Liputan6.com, Jakarta: Arus balik setelah mudik Lebaran memang kerap mengakibatkan rawan kecelakaan lalu lintas. Para pengendara umumnya kelelahan setelah mengikuti perayaan Idul Fitri di kampung halaman. Begitu pula rasa kantuk yang tak kuasa ditolak sepanjang perjalanan pulang. Alhasil mudah ditebak, sebagian sopir kehilangan kewaspadaan. Dalam satu pekan terakhir, puluhan nyawa melayang dan puluhan lainnya cedera akibat kecelakaan--belum ada data resmi mengenai jumlah korban tewas. Kesedihan mendalam bercampur isak tangis jelas menyelimuti masing-masing keluarga korban yang ditinggalkan.
Musibah yang menimpa keluarga Haji Yusfit Taher, misalnya. Bayangkan, enam anggota keluarganya tewas menyusul tabrakan beruntun di Desa Campang Tiga, Sudimulyo, Lampung Selatan, Jumat malam pekan silam. Dua orang adalah yang paling dicintai Yusfit, yaitu putrinya yang bernama Yurnita beserta menantunya, Doni Putra Eka. Dan empat orang lainnya masih terhitung keluarga dekat Doni. Sedangkan dua anggota keluarga lainnya masih dalam keadaan kritis di Rumah Sakit Abdul Muluk, Lampung Selatan.
Pada malam nahas itu, mobil Isuzu Panther yang dikemudikan Doni tengah menuju Kota Bandar Lampung seusai berlebaran di Bogor, Jawa Barat. Di sebuah tikungan, mobil mereka bertabrakan frontal dengan Bus PO Handoyo. Kecelakaan itu juga menyebabkan tabrakan beruntun yang melibatkan dua mobil lainnya. Tabrakan diduga lantaran sopir bus trayek Sumatra Barat-Yogyakarta itu mengantuk, sehingga tak bisa menguasai kendaraannya. Benturan keras itu mengakibatkan Doni dan Yurnita yang tengah mengandung tujuh bulan beserta empat keluarga mereka tewas seketika [baca: Tabrakan Beruntun di Lampung Selatan, Enam Tewas].
Saat jenazah mereka dikuburkan, Yusfit beserta anggota keluarga lainnya pun tak kuasa menahan derai air mata. Dengan mata masih berkaca-kaca, Yusfit menuturkan, dia sempat melarang Yurnita berlebaran di Bogor. Larangan ini mengingat putri semata wayangnya tengah hamil tua. Namun, lantaran niat bersilaturahmi dengan keluarga mertua, ia akhirnya mengizinkan keberangkatan anak dan menantunya. Mereka pun berpamitan. Ternyata, pamit mereka adalah pamit yang terakhir sebelum maut datang menjemput.
Kesedihan ternyata tak cuma milik keluarga Yusfit. Pada malam yang bersamaan, kecelakaan kembali terjadi di Jalur Pantai Utara. Sebuah mobil Suzuki Carry yang melaju dari Jawa Timur menyeruduk pagar rumah di tepi jalan di kawasan Tegal, Jawa Tengah. Tiga orang tewas dan delapan luka-luka dalam kecelakaan tersebut. Musibah diduga karena sopir Carry lelah dan mengantuk, sehingga tidak mampu mengendalikan kemudi. Para korban adalah para pemudik yang hendak kembali ke Jakarta setelah mudik Lebaran di kampung halaman. Saat itu, delapan penumpang dilarikan ke Rumah Sakit Teksin Tegal [baca: Tabrakan di Pantura, Tiga Tewas].
Maut ternyata tak hanya mengancam para pemudik pengguna jalan raya. Pemudik yang menumpang Kereta Api Eksekutif Argo Dwipangga jurusan Yogyakarta-Jakarta, misalnya. Senin malam pekan silam, Argo Dwipangga anjlok di Desa Sarwagadung, Mirit, Prembun, Kebumen, Jateng. Kecelakaan diduga dipicu rusaknya rel yang mengakibatkan delapan gerbong KA Argo Dwipangga terguling ke areal persawahan [baca: KA Dwipangga Anjlok, Tiga Penumpang Tewas].
