Liputan6.com, Jakarta: Setelah membelot, Teungku Amri bin Abdul Wahab kembali mengomentari kelompok separatis tempat dirinya sempat bernaung sejak 1998. Menurut Amri, posisi Gerakan Aceh Merdeka kini dalam kondisi yang lemah dan terjepit sehingga mustahil mendapatkan keinginan untuk memerdekakan Tanah Rencong. Pernyataan ini disampaikan mantan Panglima Komando Operasi Pusat GAM wilayah Tiro, Pidie, saat konferensi pers di Gedung Graha Purnawira, Jakarta Selatan, Rabu (14/5) siang.
Jumpa pers tersebut adalah kemunculan kedua Amri setelah secara resmi menyatakan menyerahkan diri, Selasa kemarin. Saat itu, Amri menyatakan dirinya akan membantu pemerintah Indonesia untuk mengegolkan perdamaian di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dia juga sempat menyerukan kepada semua anggota GAM di Serambi Mekah, segera menyerahkan diri [baca: Teungku Amri Resmi Bergabung dengan NKRI].
Pada konferensi pers kali ini, Amri juga mengungkapkan dirinya tak memiliki masalah internal dengan GAM. Namun, lelaki kelahiran Lhokseumawe 33 tahun silam ini tak secara tegas menanggapi isu bahwa dirinya mempunyai masalah pribadi dengan Juru Bicara GAM Sofyan Dawood. Termasuk masalah uang dan dugaan pembunuhan yang dilakukannya terhadap anggota GAM. Ia justru memandang GAM selama ini sudah banyak melakukan rekayasa. Selain itu, Amri menegaskan harapannya agar seluruh anggota kelompok bersenjata tersebut kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Di Lhokseumawe, Aceh Utara, Sofyan Dawood menyatakan bahwa pihaknya tak terpengaruh oleh penyerahan diri Amri. Bagi GAM, pembelotan Amri tak lebih dari upaya menyelamatkan diri. Terutama untuk menghindari dari tuduhan telah membunuh temannya sendiri. Selain mengomentari pembelotan mantan utusan GAM di Joint Security Commmittee atau Komite Dewan Bersama, Sofyan mengatakan bahwa seluruh anggotanya bakal terus mengangkat senjata melawan TNI dengan cara gerilya.
Pada kesempatan berbeda, orang tua Amri menyatakan bahwa keputusan Amri untuk bergabung ke Indonesia adalah tanggung jawab anaknya sendiri. Apalagi, selama lima tahun, Amri sempat tak pulang ke rumah mereka di Lhokseumawe. Menurut ayah Amri, Abdul Wahab, dirinya terakhir bertemu dengan anaknya itu sekitar tiga bulan silam. Pertemuan itu pun hanya berlangsung singkat.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)
Jumpa pers tersebut adalah kemunculan kedua Amri setelah secara resmi menyatakan menyerahkan diri, Selasa kemarin. Saat itu, Amri menyatakan dirinya akan membantu pemerintah Indonesia untuk mengegolkan perdamaian di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dia juga sempat menyerukan kepada semua anggota GAM di Serambi Mekah, segera menyerahkan diri [baca: Teungku Amri Resmi Bergabung dengan NKRI].
Pada konferensi pers kali ini, Amri juga mengungkapkan dirinya tak memiliki masalah internal dengan GAM. Namun, lelaki kelahiran Lhokseumawe 33 tahun silam ini tak secara tegas menanggapi isu bahwa dirinya mempunyai masalah pribadi dengan Juru Bicara GAM Sofyan Dawood. Termasuk masalah uang dan dugaan pembunuhan yang dilakukannya terhadap anggota GAM. Ia justru memandang GAM selama ini sudah banyak melakukan rekayasa. Selain itu, Amri menegaskan harapannya agar seluruh anggota kelompok bersenjata tersebut kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Di Lhokseumawe, Aceh Utara, Sofyan Dawood menyatakan bahwa pihaknya tak terpengaruh oleh penyerahan diri Amri. Bagi GAM, pembelotan Amri tak lebih dari upaya menyelamatkan diri. Terutama untuk menghindari dari tuduhan telah membunuh temannya sendiri. Selain mengomentari pembelotan mantan utusan GAM di Joint Security Commmittee atau Komite Dewan Bersama, Sofyan mengatakan bahwa seluruh anggotanya bakal terus mengangkat senjata melawan TNI dengan cara gerilya.
Pada kesempatan berbeda, orang tua Amri menyatakan bahwa keputusan Amri untuk bergabung ke Indonesia adalah tanggung jawab anaknya sendiri. Apalagi, selama lima tahun, Amri sempat tak pulang ke rumah mereka di Lhokseumawe. Menurut ayah Amri, Abdul Wahab, dirinya terakhir bertemu dengan anaknya itu sekitar tiga bulan silam. Pertemuan itu pun hanya berlangsung singkat.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)