Wall Street Melambung, Indeks Nasdaq Perkasa Sendirian

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menghijau pada perdagangan saham Rabu, 15 Februari 2023. Indeks Nasdaq catat kenaikan terbesar.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 16 Februari 2023, 08:06 WIB
Wall street kompak menguat pada perdagangan Rabu, 15 Februari 2023. (Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/ llyod blazek)

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Rabu, 15 Februari 2023 seiring pelaku pasar mempertimbangkan data penjualan ritel dan inflasi AS terbaru. Data inflasi terbaru mendorong kekhawatiran kenaikan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Dikutip dari CNBC, Kamis (16/2/2023), penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones naik 38,78 poin atau 0,11 persen ke posisi 34.128,05. Indeks S&P 500 mendaki 0,28 persen ke posisi 4.147,60 yang didorong lonjakan saham SolarEdge dan Generac. Dua saham tersebut masing-masing naik 9,05 persen dan 8 persen.

Indeks Nasdaq bertambah 0,92 persen menjadi 12.070,59 yang didorong lonjakan saham Airbnb sebesar 13,35 persen setelah mengalahkan laba.  Keuntungan di saham Tesla, Rivian, dan Lucid juga memimpin kenaikan indeks Nasdaq.

Saham tergelincir pada hari sebelumnya, saat laporan penjualan ritel pada Januari naik 3 persen, sementara ekonom yang disurvei Dow Jones prediksi 1,9 persen. Rilis penjualan ritel itu menunjukkan ekonomi AS bertahan meski kenaikan suku bunga oleh the Fed untuk meredam inflasi.

"Ketahanan pasar tenaga kerja adalah alasan utama konsumen terus berbelanja dan selama itu terjadi, inflasi akan tetap,” ujar Chief Invesment Officer Independent Advisor Allinace Chris Zaccararelli, dikutip dari CNBC.

Ia menuturkan, the Fed akan perlu menaikkan suku bunga lebih tinggi dan mempertahankan lebih lama dari pada yang diperkirakan saat ini. "Ini akan menyebabkan pasar mengalami beberapa volatilitas yang signifikan karena pasar saham dan obligasi diberi harga untuk skenario jinak dan bukan lebih yang sulit yang kita tuju,” kata dia.

 

Data Penjualan Ritel AS

(Foto: Ilustrasi wall street, Dok Unsplash/Sophie Backes)

Data penjualan ritel pada Rabu setelah laporan inflasi Amerika Serikat (AS) terbaru dirilis. Laporan indeks harga konsumen pada Januari datang sedikit di atas perkiraan ekonom menunjukkan jalan yang berpotensi lebih panjang dalam perjuangan the Federal Reserve (the Fed) melawan kenaikan harga.

Pada akhir pekan ini, pelaku pasar akan mendengarkan pidato dari pejabat the Federal Reserve untuk mengetahui tanda-tanda apa yang mungkin dilakukan bank sentral pada pertemuan berikutnya pada Maret.

Investor juga akan mencermati hasil laba. Adapun Zillow, Shopify, dan DoorDash adalah beberapa perusahaan yang dijadwalkan untuk rilis kinerja pekan ini.

Sekitar tiga perempat dari perusahaan S&P 500 telah mengunggah hasil kinerja keuangannya. Dari perusahaan tersebut, 69 persen telah mengalahkan harapan laba. Berdasarkan data dari the Earnings Scout, tingkat hasil kinerja di bawah rata-rata tiga tahun sebesar 79 persen.

Penutupan Wall Street pada 14 Februari 2023

Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan saham Selasa, 14 Februari 2023. Indeks Dow Jones merosot sehingga membalikkan kenaikan sebelumnya setelah laporan indeks harga konsumen (IHK) Januari 2023 menunjukkan inflasi tumbuh 6,4 persen, lebih tinggi dari perkiraan.

Dikutip dari CNBC, Rabu (15/2/2023), pada penutupan perdagangan wall street saat momen Valentine, indeks Dow Jones merosot 156,66 poin atau 0,46 persen ke posisi 34.089,27. Indeks S&P 500 terpangkas 0,03 persen menjadi 4.136,13. Indeks Nasdaq menguat 0,57 persen ke posisi 11.960,15 yang didorong saham teknologi termasuk Tesla dan Nvidia masing-masing naik 7,51 persen dan 5,43 persen.

Imbal hasil obligasi AS menguat. Imbal hasil obligasi AS bertenor 6 bulan berada di posisi 5,022 persen, di atas 5 persen untuk pertama kali sejak Juli 2007. Pembacaan inflasi yang sangat tinggi membuat saham tertekan.

Indeks harga konsumen naik 0,5 persen pada Januari 2023 sehingga membawa kenaikan inflasi tahunan 6,4 persen. Inflasi tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan ekonomi mengenai barang dan jasa naik 0,4 persen pada bulan tersebut dan 6,2 persen pada 2023, berdasarkan survei oleh Dow Jones. Selain itu, laporan Desember direvisi untuk menunjukkan sedikit kenaikan bukan penurunan.

Sebelum dirilis, JPMorgan prediksi, kenaikan inflasi tahunan 6,4 persen menjadi 6,5 persen akan memicu koreksi S&P 500 1,5 persen pada Selasa, 14 Februari 2023. Itu lebih baik dari pada ketakutan terburuk dari kenaikan tahunan melebihi 6,5 persen, percepatan inflasi yang memicu penurunan S&P 500 sebesar 2,5 persen, prediksi JPMorgan.

 

Inflasi Masih Berada di Puncak

(Foto: Ilustrasi wall street. Dok Unsplash/lo lo)

Laporan tersebut sebagian besar lebih baik dari yang ditakutkan.  Namun, pada saat yang kemungkinan bank sentral AS atau the Fed tidak akan mundur dari pengetatan suku bunga.

"Meskipun tidak ada kejutan besar dalam pembacaan IHK hari ini, adalah pengingat sementara inflasi telah mencapai puncaknya, mungkin perlu beberapa saat sebelum kita melihatnya moderat ke tingkat normal,” ujar Head of Model Portfolio Construction Morgan Stanley Global Investment, Mike Loewengart, dikutip dari CNBC.

Ia menambahkan, hal yang menjadi pertanyaan apakah inflasi akan dapat turun ke level target the Fed dengan pasar tenaga kerja seketat saat ini. “Itu bisa menjadi resep untuk soft landing, tetapi masih harus dilihat kapan the Fed akan beralih dari kenaikan suku bunga dan apakah pasar tenaga kerja akan kehilangan ketahanannya,” kata dia.

Di luar CPI, investor juga akan mengamati rilis dari sektor konsumen antara lain Kraft Heinz, Boston Beer, dan DoorDash, yang dilaporkan rilis pekan ini.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya