Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia kembali naik ke level kunci yaitu di kisaran USD 2.000 per ons pada penutupan perdagangan Selasa waktu Amerika Serikat (AS) atau Rabu pagi waktu Jakarta. Kenaikan harga emas dunia hari ini terjadi karena dolar AS dan imbal hasil obligasi AS melemah.
Saat ini, investor tengah menimbang apakah the Federal Reserve (the Fed) atau Bank Sentral AS akan menghentikan siklus kenaikan suku bunga pada pertemuan yang akan berlangsung pada Mei nanti.
Advertisement
Mengutip CNBC, Rabu (19/4/2023), harga emas di pasar spot naik 0,5 persen ke level USD 2.005,41 per ons, setelah mencapai level terendah dua minggu di USD 1.981,19 di sesi perdagangan sebelumnya.
Sedangkan untuk harga emas berjangka AS menetap 0,6 persen lebih tinggi pada USD 2.019,70 per ons.
Indeks dolar turun 0,3 persen menyusul data yang menunjukkan ekonomi China tumbuh lebih cepat dari perkiraan di kuartal I 2023. Penurunan nilai tukar dolar AS ini membuat emas batangan yang dipatok dengan dolar AS lebih menarik bagi pembeli di luar negeri.
Sementara imbal hasil Treasury AS merosot.
Keputusan The Fed
“Apa yang benar-benar dipedulikan oleh pedagang emas adalah seberapa cepat kita mendapatkan pemotongan (tingkat). Pasar telah menetapkan harga untuk siklus pemotongan dimulai bahkan pada awal musim panas ini,” kata analis komoditas TD Securities, Daniel Ghali.
Pelaku pasar menilai peluang 86 persen dari kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan Fed 2-3 Mei, dan peluang 71 persen untuk jeda di bulan Juni.
Suku bunga yang lebih tinggi yang dilakukan untuk menahan kenaikan harga cenderung menurunkan permintaan emas, berlawanan dengan perannya sebagai lindung nilai inflasi.
Presiden the Fed St. Louis James Bullard mengatakan, Fed harus terus menaikkan suku bunga karena data baru-baru ini menunjukkan inflasi tetap bertahan, sementara Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan Fed kemungkinan akan perlu bertahan untuk waktu yang lama untuk menurunkan inflasi setelah satu kenaikan suku bunga lagi.
Logam Mulia Lainnya
Harga Palladium naik 4,6 persen menjadi USD 1.631,84 per ons, tertinggi dalam lebih dari dua bulan, sementara harga platinum naik 3,2 persen ke level tertinggi tiga bulan di USD 1.081,18.
“Platinum, tetapi pada tingkat yang lebih rendah paladium, mendapat manfaat dari pemadaman listrik di Afrika Selatan, yang merupakan kejutan pasokan yang signifikan,” kata Ghali.
Sedsangkan untuk harga perak di pasar spot naik 0,3 persen menjadi USD 25,17 per ons.
Masih Ada Tren Kenaikan Harga Emas Pekan Ini, Tapi Tak Bakal Sentuh Rekor Tertinggi
Harga emas tak mampu membukukan kinerja positif pada pekan lalu. Di penutupan perdagangan Jumat 14 April 2023, harga emas dunia mengalami tekanan jual sehingga menyerah di zona merah.
Namun, para analis melihat bahwa pekan ini harga emas dunia akan membukukan kinerja positif. Koreksi yang telah dibukukan pada pekan lalu akan memberikan dampak positif pada minggu ini.
Dalam survei harga Emas kantor Berita Kitco terbaru menunjukkan bahwa investor ritel tetap kuat sentimen bullish pada harga emas dalam waktu dekat ini. Namun, analis Wall Street mengambil sikap yang lebih hati-hati.
"Emas mengalami pergerakan yang bagus akhir-akhir ini, tetapi tampaknya momentum kenaikan sedikit melambat dan tampaknya karena koreksi teknis dengan potensi support di dekat USD 2.000 atau USSD 1.960," kata kepala analis SIA Wealth Management, Colin Cieszynski dikutip dari Kitco, Senin (17/4/2023).
kepala analis Blue Line Futures Phillip Streible mengatakan, tidak mengherankan jika emas dan perak mengalami tekanan jual pada hari Jumat karena banyak berita bullish yang mendorong reli selama sebulan ini mulai memudar.
Dia mencatat bahwa pasar merasa nyaman dengan gagasan bahwa The Federal Reserve atau Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga pada Mei 2023. Di saat yang sama akekhawatiran akan runtuhnya sistem perbankan AS mulai mereda, mengurangi permintaan safe-haven untuk emas.
Meskipun harga bisa tetap berada di bawah tekanan dalam waktu dekat, Streible mengatakan bahwa pasar tetap dalam uptrend yang solid.
"Jika kita tutup di bawah USD 1.953, itu menandakan tren bullish telah berakhir, dan emas telah bergerak ke posisi netral," ujarnya.
Jim Wyckoff, analis teknis senior di Kitco.com, mengatakan bahwa dia tetap memperkirakan harga emas bakal bullish. Dia melihat aksi jual emas sebagai pullback korektif.
"Penurunan di bawah level terendah April di USD 1.965,90 akan meniadakan tren kenaikan harga emas jangka pendek untuk mulai menunjukkan puncak pasar sudah ada," katanya.
Hasil Survei Kitco
Minggu ini, sebanyak 23 analis di Wall Street berpartisipasi dalam Survei Emas yang dilakukan oleh kantor berita Kitco. Di antara para analis tersebut, sembilan analis, atau 39 persen memperkirakan harga emas akan bullish dalam waktu dekat.
Pada saat yang sama, enam analis atau 26 persen bersikap bearish untuk minggu ini dan delapan analis atau 35 persen melihat harga emas akan diperdagangkan mendatar.
Sementara itu, 1.347 suara diberikan dalam jajak pendapat online. Dari jumlah tersebut, 930 responden atau 68 persen memperkirakan harga emas akan naik minggu ini.
Selain itu, 278 responden lainnya atau 20 persen mengatakan harga emas akan bergerak lebih rendah di minggu ini.
Sementara 156 pemilih atau 11 persen bersikap netral dalam waktu dekat.