Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah Indonesia tak bisa memenuhi permintaan Committee to Protect Journalist (CPJ) atau Komite Perlindungan Wartawan--yang bermarkas di New York, Amerika Serikat--untuk melindungi wartawan asal AS William Nessen yang dikabarkan berada di wilayah konsentrasi kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka di Kecamatan Nisam, Kabupaten Aceh Utara. Sebab, Operasi Terpadu tetap harus berjalan. "Jadi bukan karena wartawan sedang bersama GAM, operasi tak jadi digelar," kata Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, Kamis (12/6).
Susilo juga mengatakan, pemerintah tak mengetahui secara persis posisi Nessen. Menurut Susilo, masalah ini tergantung dari wartawan yang bersangkutan. "Kalau dia mau meninggalkan kebersamaannya dengan GAM dan melaporkannya ke Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh, tentu akan kita lindungi," kata Menko Polkam. Dia juga meminta GAM tidak menjadikan wartawan sebagai tameng hidup. "Ini akan menyulitkan situasi," kata Susilo.
Kemarin, CPJ mengirimkan surat kepada Presiden Megawati Soekarnoputri tertanggal 10 Juni 2003. CPJ meminta agar Nessen mendapat jaminan keselamatan dari TNI. Mereka juga meminta pemerintah mengambil tindakan yang membantu Nessen keluar dari Aceh.
Komandan Satuan Tugas Penerangan Kolonel TNI Ditya Sudarsono mengatakan bahwa Messen tak memiliki izin buat masuk ke Aceh. "Dia masuk tanpa seizin Penguasa Darurat Militer. Sebenarnya kita menolak pun bisa. Tolong tunjukkan keberadaan dia. Apa betul dia ditangkap GAM atau malah dia memerangkapkan diri kepada GAM," kata Dansatgaspen.
Saat ini, TNI dan Polri di Aceh tengah mengumpulkan data-data soal keberadaan Nessen. Wartawan freelance ini adalah teman dekat Irwandi, anggota GAM yang ditangkap polisi, akhir Mei silam di sebuah rumah di Jalan Otista III Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Irwandi menempati rumah itu bersama Nessen [baca: Pemasok Bahan Peledak GAM Ditangkap di Jonggol].
Nessen dikenal sebagai wartawan AS yang sudah bertahun-tahun meliput di Aceh. Dia menjadi kontributor untuk The Boston Globe, The Sydney Morning Herald, dan koran Inggris The Independent. Wartawan asing yang belum diketahui keberadaanya ini dikenal memiliki jaringan kuat dengan GAM berkaitan dengan tugas jurnalistiknya. Nessen memperistri seorang wanita Aceh bernama Shadia Marhadan yang kini tinggal di AS.(SID/Mla dan Muhammad Kemal)
Susilo juga mengatakan, pemerintah tak mengetahui secara persis posisi Nessen. Menurut Susilo, masalah ini tergantung dari wartawan yang bersangkutan. "Kalau dia mau meninggalkan kebersamaannya dengan GAM dan melaporkannya ke Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh, tentu akan kita lindungi," kata Menko Polkam. Dia juga meminta GAM tidak menjadikan wartawan sebagai tameng hidup. "Ini akan menyulitkan situasi," kata Susilo.
Kemarin, CPJ mengirimkan surat kepada Presiden Megawati Soekarnoputri tertanggal 10 Juni 2003. CPJ meminta agar Nessen mendapat jaminan keselamatan dari TNI. Mereka juga meminta pemerintah mengambil tindakan yang membantu Nessen keluar dari Aceh.
Komandan Satuan Tugas Penerangan Kolonel TNI Ditya Sudarsono mengatakan bahwa Messen tak memiliki izin buat masuk ke Aceh. "Dia masuk tanpa seizin Penguasa Darurat Militer. Sebenarnya kita menolak pun bisa. Tolong tunjukkan keberadaan dia. Apa betul dia ditangkap GAM atau malah dia memerangkapkan diri kepada GAM," kata Dansatgaspen.
Saat ini, TNI dan Polri di Aceh tengah mengumpulkan data-data soal keberadaan Nessen. Wartawan freelance ini adalah teman dekat Irwandi, anggota GAM yang ditangkap polisi, akhir Mei silam di sebuah rumah di Jalan Otista III Cipinang Cempedak, Jakarta Timur. Irwandi menempati rumah itu bersama Nessen [baca: Pemasok Bahan Peledak GAM Ditangkap di Jonggol].
Nessen dikenal sebagai wartawan AS yang sudah bertahun-tahun meliput di Aceh. Dia menjadi kontributor untuk The Boston Globe, The Sydney Morning Herald, dan koran Inggris The Independent. Wartawan asing yang belum diketahui keberadaanya ini dikenal memiliki jaringan kuat dengan GAM berkaitan dengan tugas jurnalistiknya. Nessen memperistri seorang wanita Aceh bernama Shadia Marhadan yang kini tinggal di AS.(SID/Mla dan Muhammad Kemal)