Liputan6.com, New Delhi - Sekolah Tinggi Seni Rupa Rukmini Devi, yang dikelola oleh salah satu institusi seni dan budaya terkemuka di India, Kalakshetra, berada di pusaran skandal pelecehan seksual.
Pekan lalu, polisi menangkap asisten profesor dan penari ulung Hari Padman setelah seorang mantan mahasiswa menuduhnya melakukan pelecehan seksual. Itu terjadi setelah protes berhari-hari oleh lebih dari 200 mahasiswa, yang menuduh bahwa pelecehan seksual telah terjadi di kampus itu selama bertahun-tahun, namun laporan mereka diabaikan.
Advertisement
Sekolah Tinggi Seni Rupa Rukmini Devi terkenal dengan pengajaran tari klasik Bharatanatyam.
Dalam pernyataan singkat di situs web mereka, pihak kampus menyalahkan "kepentingan pribadi" karena mencoba menodai Yayasan Kalakshetra, yang merupakan lembaga otonom di bawah Kementerian Kebudayaan India.
Namun, setelah skandal pelecehan seksual menjadi berita utama, yayasan mengumumkan sebuah panel beranggotakan tiga orang yang dipimpin oleh seorang pensiunan hakim pengadilan tinggi untuk menyelidikinya. Selain itu, yayasan juga menskors Hari Padman dan tiga seniman pertunjukan yang bertugas sebagai guru pengganti telah ditiadakan.
Komisi Perempuan Negara Bagian Tamil Nadu juga meluncurkan penyelidikan.
Sebelum ditangkap, Hari Padman telah membantah tuduhan terhadap dirinya saat pertemuannya dengan pihak kampus. Dia mengatakan akan melakukan segala upaya untuk mencari keadilan.
"Ada ratusan siswa yang belajar di Kalakshetra. Tanyakan kepada mereka apakah saya pernah berlaku atau berbicara salah terhadap mereka. Saya tidak pernah melecehkan siapapun... Saya tahu mereka tidak memiliki bukti sedikitpun," ungkap Hari Padman seperti dilansir BBC, Rabu (12/4/2023).
Dia menambahkan bahwa dia akan mengandalkan rekaman CCTV untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah.
Sang istri, Divya, membela Hari Padman dan mengajukan gugatan balik terhadap pelapor dan dua pengajar di Kalakshetra. Dia menuduh mereka melontarkan tuduhan palsu terhadap suaminya karena kecemburuan dan persaingan pekerjaan.
Divya mengklaim tuduhan terhadap suaminya adalah tindakan balas dendam karena Hari Padman telah menegur beberapa siswa atas perilaku buruk dan dua guru telah "menghasut" mantan siswa tersebut untuk mengajukan laporan.
Tidak Hanya Pelecehan Seksual
Kalakshetra dijuluki sebagai "Indian Institutes of Technology (IIT) di bidang seni rupa" untuk menggambarkan kemiripannya dengan institut teknologi utama India yang sangat sulit dimasuki. Siswa yang memperoleh gelar teknik dari sana dicari secara global.
Demikian pula, Kalakshetra membawa nama dan ketenaran bagi para siswanya, membantu mereka memperoleh penghasilan dengan baik dan memberi mereka kesempatan untuk berprestasi di seluruh dunia.
Sejumlah orang yang terdiri dari siswa, guru, mantan siswa, dan staf yang berbicara secara anonim, menyinggung soal kurangnya kebebasan di Kalakshetra, pelecehan verbal, body shaming, dan diskriminasi kasta. Beberapa siswa mengklaim mereka diminta menurunkan berat badan dan beberapa lainnya didiskriminasi karena kulit yang lebih gelap.
Namun, tuduhan paling mencolok adalah kekerasan seksual, baik terhadap siswa laki-laki maupun perempuan. Seorang mantan siswa mengatakan bahwa nilainya jatuh setelah dia menolak permintaan seorang guru.
"Dia mengirimkan permintaan pertemanan di media sosial. Ketika saya tidak menerimanya, dia terus mengganggu saya, bertanya kenapa saya tidak menerimanya," ungkap perempuan itu.
"Akhirnya, ketika saya menerima permintaannya, dia mulai mengirimi saya pesan cabul. Pesan itu sangat buruk, saya bahkan tidak bisa menunjukkannya kepada teman saya. Setelah saya tidak berteman dengannya, dia mulai memperlakukan saya dengan semena-mena."
Seorang siswa laki-laki mengungkap kisah serupa tentang pelecehan yang dilakukan oleh pengajar berbeda.
"Pada tengah malam, dia mengirimi saya pesan 'selamat malam'. Ketika saya membalas, dia bertanya apakah saya sendiri dan apakah dia bisa datang ke tempat saya. Saya terkejut. Dia kemudian meminta video call, sehingga dia bisa melihat saya 'utuh'. Dia terus mengirimi pesan cabul. Saya tidak bisa menanganinya, saya jatuh sakit," kata siswa itu seraya menambahkan bahwa pelecehan meningkat setelah dia mengadu ke pihak berwenang.
"Otoritas terkait tidak melakukan apa-apa dan itu semakin memberanikan para pelaku pelecehan. Di lain sisi, juga mencegah lebih banyak siswa mengadu."
UU Pelecehan Seksual Jadi Tantangan
Pengacara BS Ajeetha, yang merupakan anggota eksternal dari komite pengaduan internal (ICC) institut untuk pelecehan seksual sejak tahun 2018 dan berhenti baru-baru ini, mengatakan tuduhan terhadap Hari Padman pertama kali muncul pada Desember dalam komentar Facebook yang sekarang sudah dihapus.
Dalam komentarnya, Leela Samson yang merupakan salah satu penari paling terkenal di India dan mantan direktur Kalakshetra, menuduh seorang guru yang tidak disebutkan namanya melakukan pelecehan terhadap siswa dan memiliki hubungan yang tidak pantas dengan seorang siswa perempuan. Leela juga memperingatkan para orangtua agar tidak mengirim putri mereka ke institut yang dihuni oleh predator seksual.
Meski komentar Facebook tersebut tidak menyebut detail sosok guru yang dimaksud, nama Hari Padman dan siswi muncul belakangan. Keduanya menyangkal bahwa ada sesuatu yang tidak pantas tentang hubungan mereka.
Namun, sejak saat itu, banyak mahasiswa yang melontarkan tuduhan serius terhadap Hari Padman dan ketiga seniman yang jadi dosen pengganti.
Ajeetha menggarisbawahi bahwa ICC tidak bisa berbuat apa-apa dalam kasus ini karena undang-undang pelecehan seksual India spesifik gender dan memungkinkan ICC hanya menangani kasus perempuan serta kasus-kasus yang memiliki tuduhan pelecehan seksual secara eksplisit.
"Kami meneruskan pengaduan ke manajemen, menyarankan mereka untuk mengambil 'tindakan tegas' terhadap guru yang terlibat. Tapi mereka tidak menanganinya dengan baik," tambahnya.
Seorang siswa menuturkan bahwa dia dan rekan-rekannya memilih membatalkan agitasi setelah pihak manajemen kampus meyakinkan mereka bahwa keluhan mereka akan diselidiki dan tindakan akan diambil bagi para pelaku.