Media iklan di stasiun televisi masih menjadi pilihan perusahaan untuk memperkenalkan produk barunya ke masyarakat. Catatan lembaga survei Nielsen Indonesia menunjukan belanja iklan media di tanah air mengalami pertumbuhan 20% dengan nilai Rp 87 triliun.
Dari porsi itu, media televisi masih mendominasi 64% dari total belanja iklan, diikuti surat kabar 33%, dan majalan/tabloid 3%.
Data Nielsen juga menunjukan pertumbuhan belanja iklan yang tinggi di media televisi sepanjang 2012 didorong oleh sektor konsumer, terutama produk makanan ringan yang mengalami kenaikan 59%, produk perawatan rambut 34%, dan produk perawatan wajah 24%.
"Iklan memang sengaja dibedakan untuk menarik perhatian khalayak di tengah "rimba iklan". Tentu banyak caranya. Bila sempat melihat yang "konyol", barangkali itulah caranya menarik perhatian yang dipilih oleh pengiklan atau agency-nya," kata Direktur Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), Sutedjo Hadiwasito, dalam pesan elektroniknya kepada Liputan6.com, Senin (29/4/2013).
Sutedjo menilai, cara konyol yang dilakukan pengiklan dalam mempromosikan produknya, baru sebatas menarik perhatian masyarakat.
"Menarik, melekat di benak, namun tidak relevan dengan mereknya, ya mungkin hanya "berhenti" sampai disitu," tegasnya.
Dari penelusuran Liputan6.com, berikut adalah iklan-iklan yang bisa masuk kategori konyol namun mudah dicerna dan diingat masyarakat:
1. Orea: "Dicelup, Dijilat, Dicelupin"
Produk makanan ringan biskuit dari Kraft, Orea mungkin menjadi salah satu yang paling konsisten dalam menyampaikan pesannya kepada masyarakat. Dengan tagline cukup sederhana dengan kalimat Dicelup, Dijilat, Dicelupin, Orea tampaknya berhasil menanamkan awareness khususnya bagi penonton televisi.
2. Antangin: "Wes ewes-ewes, bablas angine”
Managing Director PT Deltomed Laboratories, Mulyo Rahardjo, dalam artikelnya di harian kontan sekitar September 2010, mengaku melakukan pertaruhan besar ketika memutuskan membuat iklan Antangin pada masa krisis finansial Asia sekitar 1998. Dengan menunjuk (Alm) Basuki sebagi Brand Ambassador, Antangin hadir dengan tagline-nya "Wes ewes-ewes, bablas angine”.
Pertaruhan besar itu berakhir sukses. Penjualan produk Antangin ditengan rimba produk jamu yang umumnya berupa bubur, melonjak tajam.
3. Maspion: "Cintailah Ploduk-ploduk Indonesia"
Penyanyi senior Titiek Puspa hingga ketua DPR RI, Marzuki Alie pernah menjadi bintang iklan produk alat masak Uchida dari Maspion. Bersama sang pemilik, Alim Markus, kedua bintang tamu iklan ini menutup promosi dari sebuah tayangan iklan produk alat produk Maspion dengan tagline, "Cintailan Ploduk-ploduk Indonesia,"
Segelintir pihak menilai, pendekatan yang dilakukan Uchida ini termasuk kuno. Namun sesungguhnya ide kreatif dari iklan tersebut keluar dari pakem yang sudah ada.
Jika Anda mencoba melakukan pencairan lewat google (googling) dengan masukan kalimat Cintailah ploduk-ploduk Indonesia, akan muncul hasil sebanyak 8.060 pencarian.
4. Sosis So Nice: "Langsung Lep"
Produsen makanan daging So Nice, PT So Good Food mungkin merupakan perusahaan yang banyak menggunakan artis yang tengah naik daun. Tak hanya kalangan selebritis, tokoh di luar dunia hiburan juga bisa menjadi bintang iklan dari produk ini.
Masih ingat dengan Sinta-Jojo yang tenar lewat lipsinc lagu di media sosial Youtube. Atau boyband lokal Sm*sh yang kini menjadi idola para remaja. Belum lagi artis senior yang kini menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedy Mizwar. Para artis ini pernah atau masih menjadi bintang iklan dari produk So Nice.
5. Sampoerna Hijau: "Gak Ada Loe Gak Rame,"
Untuk urusan tagline dengan pesan terselubung, mungkin produsen rokok adalah jagonya. Maklum, produsen tak boleh mempromosikan produknya secara terang-terangan kepada masyarakat.
Satu diantara sekian tagline rokok yang menarik perhatian adalah Sampoerna Hijau. Dengan jargon Ijo, Ijo, Ijo, produk tembakau ini bisa menancapkan awarenessnya di masyarakat.
Dari penelusuran Liputan6, Sampoerna Hijau sebetulnya telah memiliki sekitar empat tagline. Dimulai dari Asyiknya Rame Rame pada 2001-2004, berlangsung menjadi Yang Asyik Tambah Asyik (2005), Gak ada Loe Gak rame (2005-2009) dan terakhir Teman yang Asyik (2011-sekarang).
"Jargon-jargon kretif, biasanya merupakan rangkuman dari keunggulan sebuah produk atau merek, namun bisa juga merupakan rangkuman dari siapa yang dituju (sasarannya)," kata Sutedjo. (Shd)
Dari porsi itu, media televisi masih mendominasi 64% dari total belanja iklan, diikuti surat kabar 33%, dan majalan/tabloid 3%.
Data Nielsen juga menunjukan pertumbuhan belanja iklan yang tinggi di media televisi sepanjang 2012 didorong oleh sektor konsumer, terutama produk makanan ringan yang mengalami kenaikan 59%, produk perawatan rambut 34%, dan produk perawatan wajah 24%.
"Iklan memang sengaja dibedakan untuk menarik perhatian khalayak di tengah "rimba iklan". Tentu banyak caranya. Bila sempat melihat yang "konyol", barangkali itulah caranya menarik perhatian yang dipilih oleh pengiklan atau agency-nya," kata Direktur Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), Sutedjo Hadiwasito, dalam pesan elektroniknya kepada Liputan6.com, Senin (29/4/2013).
Sutedjo menilai, cara konyol yang dilakukan pengiklan dalam mempromosikan produknya, baru sebatas menarik perhatian masyarakat.
"Menarik, melekat di benak, namun tidak relevan dengan mereknya, ya mungkin hanya "berhenti" sampai disitu," tegasnya.
Dari penelusuran Liputan6.com, berikut adalah iklan-iklan yang bisa masuk kategori konyol namun mudah dicerna dan diingat masyarakat:
1. Orea: "Dicelup, Dijilat, Dicelupin"
Produk makanan ringan biskuit dari Kraft, Orea mungkin menjadi salah satu yang paling konsisten dalam menyampaikan pesannya kepada masyarakat. Dengan tagline cukup sederhana dengan kalimat Dicelup, Dijilat, Dicelupin, Orea tampaknya berhasil menanamkan awareness khususnya bagi penonton televisi.
2. Antangin: "Wes ewes-ewes, bablas angine”
Managing Director PT Deltomed Laboratories, Mulyo Rahardjo, dalam artikelnya di harian kontan sekitar September 2010, mengaku melakukan pertaruhan besar ketika memutuskan membuat iklan Antangin pada masa krisis finansial Asia sekitar 1998. Dengan menunjuk (Alm) Basuki sebagi Brand Ambassador, Antangin hadir dengan tagline-nya "Wes ewes-ewes, bablas angine”.
Pertaruhan besar itu berakhir sukses. Penjualan produk Antangin ditengan rimba produk jamu yang umumnya berupa bubur, melonjak tajam.
3. Maspion: "Cintailah Ploduk-ploduk Indonesia"
Penyanyi senior Titiek Puspa hingga ketua DPR RI, Marzuki Alie pernah menjadi bintang iklan produk alat masak Uchida dari Maspion. Bersama sang pemilik, Alim Markus, kedua bintang tamu iklan ini menutup promosi dari sebuah tayangan iklan produk alat produk Maspion dengan tagline, "Cintailan Ploduk-ploduk Indonesia,"
Segelintir pihak menilai, pendekatan yang dilakukan Uchida ini termasuk kuno. Namun sesungguhnya ide kreatif dari iklan tersebut keluar dari pakem yang sudah ada.
Jika Anda mencoba melakukan pencairan lewat google (googling) dengan masukan kalimat Cintailah ploduk-ploduk Indonesia, akan muncul hasil sebanyak 8.060 pencarian.
4. Sosis So Nice: "Langsung Lep"
Produsen makanan daging So Nice, PT So Good Food mungkin merupakan perusahaan yang banyak menggunakan artis yang tengah naik daun. Tak hanya kalangan selebritis, tokoh di luar dunia hiburan juga bisa menjadi bintang iklan dari produk ini.
Masih ingat dengan Sinta-Jojo yang tenar lewat lipsinc lagu di media sosial Youtube. Atau boyband lokal Sm*sh yang kini menjadi idola para remaja. Belum lagi artis senior yang kini menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedy Mizwar. Para artis ini pernah atau masih menjadi bintang iklan dari produk So Nice.
5. Sampoerna Hijau: "Gak Ada Loe Gak Rame,"
Untuk urusan tagline dengan pesan terselubung, mungkin produsen rokok adalah jagonya. Maklum, produsen tak boleh mempromosikan produknya secara terang-terangan kepada masyarakat.
Satu diantara sekian tagline rokok yang menarik perhatian adalah Sampoerna Hijau. Dengan jargon Ijo, Ijo, Ijo, produk tembakau ini bisa menancapkan awarenessnya di masyarakat.
Dari penelusuran Liputan6, Sampoerna Hijau sebetulnya telah memiliki sekitar empat tagline. Dimulai dari Asyiknya Rame Rame pada 2001-2004, berlangsung menjadi Yang Asyik Tambah Asyik (2005), Gak ada Loe Gak rame (2005-2009) dan terakhir Teman yang Asyik (2011-sekarang).
"Jargon-jargon kretif, biasanya merupakan rangkuman dari keunggulan sebuah produk atau merek, namun bisa juga merupakan rangkuman dari siapa yang dituju (sasarannya)," kata Sutedjo. (Shd)