Tarawih Pertama Ramadhan 2023 Bersamaan dengan Hari Raya Nyepi, Ini Pesan Menyentuh Muhammadiyah Bali

Yang menarik, bagi kaum muslimin di pulau Bali, malam pertama bulan Suci Ramadhan atau tarawih pertama itu ternyata bertepatan dengan perayaan Hari Suci Umat Hindu, yaitu Hari Raya Nyepi

oleh Liputan6.comDiterbitkan 10 Maret 2023, 11:30 WIB
Ilustrasi Hari Raya Nyepi di Bali. (HerryRodin/Instagram)

Liputan6.com, Jakarta - Muhammadiyah telah menetapkan awal bulan Ramadhan 1444 Hijriah jatuh pada Kamis, 23 Maret 2023 sehingga tarawih dilaksanakan mulai Rabu malam tanggal 22 Maret 2023.

Yang menarik, bagi kaum muslimin di pulau Bali, malam pertama bulan Suci Ramadhan itu ternyata bertepatan dengan perayaan Hari Suci Umat Hindu, yaitu Hari Raya Nyepi.

BACA JUGA: Nyepi, Pelabuhan Ketapang Ditutup

Hari Raya Nyepi sendiri umumnya dilaksanakan pemeluk Hindu dengan tidak melakukan berbagai hal berikut seperti; menyalakan api atau lampu, melakukan kegiatan fisik atau bekerja, keluar rumah atau bepergian, dan menikmati hiburan atau rekreasi.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Provinsi Bali, Muhammad Saffaruddin menyampaikan saran berkenaan dengan pelaksanaan tarawih pertama bulan Ramadan agar berjalan penuh toleransi kepada masyarakat Hindu.

Saffaruddin menyarankan warga Muslim mengatur pelaksanaan ibadah tarawih agar tidak mengganggu pemeluk Hindu yang sedang melaksanakan ritual Nyepi.

“Kalau jauh jarak rumah dengan tempat ibadah disarankan lebih baik tarawih perdana di rumah saja, tapi bilamana dekat, dan masjid atau musala itu menyelenggarakan salat berjamaah serta dapat izin aparat setempat, maka tidak jadi masalah, dengan catatan bisa diselenggarakan tanpa ada hal-hal yang bisa bersinggungan (mengganggu Nyepi),” kata dia, dikutip dari muhammadiyah.or.id, Jumat (10/3/2023).

Apabila aparat pemerintah setempat mengizinkan kegiatan di luar rumah, maka Saffaruddin menyarankan agar pergi ke masjid/musala dengan berjalan kaki. Selain itu, masjid dan musala disarankan mengatur minimal pencahayaan dan penggunaan pengeras suara agar tidak mengganggu pelaksanaan prosesi Nyepi.

“Nanti kan tarawih perdana mau tidak mau malam hari. Kita tetap harus bisa menghormati, kan gelap, mungkin menggunakan pencahayaan yang tidak menyorot ke luar,” dia berpesan.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

Toleransi

Salat Tarawih penganut Islam Aboge di Masjid Saka Tunggal, Cikakak, Wangon, Banyumas, Ramadan 1440 Hijriyah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Hal yang sama, kata dia pernah terjadi pada saat Hari Raya Nyepi bertepatan dengan Salat Jumat.

“Pas Jumat (dulu) kita tetap melaksanakan Salat Jumat, namun seperti imbauan MUI dan Kementerian Agama, kita jalan kaki ke tempat yang bisa ditempuh dan tidak menggunakan suara kencang,” katanya.

Dia mengemukakan pentingnya toleransi untuk menjaga hubungan baik antar-umat beragama.

“Maka saya imbau jika memang rumahnya berjarak jauh dengan tempat ibadah seyogyanya di rumah saja, pun bilamana berdekatan dan kebetulan diadakan shalat berjamaah dan sudah koordinasi kami persilakan,” imbuhnya.

Terakhir, Saffaruddin berharap agar ada pendataan masjid dan musala yang menyelenggarakan salat berjamaah pada Hari Suci Nyepi agar bisa dipantau dan berjalan dengan penuh kedamaian dan penghargaan kepada agama lain.

“Kalau tarawih perdana biasanya (jamaah) membludak. Jam biasanya dari 19.30 WITA sudah bersiap dan selesainya kurang lebih jam 21.00 WITA,” kata Saffaruddin.

“Kepada pemerintah daerah juga kami harap bisa tetap solid, memberikan peluang, (pemeluk) Hindu bisa Nyepi dengan tenang dan Muslim bisa diberikan keleluasaan beribadah,” dia menjelaskan.

Tim Rembulan

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya