Gula di Daerah Perbatasan Langka, Mendag Janji Kasih Solusi

Ketidakmerataan distribusi komoditas gula di perbatasan langsung mendapatkan tanggapan Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 April 2013, 09:58 WIB

Ketidakmerataan distribusi komoditas gula di perbatasan langsung mendapatkan tanggapan Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan. Dia memastikan pemerintah sedang mempelajari solusi untuk mengatasi kelangkaan gula tersebut.

Dia mengatakan sejumlah perusahaan yang telah memperoleh izin importasi dipastikan akan mengalokasikan komoditas gulanya untuk digelontorkan ke perbatasan.

"Sudah ada beberapa perusahaan yang mendapatkan alokasi. Kita lagi komunikasikan dengan mereka bagaimana itu bisa dimaksimalkan. Bukan hanya untuk kepentingan impor seperti biasanya. Tetapi untuk dialokasikan untuk kepentingan perbatasan," jelas Gita di acara lomba bulu tangkis di Senayang Senin malam seperti ditulis Selasa (30/4/2013).

Menurut dia, kebutuhan gula dengan alokasi impor yang diberikan saat ini tengah dikalkulasi agar terjadi kesetimbangan antara pasokan dan permintaan.

Distribusi gula untuk perbatasan yang terbilang kacau diakui Gita karena mahalnya biaya kirim dari sentra produksi gula lokal ke daerah perbatasan. Mahalnya biasa logistik gula juga akibat buruknya infrastruktur ke daerah perbatasan. "Ya, betul. Kalau impor lebih murah," lanjut dia.

Ketika dikonfirmasi langkah pemerintah untuk mengatasi persolaan tersebut, Gita menuturkan pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki infrastruktur untuk menekan biaya logistik pengiriman gula.

"Tapi ini sudah membaik. Ke depan kita bisa mengurangi biaya," tukas Gita.

Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) sebelumnya mempertanyakan tanggung jawab pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Kementerian Koordinator Perekonomian atas carut marut pengadaan dan distribusi gula di daerah perbatasan Indonesia.

Permintaan ini karena ke-3 Kementerian itu dinilai tidak kunjung menanggapi permasalahan gula konsumsi di perbatasan dan selalu saling lempar tanggung jawab sehingga menimbulkan dampak yang serius.

Ketua Apegti Natsir Mansyur mengatakan, produksi gula konsumsi di Jawa hanya 2,1-2,3 juta per tahun, sementara konsumsi gula nasional mencapai  2,9  juta ton per tahun.

"Melihat produksi gula konsumsi hanya dapat diserap konsumen di Jawa, bagaimana dengan konsumen di perbatasan," ujar dia.

Natsir mengungkapkan, sudah setahun belakangan masyarakat perbatasan tidak mendapat distribusi gula dengan baik, padahal masyarakat di perbatasan bangsa Indonesia juga. Menurut dia disparitas harga gula antara Jawa dan daerah perbatasan begitu tinggi.

"Harga gula konsumsi dari negara tetangga sekitar Rp. 10 ribu per kilogram (kg). Sementara harga gula dari Jawa mencapai Rp. 13 ribu per kg dan itu pun sudah mahal sulit didapatkan pula," tuturnya. (Est/Nur)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya