahakan. Contohnya saja peluang ke negara bagian Federasi Rusia, Tatarstan bisa dimanfaatkan untuk ekspor baju muslim," ungkapnya usai menggelar pertemuan dengan Presiden Tatarstan di Kantor Kementerian Perekonomian, Kamis (2/5/2013).
Menurut bayu, pasar ekspor ke Negeri Tatarstan terbuka lebar karena sebagian besar masyarakat beragama muslim dari total penduduk sekitar 3-4 juta jiwa.
"Dibandingkan dengan ekspor minyak, pengiriman baju muslim ke Tatarstan jumlahnya jauh lebih kecil. Tapi setiap kegiatan yang bisa kami lakukan untuk ekspor, ya kami realisasikan," ucapnya.
Dengan pertumbuhan PDB Tatarstan tahun 2011 sebesar 5,5%, Bayu menilai potensi pasar negara beribukota Kazan itu sangat menjanjikan. Tak heran bila pemerintah Indonesia tertarik pula menawarkan kerjasama lain di bidang jasa, termasuk konsultan dan arsitek atau desainer.
Dengan pendekatan ke salah satu negara bagian Federasi Rusia, dia berharap, Indonesia mempunyai peluang besar untuk terus memperkuat jalur pemasaran dengan negara Rusia.
Sekadar informasi, industrialisasi dan produksi Tatarstan mencakup 45% dari PDB negara tersebut. Pada tahun 2011, negara yang mengumumkan kedaulatannya pada tahun 1990 itu meraup PDB sebesar 1,415 miliar rubles atau setara dengan US$ 45 miliar.
Sedangkan neraca perdagangan luar negeri Tatarstan mencapai US$ 26 miliar dengan mitra dagang terbesar negara Jerman, Italia, Republik Ceko dan Polandia. (Fik/Shd)
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor perdagangan periode Januari-Maret 2013 sebesar US$ 45,46 miliar atau lebih kecil dari nilai ekspor sebesar US$ 45,39 miliar.
"Setiap dolar AS kenaikan ekspor harus dikejar dan diusahakan. Contohnya saja peluang ke negara bagian Federasi Rusia, Tatarstan bisa dimanfaatkan untuk ekspor baju muslim," ungkapnya usai menggelar pertemuan dengan Presiden Tatarstan di Kantor Kementerian Perekonomian, Kamis (2/5/2013).
Menurut bayu, pasar ekspor ke Negeri Tatarstan terbuka lebar karena sebagian besar masyarakat beragama muslim dari total penduduk sekitar 3-4 juta jiwa.
"Dibandingkan dengan ekspor minyak, pengiriman baju muslim ke Tatarstan jumlahnya jauh lebih kecil. Tapi setiap kegiatan yang bisa kami lakukan untuk ekspor, ya kami realisasikan," ucapnya.
Dengan pertumbuhan PDB Tatarstan tahun 2011 sebesar 5,5%, Bayu menilai potensi pasar negara beribukota Kazan itu sangat menjanjikan. Tak heran bila pemerintah Indonesia tertarik pula menawarkan kerjasama lain di bidang jasa, termasuk konsultan dan arsitek atau desainer.
Dengan pendekatan ke salah satu negara bagian Federasi Rusia, dia berharap, Indonesia mempunyai peluang besar untuk terus memperkuat jalur pemasaran dengan negara Rusia.
Sekadar informasi, industrialisasi dan produksi Tatarstan mencakup 45% dari PDB negara tersebut. Pada tahun 2011, negara yang mengumumkan kedaulatannya pada tahun 1990 itu meraup PDB sebesar 1,415 miliar rubles atau setara dengan US$ 45 miliar.
Sedangkan neraca perdagangan luar negeri Tatarstan mencapai US$ 26 miliar dengan mitra dagang terbesar negara Jerman, Italia, Republik Ceko dan Polandia. (Fik/Shd)