Pascakebakaran, Kuli Angkut Pasar Tanahabang Sering Menganggur

Setelah Pasar Tanahabang terbakar, para kuli angkut lebih sering menganggur. Penghasilan mereka pun menukik hingga 50 persen lebih atau mencapai Rp 50 ribu per hari.

oleh Liputan6Diterbitkan 03 Maret 2003, 08:21 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Kebakaran Pasar Tanahabang, Jakarta Pusat, berdampak buruk pada kehidupan para kuli angkut. Pascakebakaran, para kuli angkut yang tergabung dalam Persatuan Bongkar Muat Pasar Tanahabang ini lebih sering menganggur. Akibatnya, penghasilan mereka menurun drastis. "Sekarang, paling dapet buat makan doang," kata kuli angkut bernama Sudarto di Jakarta, baru-baru ini.

Sebelum kebakaran, Sudarto mengaku berpenghasilan Rp 100 ribu per hari. Sebab upah sekali angkut sekitar Rp 15.000 hingga Rp 20.000. Sekarang, duit yang dibawa pulang paling tinggi mencapai Rp 50 ribu. Bahkan terkadang nihil. Untuk tetap bisa mendapatkan penghasilan, para kuli angkut terpaksa bekerja sampingan seperti menjadi petugas parkir.

Sekadar diketahui, saat ribuan kios di Blok A dan E Pasar Tanahabang dilahap si jago merah, pertengahan bulan silam, para kuli angkutlah yang membantu para pemilik kios menyelamatkan barang dagangan. Dalam tempo sekitar empat jam, kuli-kuli angkut ini dapat membawa barang berupa tekstil dan pakaian jadi hingga dua ton. Amin, kepala 10 kuli angkut, mengatakan, dengan kerja keras di saat darurat itu, seorang anak buahnya bisa menerima upah sekitar Rp 60 ribu per orang. Di hari biasa mereka hanya membawa pulang Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per hari [baca: Api di Pasar Tanahabang Belum Sepenuhnya Padam].(ZAQ/Patria Hidayat dan Andi Azril)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya