Mantan CTO Coinbase Sebut Bitcoin Jadi Revolusi Politik Dunia, Kenapa?

Mantan Chief Technology Officer (CTO) Coinbase, Balaji Srinivasan menilai Bitcoin menjadi dalah satu 'revolusi politik'. Dia mengatakan cryptocurrency paling populer ini bisa terlepas dari kepentingan suatu negara.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 05 Maret 2024, 06:00 WIB
Ilustrasi Kripto. Mantan Chief Technology Officer (CTO) Coinbase, Balaji Srinivasan menilai Bitcoin menjadi dalah satu 'revolusi politik'. Dia mengatakan cryptocurrency paling populer ini bisa terlepas dari kepentingan suatu negara. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta Mantan Chief Technology Officer (CTO) Coinbase, Balaji Srinivasan menilai Bitcoin menjadi dalah satu 'revolusi politik'. Dia mengatakan cryptocurrency paling populer ini bisa terlepas dari kepentingan suatu negara.

Hal itu disebut berbeda dengan mata uang yang saat ini digunakan. Srinivasan merinci dengan mendobrak cara memanipulasi penerbitan uang dan cara pemerintah untuk menyita kekayaan yang ada, Bitcoin akan memungkinkan setiap warga negara untuk membangun jaringan sukarela yang terlepas dari kepentingan negaranya.

"Ini (Bitcoin) memungkinkan orang-orang bebas untuk memutuskan dari awal kolektif apa yang ingin mereka bentuk, barang publik apa yang ingin mereka crowdfund, dan apa yang ingin mereka lakukan bersama secara sukarela sebagai sebuah masyarakat," ujar Srinivasan, dikutip dari Bitcoin.com, Selasa (5/3/2024).

Lebih lanjut, dia mengatakan Bitcoin akan membagi negara menjadi dua pihak; negara yang mengadopsi Bitcoin lebih awal, seperti El Salvador dan Bhutan, dan negara yang gagal memastikan relevansi dan signifikansi proposalnya.

Hal ini, tegas Srinivasan, akan menyebabkan pihak kedua menyerang mata uang kripto, dengan beralih pada pandangan mereka sebelumnya.

Dia menjelaskan bahwa negara-negara ini akan “bertanya-tanya apakah Bitcoin memiliki kegunaan, hingga menyebutnya terlalu kuat untuk diserahkan kepada masyarakat. Dan kemudian upaya penyitaan akan dimulai,".

Investor India-Amerika tersebut sebelumnya telah berkomentar tentang relevansi Bitcoin. Dia mengatakan sanksi dana yang diperdagangkan di bursa bitcoin (ETF) pada bulan Januari setara dengan pembalikan Perintah Eksekutif 6102, yang menyita emas dari warga AS pada tahun 1935.

 

Nilai Aset Tembus Rp 1 Miliar, Pemegang Bitcoin Jadi Miliarder Dadakan

Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Sebelumnya, pergerakan nilai Bitcoin kembali memecahkan rekor. Tercatat, pada awal pekan ini nilai aset Bitcoin tembus hingga setara Rp 1 miliar. Kondisi ini memacu para pemegang Bitcoin disebut menjadi miliarder anyar.

CEO Indodax Oscar Darmawan mengatakan kondisi ini menandakan jika halving day semakin dekat. Nilai saat ini disebut menjadi nilai tertinggi sejak November 2021 lalu.

“Pencapaian harga Bitcoin ini merupakan momen historikal bagi industri kripto. Harga ini tertinggi sejak November 2021. Kenaikan harga ini diiringi dengan lonjakan minat investor dan memicu lahirnya generasi baru "OKB" (Orang Kaya Baru) di dunia kripto karena mereka mendadak jadi miliarder,” ucap Oscar dalam keterangannya, Senin (4/3/2024).

Oscar juga mengatakan kenaikan ini menunjukkan kripto semakin diterima sebagai aset investasi yang memiliki potensi keuntungan yang besar. Dia memprediksi pula halving Bitcoin akan terjadi dalam waktu dekat.

“Menurut aplikasi INDODAX, halving Bitcoin akan terjadi sekitar 42 hari lagi. Kemungkinan, di tahun ini kenaikan harganya bisa mencapai dua kali lipat maupun lebih dari halving sebelumnya. Saat ini saja, harga Bitcoin sudah menyentuh Rp 1 miliar. Angka tersebut bahkan menembus angka ATH Bitcoin pada November 2021, yaitu Rp 978 juta,” ucap Oscar.

Oscar Darmawan juga menjelaskan jika INDODAX sendiri sudah mengalami halving tiga kali dan tahun ini adalah yang ke empat.

“Saya percaya bahwa halving day dikenal dengan adanya kenaikan harga. Hal ini disebabkan oleh terganggunya pasokan Bitcoin, yang mengakibatkan peningkatan permintaan dan membuat harga naik. Terlebih lagi, saat ini terdapat fenomena 'fear of missing out' yang diyakini memperkuat harga Bitcoin. Meskipun harga Bitcoin naik, pada saat halving akan ada penyesuaian harga," ucap Oscar Darmawan.

 

 

Dipengaruhi Suku Bunga AS

Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Lebih lanjut, dia menuturkan, kenaikan harga Bitcoin turut dipengaruhi oleh tingkat suku bunga Amerika Serikat. Prediksinya, Bank Sentral AS atau The FED menurunkan suku bunga dan perkiraannya hingga 75 basis points.

“Karena adanya konflik geopolitik yang mengganggu aktivitas perdagangan global, menyebabkan rantai pasokan global terganggu. Hal ini membuat biaya dan waktu indeks delivery pasokan global melemah dari 50,1 pada akhir 2023, saat ini menjadi 48,9. Maka dari itu, hal tersebut membuat investor berbondong-bondong berinvestasi di Bitcoin,” kata Oscar.

Menurutnya, kenaikan Bitcoin ini biasanya akan diikuti oleh kenaikan altcoin, salah satu contohnya Ethereum, seperti di halving-halving sebelumnya. Hal ini menyebabkan munculnya altcoin seasons.

“Dengan meningkatnya nilai BTC menjelang periode halving, kemungkinan sebagian investor yang berkeinginan berinvestasi tetapi biayanya terbatas, cenderung akan beralih untuk membeli altcoin yang harganya lebih terjangkau. Akibatnya, terjadi peningkatan permintaan terhadap altcoin dan harga mereka ikut meningkat. Maka dari itu, para investor dapat memanfaatkan juga kesempatan ini untuk menambah keuntungannya,” urainya.

 

INFOGRAFIS: 10 Mata Uang Kripto dengan Valuasi Terbesar (Liputan6.com / Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya