Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi melemah pada Selasa, (21/12/2021) dengan kisaran 14.390-14.450. Sebelumnya, rupiah ditutup melemah 46 poin pada perdagangan Senin, 20 Desember 2021 ke posisi 14.401.
Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi menuturkan, dolar AS naik terhadap mata uang lainnya pada Senin karena Federal Reserve AS mengisyaratkan kenaikan suku bunga sebelumnya pada Maret 2022, sementara Eropa bergulat dengan Omicron yang melonjak.
Advertisement
"Bank sentral utama menurunkan keputusan kebijakan mereka minggu lalu, dengan The Fed berubah hawkish dalam keputusan kebijakan terbarunya. Bank sentral akan mempercepat program pengurangan asetnya hingga berakhir pada Maret 2022 dan memproyeksikan kenaikan suku bunga tiga perempat poin pada tahun yang sama,” ujar dia dalam keterangan tertulis.
Bank of England menaikkan suku bunga menjadi 0,25 persen karena menurunkan keputusan kebijakannya, sebuah langkah mengejutkan karena menurunkan keputusan kebijakannya Kamis lalu. Bank Sentral Eropa juga mengumumkan rencana pengurangan aset selama kuartal mendatang pada hari yang sama.
Pada Jumat, 17 Desember 2021, Gubernur Fed Chris Waller mengatakan bank sentral mungkin menaikkan suku bunga "sesaat setelah" selesainya pembelian obligasi pada Maret 2022.
Kemudisan, transmisi cepat varian Omicron juga menjadi radar investor. Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pada Sabtu, 18 Desember 2021, jumlah kasus Omicron berlipat ganda dalam 1,5 hingga 3 hari di daerah dengan infeksi lokal, tetapi tingkat keparahan variannya tetap tidak jelas.
Dari sisi COVID-19, penasihat medis utama Presiden AS Joe Biden Anthony Fauci mengatakan penutupan tidak akan diperlukan meskipun COVID-19 melonjak lagi.
Selain itu, beberapa negara Eropa mungkin memperketat pembatasan atas melonjaknya kasus Omicron menjelang liburan Natal dan Tahun Baru.
Inggris memperingatkan pembatasan baru dapat diberlakukan pada Natal, karena negara itu mendeteksi 12.000 kasus pada Minggu, 19 Desember 2021. Belanda sudah melakukan lockdown.
* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Sentimen Internal
Dari sentimen internal, Pemerintah terus memaspadai penyebaran Omicron di tanah air yang sampai saat ini pasien Omicron baru beberapa orang yang terdeteksi.
Akan tetapi, memasuki Natal dan Tahun Baru, Pemerintah akan lebih waspada lagi tentang lonjakan virus Omicron, karena masyarakat akan kembali melakukan perjalanan ke luar kota yang di prediksi jutaan orang yang akan bepergian.
Ini menjadi beban tersendiri bagi Pemerintah untuk mengantisipasinya apalagi Omicron penyebarannya 70 kali dari varian delta. Namun, masyarakat sepertinya tidak peduli dengan anjuran Pemerintah tentang larangan bepergian.
Kalau sampai benar-benar terjadi masyarakat banyak yang keluar kota sudah pasti pemerintah pada 2022 akan merogoh kocek lebih besar lagi untuk penanganan pasien virus Omicron ini.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebut kasus baru Omicron dapat meningkat dua kali lipat selama 1,5 hingga tiga hari ke depan. Seperti diketahui, varian baru corona ini telah dilaporkan menyebar di 89 negara global.
Selain itu, WHO menyebut Omicron telah menyebar dengan cepat di negara-negara dengan tingkat kekebalan populasi yang tinggi.
Namun, pihaknya belum mengetahui secara jelas apakah ini didorong oleh kemampuan virus untuk menghindari kekebalan, peningkatan penularan yang melekat atau kombinasi antara keduanya.
Badan kesehatan dunia tersebut sebelumnya menetapkan varian Omicron sebagai variant of concern pada 26 November 2021, dua hari setelah varian tersebut terdeteksi di Afrika Selatan. Namun hingga saat ini diakui masih banyak yang belum diketahui tentang varian omicron, termasuk tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya.
"Data keparahan klinis Omicron masih terbatas. Sehingga lebih banyak data diperlukan untuk memahami profil keparahan dan bagaimana tingkat keparahan dipengaruhi oleh vaksinasi dan kekebalan yang sudah ada sebelumnya", ujar WHO dalam update terbarunya.