Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia Qatar akan dimulai pada 21 November 2022 dengan menampilkan laga perdana Senegal vs Belanda. Tuan rumah Qatar juga akan bertanding melawan Ekuador pada hari itu.
Sebanyak 32 timnas negara peserta akan bertarung untuk mencapai final dan memperebutkan gelar juara pada laga puncak 18 Desember.
Advertisement
Gelaran Piala Dunia kali ini memang sedikit berbeda karena terpaksa dilangsungkan pada akhir tahun guna menghindari cuaca panas ekstrem di Qatar. Ini juga pertama kalinya Piala Dunia digelar di kawasan Arab.
Selain timnas ke-32 negara peserta beserta pelatih dan tim ofisialnya, jutaan fans dari seluruh dunia juga dipastikan akan memadati Qatar pada November nanti. Di zaman modern sekarang ini, mobilitas manusia lintas negara sangatlah terbuka dan mudah diakses, baik lewat jalur udara, laut, maupun darat.
Lewat jalur udara, tersedia berbagai rute penerbangan komersial internasional yang menghubungkan negara-negara di dunia dalam hitungan jam.
Namun, pernahkah terlintas di pikiran kita bagaimana tim peserta berpindah dari belahan dunia yang satu ke belahan dunia yang lain pada awal-awal Piala Dunia di mana moda transportasi belum secanggih dan sebanyak sekarang?
Menjelang Piala Dunia Qatar, inilah saatnya untuk melakukan kilas balik kisah perjalanan panjang yang harus ditempuh rombongan peserta Piala Dunia sebelum berlaga di turnamen pada Piala Dunia 1930 hingga Piala Dunia 1950.
* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Banyak Jalan Menuju Uruguay (1930)
Piala Dunia pertama digelar di Uruguay pada 1930. Edisi pertama ini satu-satunya Piala Dunia yang digelar tanpa babak kualifikasi.
Setiap negara yang tergabung di FIFA diundang untuk berkompetisi. Namun, pada akhirnya hanya 13 tim berlaga karena sulitnya melakukan perjalanan jauh ke Amerika Selatan pada saat itu.
Agar bisa tampil berlaga di Piala Dunia edisi pertama, para anggota tim negara peserta harus menempuh perjalanan panjang dengan kereta dan kapal laut. Beberapa tim dari beberapa negara bahkan memutuskan bepergian bersama untuk menghemat biaya.