Kenaikan upah minimum pekerja di China pada akhir tahun sebesar 20-30% berpotensi mendorong perusahaan-perusahaan manufaktur barat untuk memindahkan basis dari China.
Demikian dikatakan A. Gary Shilling, analis keuangan terkemuka Amerika, seperti dikutp dari Bloomberg.com Selasa (18/12/2012).
Apabila hal itu benar-benar terjadi, imbuh Shilling, maka negara yang paling diuntungkan tentu saja 4 negara ini yaitu India, disusul Vietnam, Bangladesh, dan Pakistan.
Shilling menyebutkan keempat negara itu karena upah minimum pekerjanya lebih rendah daripada China.
Bagi India, tentu saja ini adalah kesempatan untuk menggeser posisi China sebagai motor utama perumbuhan ekonomi Asia yang sedang bagus-bagusnya ini.
Selain itu, imbuh Shilling, semakin banyak perusahaan barat yang menentang kebijakan yang mengharuskan mereka untuk memberikan transfer keahlian teknis mereka kepada perusahaan partnernya di China sebagai syarat untuk mendirikan fasilitas produksi di China.
Banyak kalangan percaya bahwa peningkatan performa industri-indsutri China disebabkan kebijakan transfer teknologi ini atau karena sebab lain yang salah satunya adalah pencurian hak-hak intelektual.
Baru-bari ini China menurunkan target pertumbuhan PDB nya menjadi 7,5 persen dari sebelumnya 8 persen. Target ini mungkin terlalu tinggi bagi Cina sebagai akibat dari penerapan kebijakan satu anaknya yang menyebabkan penurunan jumlah penduduknya.
Jumlah penduduk usia 15-24 tahunnya telah benar-benar menurun dan kelompok usia ini diperkirakan jumlahnya sekitar 150 juta jiwa pada 2030, bandingkan dengan tahun 1990 yang jumlahnya mencapai 250 juta jiwa.
Padahal, jumlah tenaga kerja China yang berlimpah merupakan sa;ah satu faktor kunci keberhasilan mereka dalam meningkatkan pertumbuhan PDB nya yang diperkirakan 1,8 persen.
Namun kini diperkirakan pertumbuhan ini akan terpangkas hingga menjadi 0,7 persen pada 2030. Pada waktu yang sama, membaiknya perekonomian pedesaan memicu semakin berkurangnya ketersediaan tenaga kerja murah di kota.
Sebaliknya, India tidak memiliki hambatan berarti dalam pertumbuhan populasinya. Memang China masih unggul, dengan 1,34 miliar penduduknya tahun lalu, dibandingkan dengan India yang 1,24 miliar, namun keunggulan China diperkirakan tidak akan lama lagi bertahan.
Selain itu dsitribusi usia pada populasi India dinlai lebih bagus karena di China sedang diterapkan kebijakan satu anak, yang mana saat ini sedang ditinjau ulang karena dampak negatifnya pada pada pertumbuhan ekonomi dan tenaga kerjanya.
Ini artinya rasio ketergantungan, proporsi anak-anak dan warga berusia produktifnya, dalam dekade mendatang akan berkurang di India namun meningkat di China. (LUK/IGW)
Demikian dikatakan A. Gary Shilling, analis keuangan terkemuka Amerika, seperti dikutp dari Bloomberg.com Selasa (18/12/2012).
Apabila hal itu benar-benar terjadi, imbuh Shilling, maka negara yang paling diuntungkan tentu saja 4 negara ini yaitu India, disusul Vietnam, Bangladesh, dan Pakistan.
Shilling menyebutkan keempat negara itu karena upah minimum pekerjanya lebih rendah daripada China.
Bagi India, tentu saja ini adalah kesempatan untuk menggeser posisi China sebagai motor utama perumbuhan ekonomi Asia yang sedang bagus-bagusnya ini.
Selain itu, imbuh Shilling, semakin banyak perusahaan barat yang menentang kebijakan yang mengharuskan mereka untuk memberikan transfer keahlian teknis mereka kepada perusahaan partnernya di China sebagai syarat untuk mendirikan fasilitas produksi di China.
Banyak kalangan percaya bahwa peningkatan performa industri-indsutri China disebabkan kebijakan transfer teknologi ini atau karena sebab lain yang salah satunya adalah pencurian hak-hak intelektual.
Baru-bari ini China menurunkan target pertumbuhan PDB nya menjadi 7,5 persen dari sebelumnya 8 persen. Target ini mungkin terlalu tinggi bagi Cina sebagai akibat dari penerapan kebijakan satu anaknya yang menyebabkan penurunan jumlah penduduknya.
Jumlah penduduk usia 15-24 tahunnya telah benar-benar menurun dan kelompok usia ini diperkirakan jumlahnya sekitar 150 juta jiwa pada 2030, bandingkan dengan tahun 1990 yang jumlahnya mencapai 250 juta jiwa.
Padahal, jumlah tenaga kerja China yang berlimpah merupakan sa;ah satu faktor kunci keberhasilan mereka dalam meningkatkan pertumbuhan PDB nya yang diperkirakan 1,8 persen.
Namun kini diperkirakan pertumbuhan ini akan terpangkas hingga menjadi 0,7 persen pada 2030. Pada waktu yang sama, membaiknya perekonomian pedesaan memicu semakin berkurangnya ketersediaan tenaga kerja murah di kota.
Sebaliknya, India tidak memiliki hambatan berarti dalam pertumbuhan populasinya. Memang China masih unggul, dengan 1,34 miliar penduduknya tahun lalu, dibandingkan dengan India yang 1,24 miliar, namun keunggulan China diperkirakan tidak akan lama lagi bertahan.
Selain itu dsitribusi usia pada populasi India dinlai lebih bagus karena di China sedang diterapkan kebijakan satu anak, yang mana saat ini sedang ditinjau ulang karena dampak negatifnya pada pada pertumbuhan ekonomi dan tenaga kerjanya.
Ini artinya rasio ketergantungan, proporsi anak-anak dan warga berusia produktifnya, dalam dekade mendatang akan berkurang di India namun meningkat di China. (LUK/IGW)