Berlari Merawat Bumi Lewat Pertamina Eco RunFest

Kampanye lingkungan hidup juga bisa dilakukan lewat cara yang menyenangkan dan menyehatkan.

oleh Marco TampubolonDiperbarui 10 November 2022, 17:39 WIB
Pertamina siap menggelar ajang lomba lari dan festival ramah lingkungan, Pertamina Eco RunFest 2022 di Jakarta.

Liputan6.com, Jakarta Tidak perlu menjadi ahli atau aktivis untuk memahami dunia sedang tidak baik-baik saja. Dampak perubahan iklim semakin nyata.

Es yang mencair di kutub utara akibat pemanasan global saat ini sudah bukan lagi sebatas prediksi para peneliti. Musibah itu sudah benar-benar terjadi. Ratusan gigaton gletser di Alaska telah mencair sejak 1961 hingga 2016 dan menyebabkan kenaikan air laut hingga 8 mm. Di Antartika, hal yang sama juga terjadi.

Bongkahan-bongkahan es di sana juga terus mencair hingga saat ini. Menurut Peneliti Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIR), jumlahnya mencapai 70.8 miliar ton per tahun.

Di Timur Indonesia, Puncak Carstensz yang menjadi lokasi salju abadi di Tanah Air juga tak bisa menahan pemanasan global. Jurnal Global and Planetary Change seperti diberitakan National Geographic, akhir tahun lalu menyebutkan gletser di gunung yang dinamai Nemangkawi Ninggok oleh orang Amungme, Papua itu mengalami penyusutan sebesar 93 persen selama 38 tahun, sejak1980. Dan menurut laporan terbaru PBB, lapisan es di puncak Taman Nasional Lorentz bisa saja lenyap total pada tahun 2050.

Es yang mencair di Kutub Utara dan Selatan tidak hanya mengganggu kehidupan ekosistem di sana saja. Naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global juga berimbas ke tempat lain, termasuk Indonesia.

Tidak percaya? Coba amati peta interaktif Coastal Climate Central. Di sana Anda akan melihat sejumlah banyak daerah pesisir yang bertanda merah atau sudah berada di bawah permukaan laut alias tenggelam.

Selain itu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dalam acara Forum Group Discussion, awal Oktober lalu menyebut, pemanasan global telah membuat lebih dari 700 hektare daratan di utara Jawa Barat menghilang. Tepatnya di sepanjang Pantai Utara dari mulai Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang sampai Kabupaten Subang. Khusus di Bekasi, daratan yang hilang tersebut mencapai 400 hektare.

Pemanasan global dan perubahan iklim tentu tidak lepas dari kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini. Berbagai polusi dan pencemaran yang tidak terkontrol telah membuat bumi lebih cepat menua.

Lanjut Baca:

Dalam situasi seperti ini, gaya hidup berkelanjutan dan ramah lingkungan sejatinya jadi pilihan. Sayang konsep sustainable living kerap hanya enak di lidah saja. Penerapannya, tak semudah pengucapannya. Dalam sebuah studi, 1000 orang pernah ditanya apakah hidup berkelanjutan penting bagi mereka. 90 persen dengan mantap akan menjawab: ya! Namun angka ini langsung merosot ke 40 persen saat kemudian ditanya apakah mereka menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak faktor yang membuat sustainable living gampang lekang dari ingatan. Selain ongkosnya yang mahal, pola hidup ramah lingkungan juga dianggap terlalu ribet di zaman yang serba mudah saat ini. Di tengah beragam tantangan ini, PT Pertamina Persero tetap berkomitmen untuk merawat bumi. Salah satunya lewat panggung olahraga dengan menggelar agenda rutin Pertamina Eco RunFest. Sejak 2014, balap lari ini tidak hanya cari pemenang saja, tapi sosialisasi program ramah lingkungan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya