Pemilu Satu Putaran, Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi Sekitar 5%

Chief Economist Citi Indonesia, Helmi Arman memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai kisaran 5% di tahun ini.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 03 April 2024, 12:45 WIB
Suasana gedung perkantoran di Jakarta, Sabtu (17/10/2020). International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi minus 1,5 persen pada Oktober, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya pada Juni sebesar minus 0,3 persen. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Chief Economist Citi Indonesia, Helmi Arman memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai kisaran 5% di tahun ini.

Perkiraan tersebut didorong oleh penyelesaian Pemilihan Umum (Pemilu) dalam satu putaran.

"Terlebih kalau kita lihat manifesto Presiden terpilih mengedepankan keberlanjutan berbagai kebijakan pemerintahan pak Jokowi. Ini membuka jalan untuk percepatan pemulihan stimulus investasi sektor swasta," kata Helmi dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/4/2024).

"Dengan penyelesaian pemilu satu putaran, di satu sisi stimulus berupa belanja kampanye berakhir lebih cepat dibandingkan dengan apabila pemilu dijalankan dalam dua putaran. Ketidakpastian politik juga berakhir dengan lebih cepat karena satu putaran," paparnya.

Industri Manufaktur

Dia menilai, industri manufaktur, terutama logam dasar menjadi sektor pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, karena nilai tambah dari sektor tersebut terus meningkat setiap tahunnya.

"Selama 1-2 tahun terakhir value added sudah mulai meningkat ke logam yang kandungan nikelnya lebih tinggi seperti produk nikel sulfat dan nikel matte," jelas Helmi.

Selain manufaktur, sektor energi intensif seperti pulp and paper juga diperkirakan akan menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi.

 

Sektor Konstruksi

Pemandangan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (5/4/2022). Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 menjadi 5,1 persen pada April 2022, dari perkiraan sebelumnya 5,2 persen pada Oktober 2021. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Helmi menyoroti, ekspor RI untuk produk yang energi intensif seperti pulp and paper telah meningkat signifikan sejak perang Rusia-Ukraina pecah, yang menyebabkan produksi di Eropa banyak yang tutup, sehingga banyak negara beralih membeli ke pasar lain termasuk Indonesia.

Adapun sektor konstruksi yang juga diperkirakan tumbuh positif tahun ini karena adanya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

"Dengan turunnya ketidakpastian politik, sektor properti bisa lebih menggeliat. Jadi ini juga seharusnya bisa menopang sektor konstruksi," imbuhnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya