Liputan6.com, Jakarta Calon presiden Ganjar Pranowo dan calon wakil presiden Mahfud MD menghadiri acara Dialog Terbuka Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Ciputat, Tangerang, Banten, Kamis (23/11/2023).
Meski dibalut dengan serius, ada momen di mana Ganjar dan Mahfud ternyata akrab dengan Muhammadiyah. Misalnya saja saat Sekertaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mencoba mencari arti nama Ganjar, yang diawalnya tak ditemukan dalam bahasa Arab.
Advertisement
"Saya ketemu nama Ganjar justru di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang artinya hadiah, yang artinya berkah, pahala. Sehingga kalau beliau ditakdirkan Allah menjadi presiden, beliau hadiah dan berkah bagi Indonesia," kata Mu'ti yang disambut meriah.
Kemudian, tak luput dari nama Mahfud MD. Justru kebalikannya, bahwa nama ini tak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tapi di Bahasa Arab.
"Kalau pak Mahfud ini sesuai namanya, artinya terjaga, terpelihara," tuturnya.
Senada, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyambut kedua calon ini hadir dalam acaranya. Bahkan, disebutkan kedua sosok ini sangat lekat dengan Muhammadiyah bahkan acap kali berkomunikasi.
"Sudah sangat lengkat, karena banyak bersilahturahmi, berkomunikasi, dan berinteraksi selama ini," kata dia.
Bahas soal Kemiskinan
Calon presiden (capres) Ganjar Pranowo disinggung kemampuannya dalam memberantas kemiskinan, khususnya saat menjadi Gubernur Jawa Tengah (Jateng) dua periode.
Ganjar Pranowo mengaku terbentur data utuh dari pusat, sehingga tidak bisa mengeksekusi sesuai dengan keinginannya.
"Pak, penanganan kemiskinan itu yang penting satu datanya dulu. 'Pak Ganjar enggak berhasil', mari kita hitung diperbandingkan dengan seluruh angka provinsi, Pak. Dengan jumlah penduduk yang lebih besar berapa penurunan di antaranya," tutur Ganjar dalam acara Dialog Terbuka Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Ciputat, Tangerang, Banten, Kamis (23/11/2023).
Ganjar menyebut, untuk kemiskinan ekstrem sendiri masuk dalam desil 1. Cara penanganannya pun juga memerlukan data pasti, baik jumlah dan keberadaan orangnya.
"Dan ini diambil oleh negara. Mau pake BLT boleh, mau jaminan sesuatu boleh. Maka kalau data satu Indonesianya tepat Pak, maka sinkronisasi akan terjadi. Satu ketika terjadi, 'Ah Pak Ganjar juga sudah enggak bisa', betul. Maka pada saat itu saya sampaikan kepada pusat, pada rapat dengan Wapres semuanya, 'Pak kalau datanya begini enggak beres Pak, boleh enggak data saya ambil alih?', 'oh tidak bisa'," ucap dia.
"Maka permintaan perbaikan data angka kemiskinan Pak, dikoreksi, diminta kades memperbaiki, diberikan pada kabupaten, kami verifikasi faktual dan diberikan kepada pusat. Apa yang akan terjadi Pak? bantuan berikutnya kembali kepada data awal. Maka (perlu) satu data, Pak," sambung Ganjar.
Beri Bantuan Lain
Ganjar pun mencoba menangani kondisi tersebut dengan bentuk bantuan lain dalam memberantas kemiskinan, yakni tidak hanya yang bersifat bansos namun sektor pendidikan. Dia pun memerintahkan jajarannya membangun sekolah.
"Namanya SMK Jateng Pak, hanya untuk orang miskin. Tiga tahun kami investasi untuk mereka, tahun keempat sudah panen Pak dan mereka menjadi tulang punggung keluarga, pendidikan," ungkap Ganjar.
Untuk itu, jika nantinya dia berhasil menjadi Presiden RI pada 2024, Ganjar pun meminta bantuan Muhammadiyah memberantas kemiskinan lewat langkah meningkatkan pendidikan bangsa.
"Pak kalau datanya diberikan kepada kita Pak, itu kita eksekusi semua Pak. Presiden punya kekuatan yang jauh lebih besar untuk mengorganize ini Pak, jauh lebih besar. Ada satu provinsi tetangga saya waktu dibandingkan, loh ini kok malah nambah. Duitnya lebih banyak, penduduknya lebih dikit, malah nambah Pak. Kalau berkenan nanti data detailnya saya kasih Pak, kalau berkenanan," Ganjar menandaskan.