Liputan6.com, Jakarta Bayern Munchen tampil dominan saat menghadapi klub asal Republik Ceko Viktoria Plzen di Liga Champions. Munchen tak tertahan untuk menang 5-0 atas Plzen pada matchday ketiga Liga Champions yang berlangsung di Allianz Arena.
Gol Munchen dicetak Leroy Sane (menit 7,50), Serge Gnabry (13), Sadio Mane (21) dan Eric Maxim Choupo-Moting (59). Bayern seperti bukan lawan bagi Plzen sehingga tak mampu membendung Leroy Sane cs.
Advertisement
Namun yang disorot justru spanduk yang ada di stadion Allianz malam atau dini hari WIB itu. Fans Munchen mengusung spanduk yang mengkritik polisi Indonesia setelah terjadinya Tragedi Kanjuruhan.
Seperti foto yang beredar di media sosial, fans Bayern Munchen membentangkan spanduk besar yang berisi kritikan keras kepada polisi. Seperti diketahui, polisi dinilai menjadi salah satu pihak paling bertanggung jawab karena sudah menyemprotkan gas air mata kepada penonton.
"Lebih dari 100 orang yang dibunuh polisi. Ingatlah orang yang sudah meninggal di Kanjuruhan," begitu bunyi spanduk yang terbentang diantara padat dan riuhnya Allianz Arena atau kini dinamai stadion fusball Arena ini.
Berdasarkan data terakhir, ada 6 korban lagi yang dinyatakan tewas. Ini membuat tragedi Kanjuruhan sudah memakan korban jiwa 131 orang.
Simpati Mengalir
Dunia internasional, khususnya stakeholder sepak bola, memang terguncang dengan tragedi Kanjuruhan. Di era modern, ini menjadi kejadian terparah yang pernah terjadi.
Sebelumnya, insiden terparah juga terjadi di Accra Sports Stadium Ghana. Kerusuhan di 2001 itu menewaskan 126 jiwa.
Tragedi paling kelam di sepak bola terjadi sangat lama yaitu di 1964 lalu. Saat itu, kerusuhan suporter terjadi di Estadion Nacional, Lima, Peru yang menewaskan 328 orang.
Klub sepak bola dunia baik yang kecil maupun besar mengucapkan bela sungkawa dan simpati mereka atas insiden ini. Federasi Sepak Bola dunia, FIFA pun mengibarkan bendera setengah tiang di markas mereka di Zurich Swiss.
Tak Ada Rivalitas
Tragedi yang terjadi di Malang juga membuat suporter Indonesia tersentak. Selama ini, rivalitas antar suporter di klub bola Indonesia begitu tinggi.