Liputan6.com, Jakarta - Beberapa waktu lalu, jagat maya heboh oleh kabar Cristiano Ronaldo jadi anggota Muhammadiyah. Muhammadiyah yang dimaksud dalam kabar ini adalah persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan.
Selama berhari-hari, warganet membicarakan perihal megabintang asal Portugal tersebut. Terkini, CR7 memang bergabung dengan salah satu klub kaya Arab Saudi, Al-Nassr, yang bermarkas di kota Riyadh.
Advertisement
Tak dipungkiri, bergabungnya Ronaldo di klub Arab Saudi itu membangkitkan gairah persepakbolaan di negeri di mana situs tersuci umat Islam berada.
Kepindahan itu tak pelak disusul dengan kontroversi hingga spekulasi lain. Misalnya, Cristiano Ronaldo mualaf.
Kembali ke Muhammadiyah, kabar Ronaldo jadi anggota Muhammadiyah tentu mengagetkan. Bahkan lebih mengagetkan tinimbang spekulasi mualafnya peraih lima penghargaan individual paling bergengsi di dunia sepakbola, Ballon d’or ini.
Soal ini, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi, Muhammad Hamka, membenarkan bahwa Ronaldo menjadi warga di kawasan Al-Muhammadiyah, sebuah kawasan elit yang diharapkan kelak dapat menjadi salah satu tempat beraktivitas PCIM Arab Saudi.
“Al-Muhammadiyah itu kawasan elit, tentu akan banyak halangan untuk bisa masuk ke sana, tapi tidak menutup kemungkinan untuk masuk ke sana. Bisa saja nanti ada info Muhammadiyah masuk ke sana,” ujarnya dikutip dari laman Muhammadiyah, Jumat (10/3/2023).
Bisa disimpulkan, Cristino warga Muhammadiyah adalah benar lantaran dia tinggal di kawasan Al-Muhammadiyah. Namun, tidak benar dia menjadi anggota persyarikatan Muhammadiyah.
Saksikan Video Pilihan Ini:
Strategi PCIM Arab Saudi
Terkait aktivitas PCIM Arab Saudi sendiri, menurut Hamka berpusat di kota Madinah. Apalagi, PCIM Arab Saudi memiliki Markaz Dakwah di kota tempat hijrahnya Nabi Agung Muhammad Saw.
“Aktivitas PCIM memang terpusat di Madinah karena banyak warganya di Madinah. Tapi (PCIM) juga melebarkan sayapnya ke Riyadh, Jeddah, seperti program sembako di Jeddah dan tahun ini di Riyadh. Dan tahun ini akan ada Musycab di Tha’if. Jadi kita terus membersamai teman-teman dari wilayah-wilayah lain,” terangnya.
Meski masyarakat Arab Saudi belum sepenuhnya mengetahui gerakan Muhammadiyah, namun PCIM Arab Saudi berkomitmen untuk menjaga pesan dari Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam kunjungannya baru-baru ini.
“Pesan dari Ayahanda, khusus karena di Saudi ini sistemnya kerajaan, maka di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Artinya PCIM itu memang istimewa, tidak bisa disamakan antara yang lainnya sehingga kita harus taat pada peraturan setempat sesuai dengan apa yang bisa kita lakukan. Contohnya, tidak bisa masang logo di Markaz, atau terang-terangan mengatakan Muhammadiyah ada di sini karena ormas apapun di Arab Saudi adalah terlarang meskipun di bawah kedutaan,” kata Hamka.
“Alhamdulillah kemarin (PCIM dan Haedar Nashir) silaturahim dengan salah satu imam Masjidil Haram dan beliau (imam) sangat simpati sekali dengan apa yang ada di Persyarikatan,” pungkasnya.
Tim Rembulan