Lagi, Venezuela Potong Nilai Mata Uangnya

Pemerintahan Presiden Hugo Chavez kembali membuat kebijakan devaluasi atau penurunan mata uangnya terhadap mata uang asing. Devaluasi ini akan mulai berlaku pada Rabu 13 Februari 2013.

oleh Liputan6Diterbitkan 12 Februari 2013, 13:11 WIB
Pemerintahan Presiden Hugo Chavez kembali membuat kebijakan devaluasi atau penurunan mata uangnya terhadap mata uang asing. Devaluasi ini akan mulai berlaku pada Rabu 13 Februari 2013.

Nilai kurs mata uang Bolivar Venezuela menjadi lebih rendah terhadap dolar AS. Tercatat 1 dolar AS kini menjadi 6,3 bolivar yang nilainya turun dari sebelumnya 1 dolar AS sebesar 4,3 bolivar, yang berarti devaluasi 32 persen.

Kebijakan devaluasi mata uang bolivar yang dilakukan Chavez ini adalah yang kelima kalinya sejak tahun 2003 dan terakhir dilakukan pada Januari 2010.

Seperti dilansir Financial Times, Selasa (12/2/2013), kepanikan terjadi di Venezuela sejak pemerintah mengumumkan akan melakukan devaluasi bolivar pada Jumat 8 Februari 2013, saat masyarakat tengah menikmati libur karnaval. Warga terlihat panik menghadapi pelaksanaan devaluasi yang akan mulai berlaku pada Rabu 13 Februari 2013.

Kepanikan terlihat dari pembeli yang memadati toko-toko di Venezuela selama akhir pekan Karnaval dan hingga kini akhirnya banyak toko yang memilih tutup. Perintah devaluasi dari Chavez ini diterima oleh para pejabat pemerintahan seperti Wakil Presiden Nicolas Maduro, dari ranjang salah satu rumah sakit di Kuba, dimana Chavez sedang menjalani pemulihan pasca operasi kanker dua bulan lalu.

Chavez meminta Wakil Presiden Nicolas Maduro bagaimana perlunya menyelamatkan ekonomi negara dengan melakukan devaluasi. Pengumumannya kemudian dilakukan oleh Menteri Keuangan Jorge Giordani pada Jumat 8 Februari 2013 dan berlaku efektif 13 Februrai 2013.

Menurunnya nilai mata uang bolivar terhadap dolar AS ini diharapkan bisa mendongkrak nilai ekspor venezuela sehingga harga ekspor venezuela di pasar dunia menjadi lebih murah. Devaluasi ini juga dilakukan sebagai upaya untuk mengontrol ketat nilai tukar bolivar dengan membatasi pasokan dolar AS dan mencegah kenaikan mata uang dalam negeri.

Namun akibatnya, harga peralatan rumah tangga seperti kulkas dan kompor impor yang mendapatkan permintaan yang sangat tinggi menjadi lebih mahal. Barang-barang impor sendiri sangat banyak jumlahnya di Venezuela.

Pihak oposisi menangkap apa yang terjadi sekarang ini merupakan devaluasi kelima Venezuela sejak pengenalan pengetatan kontrol mata uang pada tahun 2003. Oposisi mengkritik kenapa pengumuman dilakukan pada hari Jumat, saat sebagian besar masyarakat sedang merayakan liburan di pantai.

Chavez sendiri saat terpilih kembali pada Oktober 2012 memang mengumumkan akan konsisten dengan kebijakan ekonominya yang telah dilakukan selama ini. Ia bahkan menuding ada upaya dari pihak oposisi yang ingin membuat ekonomi Venezuela menjadi 'neo liberal'.

Wakil Presiden Nicolas Maduro membela kebijakan devaluasi sebagai upaya untuk memperkuat ekonomi dengan mengoptimalkan pendapatan sekaligus melindungi nilai mata uang bolivar dari 'serangan para spekulan'.

Tapi para kritikus menilai upaya devaluasi ini akan mengalami kegagalan karena permintaan dolar AS akan tetap lebih besar daripada kemungkinan jumlah pasokan pemerintah.

"Lebih baik pemerintah meningkatkan jumlah (valuta asing) dengan membagikan cadangan dolar AS atau pemerintah akan mengalami kekurangan", kata Luis Vicente Leon, dalam sebuah jajak pendapat dan ekonom di Datanalisis.

Para ekonomi lokal menilai nilai keseimbangan agar mata uang asing tidak lagi murah di venezuela adalah dengan kurs 1 dolar AS menjadi sebesar 9 bolivar.

Sementara Asdrubal Oliveros, yang merupakan konsultan ekonom Ecoanalitica yang berbasis di Caracas, menanggapi langkah ini akan mengurangi tekanan pada defisit fiskal yang diperkirakan mencapai 7 - 15 persen dari produk domestik bruto. Dengan meningkatkan pendapatan bersih negara hampir 4% dari Gross Domestic Product (GDP) atau US$ 13 miliar sesuai kurs yang baru.

Para pengamat memperkirakan devaluasi ini akan memangkas nilai dolar AS dari utang dalam negeri dari US$ 42,9 miliar menjadi US$ 29,3 miliar.

Sementara Ecoanalitica memperkirakan terjadinya penurunan daya beli konsumen sebesar 8 persen karena pemerintah melakukan keputusan pengurangan upah minimum kerja.

"Yang paling terkena dampak dalam hal ini selain konsumen adalah perusahaan multinasional yang tidak bisa mengembalikan modal, dan mereka pada akhirnya akan kehilangan secara bertahap 46,5 persen dari akumulasi dana mereka dalam Bolivar", kata Oliveros.

Oliveros juga menambahkan bahwa devaluasi  akan memacu inflasi lebih dari 20 persen yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Ini karena lebih dari sepertiga barang yang dikonsumsi oleh rakyat Venezuela berasal dari impor. Sementara sekitar setengah dari barang yang diproduksi secara lokal bergantung pada hasil impor untuk mendukung produksinya.

Meskipun secara teori, perusahaan berbasis ekspor akan mendapatkan keuntungan dari nilai tukar yang lebih kompetitif, namun sumbangan ke pendapatan sangat kecil. Karena nilai ekspor Venezuela 94 persen disumbang dari ekspor minyak.

Ekonom juga menunjukkan bahwa industri dalam negeri tidak mungkin mendapatkan banyak keuntungan dari devaluasi ini. Karena hubungan yang kurang baik antara pemerintah dan sektor swasta, dengan kebijakan pengambilalihan perusahaaan yang sering tidak dikompensasi, serta kontrol ekonomi yang kuat. (Igw)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya