Penyanyi, Atlet, Seniman Lebih Cepat Mati Dibanding Profesi Lain

Penelitian menunjukkan orang terkenal yang bekerja sebagai penyanyi, atlet, dan seniman kreatif cenderung cepat meninggal dibanding profesional, akademik, agama, bisnis, militer, dan politik.

oleh Liputan6Diterbitkan 19 April 2013, 16:43 WIB
Menurut penelitian terbaru, ketenaran dan prestasi membawa Anda lebih tinggi, dari segi karir dan uang. Tapi, menjadi terkenal juga bisa meninggal lebih cepat.

Peneliti Australia yang dilacak New York Times Obituaries (bagian penulisan tentang meninggalnya orang-orang terkenal) menemukan tokoh olahraga dan artis terkenal dalam bidang seni cenderung meninggal lebih awal dibanding profesi lain.

Temuan yang dipublikasikan secara online di QJM: An International Journal of Medicine, berdasar pada analisis dari 1000 artikel obituaries (2009-2011).

Para peneliti, yaitu Richard dan Catherine Epstein bersama Clinical Informatics & Research Centre di The Kinghorn Cancer Centre di Sydney, melacak jenis kelamin seseorang, usia, pekerjaan, serta penyebab kematian.

Peneliti memisahkannya menjadi empat kategori pekerjaan besar: pemain dan tokoh olahraga (aktor, penyanyi, musisi, penari, dan atlet), seniman kreatif (penulis, komposer, dan senimal visual), bisnis, militer, dan pemimpin politik, serta profesional, akademik, dan tokoh agama.

Hasil penelitian menunjukkan orang terkenal yang bekerja sebagai penyanyi, atlet, dan seniman kreatif cenderung cepat meninggal dibanding profesional, akademik, agama, bisnis, militer, dan politik.

Peneliti mencatat, cepatnya meninggal berkaitan dengan kecelakaan, infeksi (termasuk HIV), serta kanker tertentu (kanker paru-paru, kemungkinan besar karena penggunaan tembakau).

Secara umum, kematian disebabkan kanker lebih sering dialami pemain (27 persen) dan pekerja kreatif (29 persen). Dan yang tidak terlalu sering pada profesional serta akademik (20,4 persen). Dilanjut dengan atlet (18 persen).

Kematian akibat kanker paru-paru paling umum pada orang yang karirnya berbasis kinerja (7,2 persen). Dan umumnya paling sedikit di kalangan profesional serta akademik (1,4 persen).

"Sebuah analisis retrospective (tinjauan dari masa lalu/perkembangan karya seniman dalam periode tertentu) tidak bisa membuktikan apa-apa. Tapi, menimbulkan beberapa pertanyaan menarik," kata para peneliti, yang dikutip dari News Max Health, Jumat (19/4/2013).

"Pertama, jika pemain yang sukses dan atlet cenderung memiliki hidup singkat, berarti ketenaran di usia muda memengaruhi buruknya perilaku kesehatan setelah ketenaran memudar? Atau psikologi dan tekanan keluarga yang mendukung prestasi publik tinggi cenderung merusak diri sepanjang hidup?"

Para peneliti juga menyarankan temuan ini bisa membuktikan bahwa ketenaran mungkin merupakan risiko yang tidak hanya memaksimalkan peluang sukses, tapi juga membahayakan diri.

Ada juga kemungkinan bahwa selebriti meningkatkan kemungkinan penggunaan tembakau, alkohol, dan obat-obatan terlarang.

"Semua hipotesis bisa dilihat sebagai peringatan kesehatan bagi anak muda yang bercita-cita menjadi bintang," kata para peneliti. (Zul/Abd)

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya