Liputan6.com, Jakarta - Kinerja pasar modal Indonesia diperkirakan tetap berada dalam arah yang positif hingga akhir tahun 2023.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Fajar Dwi Alfian meyakini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat mencapai level 7.220 pada akhir 2023. Hal ini menjadi sinyal pasar modal Indonesia tetap menjanjikan bagi para investor.
Advertisement
Optimisme ini muncul di tengah musim kampanye politik jelang pemilu 2024. Pemerintah pun cenderung mengeluarkan kebijakan yang populis selama periode tahun politik.
"Kebijakan populis ini berpotensi mendongkrak daya beli masyarakat dan menjadi sentimen positif bagi pasar," ujar dia kepada Liputan6.com, Selasa (26/9/2023).
Bagi para investor, Fajar merekomendasikan saham dari sektor konsumer primer dan non-primer, properti, serta perbankan untuk dapat dipertimbangkan hingga akhir tahun ini.
Sementara itu, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM mengatakan, secara valuasi pihaknya melihat level wajar IHSG berada di posisi 7.600.
"Adapun untuk sentimen terutama dari pemilu, suku bunga the Fed yang di prediksi naik sekali lagi untuk tahun ini,” kata Roger.
Dengan demikian, ia memprediksi semester II 2023 akan memiliki peluang yang lebih baik. Sebab, hari libur lebih sedikit dan terdapat peluang percepatan fiskal. Sedangkan, dari global dengan kemungkinan berakhirnya siklus kenaikan suku bunga the Fed juga memberikan sentimen untuk market.
Roger pun melihat saham sektor telekomunikasi dan semen masih memiliki prospek yang cerah. Ia pun merekomendasikan saham TLKM, EXCL, MTEL, dan INTP untuk dapat dipertimbangkan oleh investor.
Sentimen yang Bayangi IHSG pada Kuartal IV 2023
Pengamat Pasar Modal Desmond Wira mengatakan, pada kuartal IV 2023, IHSG akan dibayangi oleh sentimen kenaikan suku bunga the Fed dan kenaikan harga minyak. Desmond menuturkan, the Fed masih akan hawkish atau agresif hingga akhir 2023.
"Yang lebih berdampak itu bukan keputusan mempertahankan suku bunga, tapi lebih pada pernyataan akan cenderung hawkish. Semakin hawkish, peluang kenaikan suku bunga makin besar, semakin menekan pasar saham,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Kenaikan suku bunga the Fed ini, menurut Desmond akan berdampak terhadap sektor keuangan, siklikal dan industri yang punya beban bunga utang. Desmond merekomendasikan buy on weakness untuk saham bank kakap dan saham sektor energi. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pun menjadi pilihan Desmond.
"Sektor perbankan terutama big cap, sektor energi, misalnya emiten minyak. Akumulasi bila terjadi koreksi, buy on weakness,” imbuhnya.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Menelisik Prospek Saham di Tengah Kenaikan Harga Minyak Dunia
Sebelumnya, harga minyak mentah meningkat pada 2023. Pada Agustus 2023 saja, rata-rata minyak mentah Indonesia naik USD 7,53 per barel menjadi USD 82,59 per barel dibandingkan Juli 2023 sebesar USD 75,06 per barel.
Kenaikan harga minyak mentah Indonesia naik didorong kenaikan harga minyak mentah utama di pasar internasional yang dipengaruhi pasokan minyak mentah global. Harga minyak WTI naik USD 5,28 menjadi USD 81,32 dan harga minyak Brent naik menjadi USD 85,10. Lantas, saham apa saja yang bisa dicermati dalam kondisi tersebut?
Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis menuturkan, dengan kondisi saat ini investor bisa memilih saham-saham yang cenderung memiliki valuasi murah atau masih
"Bisa perhatikan saham sektor oil (minyak) karena cadangan yang turun di US dan cut production dari OPEC+ masih menjadi sentimen yang positif,” kata Abdul kepada Liputan6.com, Senin (25/9/2023).
Bagi para investor, Abdul merekomendasikan trading buy saham MEDC untuk dapat dipertimbangkan.
Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai saat ini kenaikan harga saham emiten berbasis energi itu semua sudah memasuki kondisi uptrend. Ini mengingat, ada kenaikan harga minyak dunia.
“Saham-saham hold semua rekomendasinya, karena sudah uptrend dan bullish. Uptrend nya sudah tinggi,” kata Nafan.
Dengan demikian, ia merekomendasikan saham AKRA, ELSA, dan MEDC untuk dapat dipertimbangkan oleh investor.
Harga Saham Energi Menguat
Sejalan dengan Nafan, Pengamat Pasar Modal Desmond Wira mengatakan, sejak Juli 2023 harga minyak bergerak naik dari kisaran USD 70 hingga sekarang USD 90 per barel. Bersamaan dengan itu, harga saham energi di dalam negeri juga naik.
“Sentimen kenaikan harga minyak mungkin masih berpotensi bertahan sampai akhir 2023. Arab Saudi diperkirakan akan memperpanjang pemangkasan produksi minyak sukarela sebanyak 1 juta barel per hari hingga Oktober, melanjutkan pembatasan pasokan yang diprakarsai oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya. Hal ini berpotensi mengurangi supply minyak sekaligus membuat harga minyak bertahan di harga tinggi,” ujar dia.
Menurut ia, dalam kondisi tersebut akan memberikan dampak positif untuk sektor energi, mulai dari minyak dan batu bara.
Bagi para investor, ia merekomendasikan buy on weakness untuk saham ELSA, MEDC, dan AKRA.
“Jika masih berminat beli emiten minyak, bisa mencoba buy on weakness saham minyak, misalnya ELSA, MEDC, AKRA. Tunggu koreksi baru beli,” kata dia.