Kemenkominfo Gelar Forum Literasi Demokrasi, Ajak Generasi Muda Bali Kritis dan Demokratis

Lewat kegiatan ini diharapkan para pemuda dapat menjadi pahlawan masa kini yang berpikir kritis dan dapat tampil sebagai agen penjaga moral dan etika politik dalam proses demokrasi untuk membangkitkan semangat kolaborasi dan memajukan negeri, menyatukan visi kebangsaan menuju tatanan demokrasi yang lebih baik.

oleh stella marisDiperbarui 09 November 2023, 16:51 WIB
Forum literasi bertema Masyarakat Kritis, Masyarakat Demokratis digelar Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), di Denpasar, Bali pada Rabu (8/11)/Istimewa.

Liputan6.com, Bali Forum literasi demokrasi bagi generasi muda diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), di Denpasar, Bali pada Rabu (8/11). Forum literasi yang mengangkat tema Masyarakat Kritis, Masyarakat Demokratis itu menghadirkan narasumber Dosen dan Peneliti Demokrasi Indonesia Anastacia Patricia Novlina N, dan Influencer, Lawyer & Aktivis Yonathan Andre Baskoro.

Ketua Tim Kerja Informasi dan Komunikasi Politik dan Pemerintahan Ditjen IKP Kemenkominfo Agus Tri Yuwono mengatakan dalam menyambut Hari Pahlawan 10 November 2023 nanti para pemuda harus dapat menjaga semangat perjuangan para pahlawan dalam rangka menguatkan nilai-nilai Nasionalisme dan kebangsaan untuk mengisi kemerdekaan Indonesia.

Menurutnya, Hari Pahlawan nanti tidak sekedar dijadikan caption atau ‘jualan’ belaka, tapi sebagai gerak langkah bangsa Indonesia menjadi maju dan berubah. 

"Generasi muda sebagai agen perubahan perlu menjadi revolusi yang mengkonsolidasi strategi gerakan sebagai gerakan moral yang bertanggungjawab bagi kepentingan bangsa," kata Agus. 

Agus berharap para pemuda memberi warna baru sebagai perwujudan, pertanggungjawaban dan kekuatan yang berbasis pemahaman Nasionalisme, Kepahlawanan, dan Pancasila. Menurutnya, saat ini pemuda dihadapkan pada dinamika zaman yang tak tertandingi. 

Terpaan yang cepat, perkembangan teknologi yang pesat, serta kompleksitas tantangan sosial adalah sebagian tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Masyarakat dituntut untuk bersikap kritis terhadap setiap masalah yang ada. 

Pemikiran tersebut tentunya akan menghasilkan solusi yang turut memajukan sebuah  lingkungan terutama dalam mendukung kehidupan secara demokratis. Menghadapi Pemilu Damai 2024 nanti pemuda tidak dapat melepaskan diri dan menghindar dari politik. 

"Masa depan bangsa sangat ditentukan oleh para pemuda, mari kita menjaga warisan perjuangan para pahlawan untuk bersama membangun tanah air, bersama memajukan Indonesia dengan melakukan hal-hal positif dan dapat menginspirasi orang lain disekitarnya," kata Agus. 

 

Forum literasi bertema Masyarakat Kritis, Masyarakat Demokratis digelar Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), di Denpasar, Bali pada Rabu (8/11)/Istimewa.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia, jumlah pemilih pada tahun 2024 didominasi oleh generasi muda sekitar 52%. Untuk itu Agus mengajak generasi muda di Bali berpartisipasi menyukseskan pelaksanaan pesta demokrasi pada 2024 untuk memilih calon presiden, wakil presiden, anggota legislatif, bupati/wali kota dan gubernur. 

Agus pun berharap para pemuda menjadi pahlawan masa kini yang berpikir kritis dan dapat tampil sebagai agen penjaga moral dan etika politik dalam proses demokrasi untuk membangkitkan semangat kolaborasi dan memajukan negeri, menyatukan visi kebangsaan menuju tatanan demokrasi yang lebih baik. 

"Jadilah pemilih cerdas pada Pemilu Damai 2024 nanti," ujar Agus. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indeks Demokrasi Indonesia pada 2021 mencapai 78,12 dan pada 2022 mencapai 80,41. Dalam skala global, nilai indeks demokrasi Indonesia pada 2021 dengan skor 6,71 tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ke-52 dunia. Skor tahun 2022 masih sama, yaitu 6,71 namun peringkat turun menjadi ke-54 dunia.

Dosen dan Peneliti Demokrasi Indonesia Anastacia Patricia Novlina N mengungkapkan jika generasi muda yang paling beruntung dengan adanya sosial media di Indonesia. 

"Kalian punya saluran aspirasi untuk menyampaikan kritik dan aspirasi , tidak seperti zaman orde baru," kata Anastacia. 

Namun menurutnya kesempatan tersebut seringkali disalahgunakan dengan menyampaikan hal-hal yang menyimpang. Dalam demokrasi, ditegaskan Anastacia harus beriringan antara kritik, pujian, dan masukan. Dia juga menilai bahwa praktik berdemokrasi itu adalah tiap individu menghargai pendapat atau pilihan orang lain. 

"Hargai setiap pilihan orang lain, yang bahaya jika seragam pilihanya. Negara menjamin perbedaan," kata Anastacia. 

Dia mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari praktiknya bisa dilakukan dalam kegiatan  merencanakan pembangunan di desa atau lingkungan sekitar tempat tinggal.

 

Forum literasi bertema Masyarakat Kritis, Masyarakat Demokratis digelar Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), di Denpasar, Bali pada Rabu (8/11)/Istimewa.

Hak Pilih sebagai Warga Negara yang Turut dalam Kehidupan Demokrasi

Influencer, Lawyer & Aktivis Yonathan Andre Baskoro mengemukakan dalam demokrasi yakni kebebasan berekspresi telah diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945. Menurutnya, dalam menyampaikan aspirasi dan kritik di era demokrasi sekarang harus tetap objektif. 

"Jangan Subyektif dan harus berdasarkan data, dan para mahasiswa sebagai intelektual harus punya solusi," kata Yonathan. 

Maka dari itu, Yonathan mengajak generasi muda untuk bersama-sama mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi Pemerintah. 

"Mari kita gotong royong mencari solusi bersama," kata Yonathan.

Menurut Yonathan demokrasi bukan hanya memberi kesempatan untuk berbicara seluas-luasnya dengan tidak memperhatikan norma etika, ketertiban umum, dan asusila.

"Bebas buka berarti tak ada aturan," kata Yonathan. 

Perwujudan demokrasi yang lebih spesifik yakni turut serta dalam Pemilu nanti, ia menegaskan untuk menggunakan hak pilih sebagai bagian keikutsertaan sebagai warga negara Indonesia. 

"Hak pilih atau hak konstitusi sebagai warga negara harus digunakan. Ini penting untuk menentukan arah bangsa ini ke depan. Jangan apatis, apa pun latar belakang kalian," jelasnya. 

Yonathan berharap para pemuda di Denpasar dan di Bali umumnya untuk meningkatkan partisipasinya dalam demokrasi menyambut Pemilu Damai 2024.

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya