Liputan6.com, Jakarta - Lionel Messi punya peluang memecahkan banyak rekor di final Piala Dunia 2022. Namun, ada satu yang pasti dia perbarui saat menghadapi Prancis di Stadion Lusail, Minggu (18/12/2022).
Kapten Argentina itu bakal jadi pemain dengan penampilan terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Dia akan melakoni pertandingan ke-26 dalam kariernya Ahad nanti.
Advertisement
Pemain Paris Saint-Germain ini sebelumnya menyamai pemilik rekor sebelumnya Lothar Mathaus saat Argentina menaklukkan Kroasia di semifinal Piala Dunia 2022.
Menegaskan bakal pensiun usai turnamen nanti, Messi tidak bakal menambah jumlah laga saat Piala Dunia mengunjungi Amerika Serikat-Kanada-Meksiko empat tahun mendatang.
Namun, rekornya ini tidak bakal hilang dalam waktu dekat. Pasalnya, para pesaing jauh tertinggal.
Dari yang masih aktif, ada Cristiano Ronaldo asal Portugal. Namun, partisipasi Ronaldo di Piala Dunia selanjutnya masih dalam tanda tanya. Pasalnya, dia saat ini sudah berusia 37 tahun.
Dengan Messi hampir pasti tampil di final edisi 2022, Ronaldo akan tertinggal empat angka di belakang rival abadinya tersebut. Artinya, kalaupun masih bermain empat tahun mendatang, Ronaldo mesti merumput di tiga partai fase grup plus 16 besar hanya cuma untuk menyamakan.
Di belakang Ronaldo, nama-nama lain juga sulit mengejar. Mereka adalah Hugo Lloris (19), Thomas Muller (19), Manuel Neuer (19), dan Antoine Griezmann (18).
Cetak Gol di Tiap Babak
Messi berpotensi menulis sejarah baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dia mencoba jadi pemain pertama yang mencetak gol di tiap fase babak gugur pada satu edisi Piala Dunia.
Sebelumnya Messi merobek gawang Australia (16 besar), Belanda (8 besar), dan Kroasia (semifinal) untuk membawa Argentina lolos ke final Piala Dunia 2022.
Kala membuat gol melawan Kroasia di Lusail Starium, Rabu (14/12/2022) dini hari WIB, Messi mengikuti jejak lima nama. Mereka adalah Salvatore Schillaci (1990), Roberto Baggio (1994), Hristo Stoichkov (1994), Davor Suker (1998), dan Wesley Sneijder (2010).
Namun, para pendahulunya itu tidak ada yang bisa menciptakan gol di final. Schillaci (Italia), Stoichkov (Bulgaria), dan Suker (Kroasia) tidak mendapat kesempatan karena negara masing-masing takluk di semifinal.