Liputan6.com, Jakarta - Pada perdagangan Rabu (20/7/2022) Rupiah ditutup melemah 13 poin walaupun sempat menguat 10 poin di level Rp 14.989. Sedangkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya Rupiah berada di posisi 14.976.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah berpotensi melemah pada perdagangan Kamis, 21 Juli 2022.
Advertisement
"Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 14.970 hingga Rp 14.090,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu, 20 Juli 2022.
Secara internal, Bank Indonesia dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2022 pada hari ini dan besok (20-21 Juli 2022). Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun para analis, pasar terbelah dua ada yang menginginkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen.
Selain itu, ada yang menginginkan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,5 persen. Namun mempertahankan suku bunga acuan merupakan solusi BI dibulan ini.
"Sebagian analis memperkirakan kenaikan BI-7DRR menjadikan stabilitas rupiah sebagai salah satu faktor. Tren kenaikan suku bunga acuan di tingkat global sementara di sisi lain BI masih memberlakukan kebijakan dovish menjadi salah satu penyebab investor asing meninggalkan Indonesia. Derasnya capital outflow membuat rupiah tertekan," ujar Ibrahim.
Sementara itu, surplus besar pada neraca perdagangan juga akan membantu kinerja transaksi berjalan sehingga tekanan kepada nilai tukar bisa berkurang. Sebagai catatan, neraca perdagangan membukukan surplus sebesar USD 5,09 miliar.
"Secara keseluruhan, surplus pada Semester Pertama 2022 menembus USD 24,89 miliar. Pencapaian tersebut adalah yang tertinggi sepanjang sejarah," ujar Ibrahim
Neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2022 diperkirakan tercatat surplus. Surplus neraca transaksi berjalan Indonesia sejak kuartal II 2021 yang ditopang oleh tren kenaikan harga komoditas mengindikasikan kondisi keseimbangan eksternal tetap solid sehingga tetap akan mendukung stabilitas rupiah.
Faktor lain yang membuat Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga pada bulan ini adalah inflasi yang masih terjaga. Laju kencang inflasi Indonesia lebih dipengaruhi oleh faktor supply. Inflasi akan melandai jika supply kembali normal.
* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Dolar AS Melemah
Di sisi lain, dolar AS melemah lebih jauh pada Rabu, karena bantuan Eropa mungkin menghindari ketakutan terburuk mengenai kekurangan energi, dan pada kemungkinan Bank Sentral Eropa dapat memberikan kenaikan suku bunga yang lebih agresif.
Adapun Federal Reserve AS mungkin mundur dari menaikkan suku bunga dengan persentase poin penuh ketika bertemu minggu depan dan, sebaliknya, tetap dengan kenaikan 75 basis poin.
Menjelang pertemuan Fed minggu depan, pasar memperkirakan peluang 23,2 persen dari kenaikan suku bunga 100 bp, dengan ekspektasi pelonggaran kenaikan suku bunga jumbo setelah pembuat kebijakan dengan cepat menuangkan air dingin ke dalamnya.
Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengatakan pada hari Selasa bahwa kenaikan suku bunga 50 basis poin akan menjadi "di antara pilihan di atas meja" pada pertemuan BoE berikutnya.
Rupiah Perkasa Dibayangi Kenaikan Suku Bunga AS
Sebelumnya, nilai tukar rupiah masih bergerak menguat pada hari ini Rabu 20 Juni 2022 seiring turunnya ekspektasi besaran kenaikan suku bunga The Fed.
Kurs rupiah pagi ini bergerak menguat 2 poin atau 0,01 persen ke posisi 14.975 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.977 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah berpotensi menguat hari ini terhadap dolar AS seiring dengan membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko pagi ini.
"Indeks saham Asia bergerak positif di pembukaan pagi ini mengikuti penguatan indeks saham Eropa dan AS semalam. Sentimen positif ini dipicu oleh hasil positif laporan pendapatan perusahaan di Eropa dan AS," ujar Ariston dikutip dari Antara, Rabu (20/7/2022).
Selain itu, lanjut Ariston, turunnya ekspektasi pelaku pasar terhadap besaran kenaikan suku bunga acuan AS pada Juli dari 100 basis poin kembali ke 75 basis poin seperti yang disinyalkan oleh pejabat bank sentral AS The Fed, juga membantu mendorong pelemahan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya.
Sekarang, menurut Fed Watch Tools, probabilitas kemungkinan naik 75 basis poin pada Juli sebesar 64 persen, sementara 100 basis poin sebesar 36 persen.
"Ekspektasi kenaikan suku bunga acuan pada rapat Bank Sentral Eropa besok malam sebesar 50 basis poin, juga membantu menekan nilai tukar dolar AS," kata Ariston.
Ia menambahkan, bank sentral global lainnya juga masih akan menaikkan suku bunga acuannya untuk memerangi inflasi di negaranya masing-masing, seperti Australia, Inggris, dan Kanada.
Kebijakan tersebut kembali memperbesar selisih atau spread dengan suku bunga acuan AS yang membuat dolar AS tertekan terhadap nilai tukar lainnya.
Suku Bunga Acuan AS
Di sisi lain, kenaikan agresif suku bunga acuan AS tahun ini masih menjadi penekan nilai tukar rupiah karena spread suku bunga acuan AS dan Bank Indonesia menyempit.
"Aset dolar AS menjadi lebih menarik. Pasar masih menunggu kebijakan BI yang terbaru di hari Kamis ini," ujar Ariston.
Ariston memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak menguat ke level 14.930 per dolar AS dengan level resisten 15.000 per dolar AS.
Pada Selasa (19/7/2022) lalu, rupiah ditutup menguat 4 poin atau 0,03 persen ke posisi 14.977 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.981 per dolar AS.