Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar (kurs) rupiah melemah pada Rabu pagi. Kurs rupiah loyo 0,35 persen atau 54 poin menjadi 15.634 per USD dari sebelumnya 15.580 per USD.
Analis Pasar Mata Uang Lukman Leong memperkirakan rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang melanjutkan penguatan pascadata tenaga kerja Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLT) AS yang lebih kuat dari perkiraan.
Advertisement
"JOLT menunjukkan lowongan pekerjaan sebesar 9,61 juta versus ekspektasi 8,8 juta," ujar dia dikutip dari Antara, Rabu (4/10/2023).
Menurut dia, data JOLT yang menyusul serangkaian data ekonomi kuat AS lainnya akhir-akhir ini memicu ekspektasi akan suku bunga The Fed yang lebih tinggi, sehingga berpotensi melemahkan rupiah hingga akhir tahun.
Misalnya pada Senin (2/10/2023), data indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur AS dari The Institute for Supply Management (ISM) pada September 2023 menunjukkan pemulihan naik ke angka indeks 49,0 dari sebelumnya 47,7.
"Dari dalam negeri belum ada yang bisa mendukung rupiah. Revisi PP (Peraturan Pemerintah) DHE SDA (Devisa Hasil Ekspor dari Barang Ekspor Sumber Daya Alam) masih perlu waktu untuk meningkatkan cadangan devisa Indonesia," ucap Lukman.
Ekspektasi Suku Bunga Tinggi
Senada, Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra menganggap pengaruh dari ekspektasi suku bunga tinggi akan berlanjut hingga akhir tahun menimbang The Fed akan mengeluarkan kebijakan penting pada Desember 2023.
Ekspektasi suku bunga tinggi turut didukung data ekonomi AS, terutama data inflasi yang belum menurun ke arah target 2 persen.
Sentimen pasar terhadap suku bunga tinggi masih tinggi hingga akhir tahun. Sentimen tersebut dapat di-counter bila data ekonomi AS menunjukkan inflasi dan kondisi ketenagakerjaan menurun.
Waspada, 5 Risiko Ini Hantui Ekonomi Indonesia Jika Rupiah Terus Anjlok
Dalam beberapa pekan terakhir, nilai Rupiah kerap menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Terbaru, pada Selasa pagi (3/10) nilai tukar Rupiah terhadap USD melemah 0,26 persen atau 41 poin menjadi 15.571 per USD dari sebelumnya 15.530 per USD.
Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, ada 5 risiko yang berdampak pada ekonomi Indonesia dari pelemahan Rupiah.
“Pertama, harga barang impor akan lebih mahal, khususnya pangan dan sebabkan risiko imported inflation,” kata Bhima kepada Liputan6.com, Selasa (3/10/2023).
Hal ini berisiko membuat pelaku usaha tidak punya cara lain kecuali meneruskan biaya impor ke konsumen.
Risiko kedua, yaitu terjadinya arus modal yang keluar karena pelemahan rupiah yang persisten menunjukkan adanya risiko dalam negeri Indonesia.
“Investor akan lakukan mitigasi risiko dengan beralih ke aset lain,” jelas Bhima.
Ketiga, jumlah masyarakat miskin akan bertambah karena pelemahan kurs berarti naiknya beragam harga kebutuhan pokok.
Beras hingga Bawang Masih Ketergantungan Impor
Bhima mengingatkan, hampir sebagian besar pangan mulai dari beras, bawang putih, gula ketergantungan impornya tinggi dan sensitif terhadap pelemahan rupiah.
“Keempat, menyempitnya lapangan kerja terutama di sektor industri yang bahan baku impornya dominan,” sambungnya.
Hal ini berpontensi mendorong industri menurunkan kapasitas produksinya untuk hindari selisih kurs dari impor mesin dan bahan baku.
Terakhir, jumlah utang luar negeri akan bertambah sementara tidak semua pelaku usaha melakukan hedging. Bhima menyarankan, Bank Indonesia (BI) perlu dorong DHE yang masuk lebih banyak ke perbankan domestik.
“Komunikasi dengan eksportir bisa didorong lagi sehingga valas yang disimpan lebih banyak,” imbuhnya.
“Local currency settlement perlu diperluas ke berbagai negara mitra dagang lainnya,” tambahnya.
USD Menguat 3 Oktober 2023, Rupiah Diramal Tembus 15.600 Rabu Besok
Indeks dolar Amerika Serikat atau USD melanjutkan penguatan pada Selasa, 3 Oktober 2023.
"Dolar AS mencapai level tertinggi baru dalam 11 bulan pada hari Selasa, mendorong yen semakin dekat ke zona intervensi potensial, setelah data ekonomi AS yang kuat mendukung pandangan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama,” kata Direktur PT.Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi dalam paparan tertulis dikutip Selasa (3/10/2023).
USD menguat menyusul rilisan survei pada Senin (2/10) yang menunjukkan bahwa manufaktur AS mengambil langkah lebih jauh menuju pemulihan pada bulan September, karena produksi meningkat dan lapangan kerja pulih, juga menunjukkan harga input yang dibayarkan oleh pabrik turun drastis.
"Sejumlah data ekonomi AS yang kuat selama beberapa pekan terakhir telah memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kenaikan suku bunganya untuk jangka waktu yang lebih lama, dan beberapa pembuat kebijakan memperingatkan risiko pengetatan lebih lanjut jika inflasi tidak melambat seperti yang diperkirakan," ungkap Ibrahim.
Selain itu, imbal hasil Treasury AS juga memberi dorongan pada dolar, melonjak karena rilis data yang optimis, serta kesepakatan di menit-menit terakhir yang mencegah penutupan pemerintah.
Menteri Keuangan Jepang Shunichi Suzuki mengatakan pada hari Selasa bahwa pihak berwenang mengawasi pasar mata uang dengan cermat dan siap untuk merespons, mengulangi peringatan terhadap tindakan spekulatif yang tidak mencerminkan fundamental ekonomi.
Adapun hasil survei PMI zona euro pada Senin (2/10) yang menunjukkan bahwa permintaan terus menyusut dengan kecepatan yang jarang dilampaui sejak data pertama kali dikumpulkan pada tahun 1997.
Rupiah pada Selasa, 3 Oktober 2023
Rupiah ditutup melemah 50 point dalam penutupan pasar sore ini, walaupun sebelumnya sempat melemah 85 point dilevel 15.580 dari penutupan sebelumnya di level Rp.15.530.
"Sedangkan untuk perdagangan besok mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang 15.570-15.630," Ibrahim memperkirakan.