Liputan6.com, Sydney: Pemerintah Australia terus merazia obat-obatan dan suplemen produksi Pan Pharmaceutical Limited Australia (PPLA). Hingga Kamis (8/5), sebanyak 1.564 jenis produk PPLA sudah ditarik dari peredaran. Rencananya, pemerintah setempat terus merazia, menyusul banyak laporan dari masyarakat setelah mengkonsumsi suplemen PPLA. Demikian laporan reporter SCTV Indy Rachmawati dari Sydney, Australia.
The Therapeutic Goods Administration (TGA) atau semacam Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)-nya Australia sudah menerima 87 laporan mengenai PPLA. Sejumlah konsumen mengaku mual-mual, pusing, dan hilang kesadaran setelah mengkonsumi produk PPLA. Bahkan, satu orang dikabarkan meninggal dunia setelah minum produk jenis herba. Namun, pihak PPLA membantah hal tersebut. Atas peristiwa itu, PPLA menghentikan produksi dan mengekspor produknya ke 40 negara di Asia, Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Inggris, termasuk ke Indonesia [baca: Kasus Pharmaceutical Australia Harus Menjadi Pelajaran].
Di dalam negeri, Balai POM di daerah terus merazia obat-obatan dan suplemen produksi PPLA. Di Bandung, Jawa Barat, misalnya. Sedikitnya 26 jenis obat dan suplemen ditarik. Di antaranya jenis vit extra, ginkgobiloba, celery plus, serta lainnya.
Menurut Kepala Bidang Sertifikasi Informasi Konsumen Balai Besar POM Bandung Euis Megawati, jumlah obat yang ditarik kemungkinan masih akan bertambah. Sebab, operasi merazia obat masih terus digelar. Rencananya, obat dan suplemen produksi Australia itu dikembalikan kepada distributornya di Jakarta.
Sedangkan di Semarang, Jawa Tengah, mulai Senin pekan ini BPOM Jateng juga terus menggelar operasi. Hingga Rabu kemarin sudah 28 jenis produk obat dan suplemen produk Pan Pharmaceutical Australia yang ditarik dari toko obat dan apotek. Sedianya, operasi akan dilanjutkan ke kota lain di Jateng. Kepala BPOM Jateng Atik Harwati menyatakan, jajarannya akan menyegel pada kemasan produk jika obat dan suplemen asal Australia itu masih diperjualbelikan.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)
The Therapeutic Goods Administration (TGA) atau semacam Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)-nya Australia sudah menerima 87 laporan mengenai PPLA. Sejumlah konsumen mengaku mual-mual, pusing, dan hilang kesadaran setelah mengkonsumi produk PPLA. Bahkan, satu orang dikabarkan meninggal dunia setelah minum produk jenis herba. Namun, pihak PPLA membantah hal tersebut. Atas peristiwa itu, PPLA menghentikan produksi dan mengekspor produknya ke 40 negara di Asia, Timur Tengah, Amerika Serikat, dan Inggris, termasuk ke Indonesia [baca: Kasus Pharmaceutical Australia Harus Menjadi Pelajaran].
Di dalam negeri, Balai POM di daerah terus merazia obat-obatan dan suplemen produksi PPLA. Di Bandung, Jawa Barat, misalnya. Sedikitnya 26 jenis obat dan suplemen ditarik. Di antaranya jenis vit extra, ginkgobiloba, celery plus, serta lainnya.
Menurut Kepala Bidang Sertifikasi Informasi Konsumen Balai Besar POM Bandung Euis Megawati, jumlah obat yang ditarik kemungkinan masih akan bertambah. Sebab, operasi merazia obat masih terus digelar. Rencananya, obat dan suplemen produksi Australia itu dikembalikan kepada distributornya di Jakarta.
Sedangkan di Semarang, Jawa Tengah, mulai Senin pekan ini BPOM Jateng juga terus menggelar operasi. Hingga Rabu kemarin sudah 28 jenis produk obat dan suplemen produk Pan Pharmaceutical Australia yang ditarik dari toko obat dan apotek. Sedianya, operasi akan dilanjutkan ke kota lain di Jateng. Kepala BPOM Jateng Atik Harwati menyatakan, jajarannya akan menyegel pada kemasan produk jika obat dan suplemen asal Australia itu masih diperjualbelikan.(ULF/Tim Liputan 6 SCTV)