Liputan6.com, Jakarta - Perubahan yang begitu cepat dan dinamis di dunia industri menuntut setiap perusahaan mampu beradaptasi agar tetap bertahan dan berkembang. Salah satu bentuk adaptasi yang biasa dilakukan oleh perusahaan yaitu proses rightsizing.
Rightsizing bukanlah hal yang baru. Proses ini tidak hanya dilakukan oleh perusahaan yang telah mapan secara struktural,tetapi juga telah diadaptasi oleh perusahaan-perusahaan startup.
Advertisement
Secara harfiah rightsizing diartikan sebagai sebuah upaya memastikan sumber daya perusahaan dipergunakan secara tepat dan efektif. Pada bagian perusahaan atau lini bisnis yang difokuskan pertumbuhannya, dapat dilakukan penambahan sumber daya. Sedangkan pada bagian perusahaan atau lini bisnis yang kurang efektif, dapat dilakukan efisiensi.
Sementara itu, di era serba dinamis seperti saat ini, rightsizing tidak hanya diartikan sebagai tindakan memotong jumlah karyawan, tetapi sebagai tindakan yang dilakukan oleh perusahaan agar karyawan berada pada posisi atau jabatan yang tepat, atau dikenal dengan istilah “right man on the right place”.
Seperti yang diketahui, beberapa perusahaan yang sudah menerapkan konsep rightsizing ini adalah Blue Bird, Shopee dan HM Sampoerna.
Blue Bird menilai. rightsizing tidak selalu berkaitan dengan perampingan atau pengurangan jumlah karyawan.
"Kami memandang rightsizing tidak selalu berkaitan dengan perampingan. Namun lebih jauh dari itu, kami lebih mengacu pada bagaimana setiap orang dapat bekerja dengan optimal untuk memberikan layanan terbaik,” ujar Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Sigit Djokosoetono melalui keterangan resminya, ditulis Selasa (22/6/2022).
Proses ini membuat perusahaan mendefinisikan lagi deskripsi pekerjaan dan mengatur ulang struktur karyawan sehingga potensi yang dimiliki oleh perusahaan dapat dimaksimalkan dengan baik. Dengan demikian, akan terwujud kinerja perusahaan yang lebih efektif dan efisien.
* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Penyesuaian Arah Bisnis
Perusahaan lain yang ditengarai melakukan rightsizing adalah Shopee. Perusahaan satu ini disebut melakukan penyesuaian pada arah bisnis, khususnya terhadap karyawan yang bekerja di divisi ShopeeFood dan ShopeePay, di sejumlah wilayah operasional seperti Asia Tenggara, Eropa dan Amerika Latin.
"(Mengingat) ketidakpastian yang meningkat dalam ekonomi yang lebih luas, kami percaya bahwa adalah bijaksana untuk membuat penyesuaian yang sulit tetapi penting untuk meningkatkan efisiensi operasional kami dan memfokuskan sumber daya kami," ujar CEO Shopee Chris Feng dalam memo internal yang dilihat The Strait Times Singapura.
Sejalan dengan Shopee, langkah serupa juga dilakukan oleh PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) di mana perusahaan mengalihkan kegiatan usaha penyediaan jasa kepada PT Philip Morris Sampoerna International Service Center (PMSISC) yang juga anak usaha dari PT Philip Morris Indonesia.
Langkah ini diambil perusahaan untuk meningkatkan efisiensi perusahaan dan lebih fokus pada kegiatan utamanya.
Seperti apapun bentuk rightsizing yang akan dilakukan oleh perusahaan, langkah tersebut penting dilakukan untuk menghadapi lingkungan bisnis yang semakin dinamis dengan mempersiapkan karyawan agar selalu bersiap diri dan meningkatkan kompetensi serta menjadikan perusahaan sebagai lingkungan kerja di mana karyawan dapat berkembang.
Gandeng Angkasa Pura I, Blue Bird Beri Layanan di Bandara Ahmad Yani
Sebelumnya, PT Blue Bird Tbk (BIRD) dan PT Angkasa Pura I resmi mengumumkan kolaborasi dalam memberikan kenyamanan mobilitas dari Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani menuju tujuan penumpang di Semarang, Jawa Tengah.
Hal ini sejalan dengan misi Blue Bird untuk mewujudkan layanan Mobility as A Service yang dapat mendukung ekosistem transportasi di Bandara Jenderal Ahmad Yani.
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Sigit Djokosoetono mengungkapkan, mulai terkendalinya pandemi COVID-19 seiring dengan laju aktivitas masyarakat yang kian membaik, kehadiran Blue Bird di Bandara Internasional Ahmad Yani diharapkan dapat membantu menopang pemulihan ekonomi di Semarang.
"Kami berterima kasih kepada PT Angkasa Pura I yang telah memberikan kami kepercayaan untuk menjadi mitra transportasi bagi pengguna transportasi udara menuju tujuan mereka di kota Semarang," kata Sigit, Jumat (20/5/2022).
Sejak didirikan pada 1972, PT Blue Bird Tbk beroperasi dengan tujuan untuk membawa kebahagiaan dan memberikan dampak yang seluas-luasnya bagi kehidupan masyarakat.
Menuju usianya yang ke-50 pada tahun ini, perseroan secara aktif terus menunjukan komitmennya dalam mendukung mobilitas ramah lingkungan.
Bersamaan dengan peresmian operasi di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, PT Blue Bird Tbk yang didukung oleh PT Angkasa Pura 1 juga mempertunjukan armada E-Bluebird yang akan segera beroperasi di Ibu Kota Jawa Tengah.
Perluas Area Kendaraan Listrik
Perseroan menyatakan, hal ini merupakan bukti nyata komitmen untuk kian mendekatkan pengalaman mobilitas nol emisi kepada masyarakat, yang sebelumnya telah lebih dulu beroperasi di wilayah Jakarta dan Bali.
"Kami berharap upaya memperluas area implementasi kendaraan listrik dapat menstimulasi implementasi dan pembangunan infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Tengah," ujar Sigit.
General Manager Blue Bird Wilayah Operasional Semarang dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Rito Sudarwaman mengungkapkan kehadiran armada E-Bluebird di Semarang menjadikan Blue Bird sebagai penyedia layanan taksi pertama yang menyediakan armada taksi listrik di wilayah tersebut.
"Kami merasa bersyukur dan bangga dapat menjadi katalis penerapan armada listrik di Semarang. Hal ini kami lakukan untuk mendukung upaya pemerintah daerah untuk memperkenalkan dan mendekatkan kendaraan listrik kepada masyarakat,” ujar dia.