Curahan Sakit Hati Pelatih Newcastle usai Dipecundangi MU di Final Carabao Cup

Setelah peluit berbunyi, sakit hati dan emosi negatif menguasai Newcastle.

oleh Muhammad YantoDiperbarui 27 Februari 2023, 22:03 WIB
Penyerang Newcastle United Allan Saint-Maximin berebut bola dengan bek Manchester United (MU) Aaron Wan-Bissaka pada partai final Carabao Cup 2022/2023 di Stadion Wembley, Senin dini hari WIB (27/2/2023). MU tampil tangguh untuk membekuk Newcastle dengan skor meyakinkan 2-0 dan menjadi juara Carabao Cup 2022-2023. (AP Photo/Scott Heppell)

Liputan6.com, Jakarta - Pelatih Newcastle United Eddie Howe mengungkapkan kondisi timnya usai dikalahkan Manchester United (MU) pada final Carabao Cup 2022/2023.

Bermain di Wembley Stadium, Minggu (26/2/2023), Newcastle tak berdaya 0-2 dan harus rela melihat MU mengangkat trofi juara.

Ambisi Newcastle menuntaskan dahaga gelar yang sudah berlangsung lebih dari setengah abad dibuyarkan oleh Casemiro dan bunuh diri Sven Botman pada menit ke-33 dan ke-39.

Eddie Howe mengakui, setelah peluit panjang berbunyi, aura negatif langsung menyelimuti ruang ganti tim. "Sakit, itu yang kami rasakan ketika kalah. Kami merasa tak layak ketika semua tak sesuai harapan," kata Eddie Howe, dilansir, Chronicle Live.

"Secara natural seperti itu yang kami rasakan. Setelah pertandingan berakhir, seketika, emosi negatif menyelimuti Anda. Itulah yang terjadi," ujar Howe.

Lagi dan lagi, Newcastle harus memendam impin mereka untuk meraih trofi pertamanya sejak 1955. Kali terakhir mereka menjadi juara adalah pada ajang Piala Fairs pada 1968.

Newcastle berkali-kali merasakan sakitnya kalah di final. Dalam 68 tahun terakhir, mereka lima kali masuk ke final, dengan rincian tiga Piala FA dan dua Piala Liga Inggris. Tapi mereka selalu takluk.

Selain itu, Newcastle juga mencatatkan diri sebagai tim dengan rentetan kekalahan terbanyak di Wembley, yakni sembilan kali sejak Piala FA 1974.

Meski demikian, Howe tetap memberikan apresiasi kepada pemainnya. Dia berharap, bermain di final Carabao Cup ini bisa jadi pelecut untuk bisa lebih baik ke depannya.

"Kami boleh bangga dengan performa kami, tapi kami memang kurang membunuh di depan gawang. Kami tidak ingin hasil di final ini merusak fokus tim. Para pemain sudah memberikan segalanya," ujar Howe.

"Ini proses, kami ingin rutin ada di sini. Jalan masih panjang untuk menjadi tim seperti yang kami inginkan." ungkapnya, menambahkan.


Revolusi Setelah Dibeli Pangeran Arab Saudi

Memang, Newcastle United masih harus menunggu lebih lama lagi demi bisa juara dalam kompetisi besar. Namun, satu hal yang tidak bisa dipungkiri, tim berjuluk The Magpies ini menunjukkan perubahan yang siginifikan.

Lanjut Baca:

Meski kalah, Newcastle United akhirnya merasakan lagi final pertama mereka sejak 1999. Saat itu, mereka juga dikalahkan oleh Manchester United di final Piala FA 1999. Kembalinya Newcastle ke partai final juga tak lepas dari revolusi besar-besaran usai dibeli Pangeran Arab Saudi, Mohammed bin Salman lewat Public Investment Fund (PIF) pada 2021 lalu. Setelah hampir 16 bulan, musim ini revolusi yang dipimpin Howe mulai memperlihatkan hasil. Selain tampil di final Carabou Cup, The Magpies kini berada di urutan kelima di Liga Inggris setelah awal yang luar biasa dan hanya kalah sekali dalam 20 laga. Newcastle mengoleksi 41 poin, selisih empat angka dari Tottenham Hotpur di batas zona Liga Champions. Namun, mereka masih bisa menyodok ke peringkat empat lantaran memiliki dua laga simpanan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya