Liputan6.com, Jambi: Ada untungnya punya rumah panggung seperti milik warga di sepanjang Sungai Batanghari, Jambi. Paling tidak rumah mereka tak terendam air saat musim hujan berlangsung. Maklum, rumah mereka rata-rata bertinggi tak kurang dari lima meter di atas tanah. Demikian hasil pantauan SCTV di Jambi, pekan ini.
Warga biasanya menggunakan kayu bulian untuk membuat rumah panggung. Sebab, kayu ini diyakini semakin kuat bila terendam air, bahkan bisa bertahan hingga ratusan tahun. Menurut warga, kayu bulian hanya terdapat di beberapa lokasi hutan, seperti di Hutan Bulian, Kabupaten Batanghari, Jambi. Tapi, kini kayu bulian sulit didapat karena populasinya terus berkurang. Akibatnya, kayu ini jadi sangat mahal. Harga kayu jenis ini bisa mencapai Rp 1,5 juta per meter kubik.
Namun begitu, warga di sana tak kehabisan akal. Kini kebanyakan dari mereka mencoba membuat rumah panggung dari semen. Sayangnya kekuatan rumah dari semen ini belum teruji. Sebab mereka baru mulai membuat rumah panggung dari semen lima tahun silam.
Memang, wilayah di sepanjang aliran Sungai Batanghari dari tahun ke tahun menjadi langganan banjir. Bahkan dalam siklus 15 tahunan, genangan air dapat mencapai ketinggian tujuh meter. Namun demikian, tetap banyak warga yang tinggal di sana. Sebab, mereka sudah menggantungkan mata pencaharian pada sungai, mulai dari mencari pasir, menangkap ikan, atau membalok--kegiatan menebang kayu di hutan dan menghanyutkannya ke hilir.(ICH/Suhatman Pisang dan Indra Mairoli)
Warga biasanya menggunakan kayu bulian untuk membuat rumah panggung. Sebab, kayu ini diyakini semakin kuat bila terendam air, bahkan bisa bertahan hingga ratusan tahun. Menurut warga, kayu bulian hanya terdapat di beberapa lokasi hutan, seperti di Hutan Bulian, Kabupaten Batanghari, Jambi. Tapi, kini kayu bulian sulit didapat karena populasinya terus berkurang. Akibatnya, kayu ini jadi sangat mahal. Harga kayu jenis ini bisa mencapai Rp 1,5 juta per meter kubik.
Namun begitu, warga di sana tak kehabisan akal. Kini kebanyakan dari mereka mencoba membuat rumah panggung dari semen. Sayangnya kekuatan rumah dari semen ini belum teruji. Sebab mereka baru mulai membuat rumah panggung dari semen lima tahun silam.
Memang, wilayah di sepanjang aliran Sungai Batanghari dari tahun ke tahun menjadi langganan banjir. Bahkan dalam siklus 15 tahunan, genangan air dapat mencapai ketinggian tujuh meter. Namun demikian, tetap banyak warga yang tinggal di sana. Sebab, mereka sudah menggantungkan mata pencaharian pada sungai, mulai dari mencari pasir, menangkap ikan, atau membalok--kegiatan menebang kayu di hutan dan menghanyutkannya ke hilir.(ICH/Suhatman Pisang dan Indra Mairoli)