Budaya Berbahasa Dinilai jadi Fondasi Peradaban Digital

Budaya berbahasa di ruang digital dinilai berperan penting menjaga kepercayaan, memperkuat hubungan sosial, dan membentuk peradaban digital.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 27 Juni 2024, 18:08 WIB
Budaya berbahasa di ruang digital. (Pixabay/pexels.com)

Liputan6.com, Jakarta - Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia berinteraksi, berdiskusi, dan membangun hubungan satu sama lain. Di tengah perubahan tersebut, bahasa tidak lagi hanya menjadi sarana menyampaikan pesan, tetapi juga ruang tempat nilai, penghormatan, dan cara hidup suatu masyarakat dipertemukan.

Pengamat Komunikasi Digital Laju Institute Mandra Pradipta atau yang akrab disapa Dipta menilai, kualitas peradaban digital tidak hanya tercermin dari kemajuan teknologi, tetapi juga dari budaya berbahasa yang berkembang di ruang publik.

Menurutnya, setiap percakapan yang berlangsung di dunia digital sedikit demi sedikit ikut membentuk karakter kehidupan bersama.

"Peradaban digital tidak dibangun hanya oleh kecanggihan teknologi. Peradaban juga dibentuk melalui kebiasaan manusia saling berbicara, menyampaikan kritik, dan memperlakukan perbedaan melalui bahasa," ujar Dipta, Sabtu (27/6/2026).

Dia menjelaskan, setiap masyarakat mewariskan nilai bukan hanya melalui pendidikan, hukum, atau berbagai institusi sosial, tetapi juga melalui kebiasaan berkomunikasi yang terus dipraktikkan dari waktu ke waktu.

"Karena itu, bahasa bukan sekadar medium menyampaikan gagasan, melainkan ruang yang menjaga kepercayaan, memperkuat hubungan sosial, dan memungkinkan masyarakat hidup berdampingan," ucap Dipta.

 

Bangun Kerja Sama

Pengamat Komunikasi Digital Laju Institute Mandra Pradipta. (Ist)

Dipta menilai, bahasa dapat dipandang sebagai infrastruktur sosial yang memungkinkan manusia membangun kerja sama, kepercayaan, dan kehidupan bersama.

Dia mengatakan, ketika kualitas bahasa menurun, yang melemah bukan hanya percakapan. Tetapi juga, kata dia, fondasi hubungan sosial yang menopang kehidupan bermasyarakat.

"Jalan menghubungkan kota, jaringan internet menghubungkan perangkat, tetapi bahasa menghubungkan manusia. Ketika cara kita berbahasa kehilangan penghormatan kepada sesama, yang retak bukan hanya komunikasi, melainkan juga hubungan sosial yang menjadi fondasi kehidupan bersama," ucap Dipta.

Menurut dia, kemajuan peradaban digital tidak cukup diukur dari kemampuan masyarakat memanfaatkan teknologi atau menghasilkan konten. Kualitasnya juga tercermin dari kemampuan menjaga ruang dialog yang tetap menghormati martabat manusia, bahkan ketika perbedaan pendapat tidak dapat dihindari.

"Peradaban diuji bukan ketika semua orang sepakat, tetapi ketika perbedaan tetap dapat dibicarakan tanpa kehilangan rasa hormat. Di situlah bahasa memperlihatkan perannya dalam menjaga kualitas kehidupan bersama," terang Dipta.

Dia mengatakan, setiap komentar, unggahan, maupun tanggapan yang ditulis masyarakat tidak berhenti sebagai jejak digital semata. Kebiasaan tersebut perlahan membentuk budaya komunikasi yang pada akhirnya diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Setiap kata yang kita tuliskan bukan hanya memengaruhi percakapan hari ini, tetapi juga ikut membentuk budaya komunikasi yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, cara kita berbahasa merupakan salah satu investasi sosial bagi kualitas peradaban digital," pungkas Dipta.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya