Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia mengalami tekanan yang cukup dalam pada perdagangan kamis karena kenaikan nilai tukar dolar AS. Emas dan dolar AS merupakan instrumen safe haven dan kali ini investor lebih memilih untuk mengoleksi dolar AS dibanding emas.
Mengutip CNBC, Jumat (12/5/2023), harga emas di pasar spot turun 0,75 persen menjadi USD 2.014,3021 per ons. sementara harga emas berjangka AS turun 0,8 persen menjadi USD 2.020,50 per ons.
Advertisement
Harga emas dunia sempat naik setelah data menunjukkan lonjakan klaim pengangguran mingguan dan kenaikan harga produsen tahunan terkecil bulan lalu dalam lebih dari dua tahun.
Namun, kenaikan harga logam mulia tersebut tak berlangsung lama karena dolar AS naik, membuat harga emas batangan lebih mahal bagi pembeli di luar negeri.
Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan, situasi perbankan kembali suram menyusul kasus PacWest sehingga mendorong beberapa permintaan safe haven ke dolar AS.
Investor juga memperhatikan komentar dari kepala Fed Minneapolis Neel Kashkari bahwa periode suku bunga tinggi yang diperpanjang akan diperlukan jika inflasi tetap tinggi.
"Sampai batas tertentu, logam mulia tetap berada di gelombang uptrend yang ditetapkan pada bulan November," kata dealer logam mulia Heraeus Alexander Zumpfe.
Emas secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi kenaikan suku bunga meredupkan daya tarik untuk emas batangan.
Perdagangan Kemarin
Harga logam mulia yang kerap dijadikan investasi oleh masyarakat kembali kehilangan kemilaunya. Harga emas hari ini di pasar global melemah dipicu optimisme suku bunga Federal Reserve tahun ini memudar setelah laporan inflasi AS, memicu aksi ambil untung di antara beberapa investor.
Melansir laman financial post yang melansir Reuters, Kamis (11/5/2023), menyebutkan, harga emas di pasar spot turun 0,2 persen menjadi USD 2.030,70 per ons. Sementara harga emas berjangka AS menetap 0,3 persen lebih rendah menjadi USD 2.037,10.
"Masih ada risiko Fed harus mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama... Emas akan membutuhkan lebih banyak penurunan suku bunga untuk dihargai secara agresif agar dapat melanjutkan relinya," kata Edward Moya, Analis Pasar senior di OANDA.
Harga emas dunia naik sebanyak 0,7 persen setelah data menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS naik 4,9 persen pada April dari tahun sebelumnya, meski angka ini lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 5 persen, sebelum berbalik negatif. CPI bulan ke bulan di bulan April naik 0,4 persen setelah naik 0,1 persen di bulan Maret.
Data tersebut mengganggu momentum adannya kenaikan suku bunga ke-11 berturut-turut pada bulan Juni, dengan sebagian besar kontrak berjangka terkait dengan taruhan suku bunga Fed pada jeda.
"Tetapi harga emas mungkin akan berjuang dalam jangka pendek seiring inflasi inti yang tidak berubah dari bulan lalu dan jauh di atas target Fed," kata Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank.
Sementara emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga menumpulkan daya tarik bullion yang tidak memberikan imbal hasil.
Capai Rekor
Beberapa analis mengatakan harga emas dapat mencoba mencapai rekor tertinggi, mengingat kekhawatiran ekonomi yang terus-menerus, termasuk potensi gagal bayar plafon utang AS.
"Lebih banyak perhatian harus diberikan pada keadaan sistem perbankan dan kecerobohan dalam pembicaraan plafon utang," kata analis StoneX Rhona O'Connell.
Pasar sekarang menantikan indeks harga produsen (PPI) bulan April yang akan dirilis pada pukul 8:30 EDT pada hari Kamis untuk petunjuk lebih lanjut.
Perak spot turun 1 persen menjadi USD 25,35 per ons, platinum naik 0,4 persen menjadi USD 1.109,60 dan paladium naik 2,1 persen menjadi USD 1.602,7.