Kerusakan rel terjadi setelah sebuah mobil boks yang dikendarai Ahmad Syaifuddin menyundul jembatan kereta yang mengakibatkan rel bergeser. Dia pun dijadikan tersangka dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun. Kendati demikian, lima nyawa penumpang melayang sia-sia dalam kecelakaan tersebut.
Belum lagi hilang ingatan akan musibah itu, tiga hari kemudian, lima nyawa lainnya melayang dalam kecelakaan yang menimpa Bus Sri Kerta Bumi trayek Merak-Kalideres. Kali ini penyebabnya diduga akibat perilaku sopir bus yang ugal-ugalan. Sejumlah penumpang yang selamat mengungkapkan, pengemudi bus mencoba menyalip kendaraan di depannya. Akan tetapi, dari arah berlawanan muncul mobil lain. Untuk menghindari tabrakan, ia membanting setir ke kiri dan terjun ke anak Sungai Cisadane yang berkedalaman 15 meter. Setelah kecelakaan, sopir dan kernet bus langsung melarikan diri [baca: Bus Nyebur ke Sungai Cisadane, Tiga Tewas].
Daftar korban tewas selama arus balik bertambah menyusul tabrakan di jalur Sampang-Sumenep, Madura, Jatim. Hari ini atau H+8, Bus Kramatdjati jurusan Jakarta-Sumenep dan Bus Akas tujuan Banyuwangi-Sumenep bertabrakan. Dalam tabrakan itu sopir Bus Kramatjati Suwandi dan Bus Akas Said tewas seketika [baca: Tabrakan Maut di Jalur Sampang-Sumenep].
Sejumlah kecelakaan lalu lintas juga terjadi pada saat arus mudik. Di jalur Pantura Jabar, misalnya. Sampai dengan Ahad kemarin atau delapan hari setelah puncak perayaan Idul Fitri 1423 Hijriah, sedikitnya 20 orang tewas dan 45 lainnya luka berat, serta 31 korban cedera ringan dalam berbagai kecelakaan lalu lintas di Wilayah Cirebon. Meliputi Kotamadya/Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
Data dari Kepolisian Wilayah Cirebon menyebutkan, jumlah total kecelakaan lalu lintas sejak H-10 hingga H+7 tahun ini mencapai 26 kecelakaan. Rincinya, tiga kecelakaan terjadi di wilayah hukum Kepolisian Resor Kota Cirebon, empat di Kepolisian Resor Cirebon, 14 kecelakaan di Polres Indramayu, dan lima kecelakaan di Polres Majalengka. Korban tewas paling banyak terjadi di Kabupaten Majalengka, yakni sembilan orang tewas.
Menurut Polwil Cirebon, jumlah tersebut turun ketimbang periode arus mudik dan arus balik pada tahun 2001, yaitu sebesar 41 kejadian kecelakaan yang menyebabkan 35 orang tewas, 36 luka berat, dan 40 luka ringan. Sementara itu, jajaran Jasa Marga Cabang Jalan Tol Palimanan-Kanci Cirebon menyebutkan, selama musim arus mudik dan balik Lebaran 2002 yang dimulai 26 November silam hingga Sabtu kemarin, total terjadi 21 kecelakaan lalu lintas di ruas jalan tol sepanjang 27 kilometer tersebut. Akibatnya, sebanyak empat orang tewas dan lebih dari 15 orang luka berat.
Masih menurut Jasa Marga Tol Palimanan-Kanci, sebanyak 18 kecelakaan atau 85,7 persen dari total kejadian kecelakaan di ruas jalan tol itu, merupakan kecelakaan tunggal yang disebabkan oleh pecah ban, pengemudi mengantuk, atau kerusakan mekanis. Ban pecah menduduki tempat pertama penyebab kecelakaan, yaitu delapan kecelakaan, pengemudi mengantuk (enam kasus), kurang antisipasi pengemudi (empat kasus), mekanis kendaraan rusak (dua kasus) dan jarak antarkendaraan terlalu dekat (satu).
Kecelakaan selama arus mudik dan balik juga terjadi di jalur Pantura Jabar lainnya, yakni wilayah Subang dan Purwakarta. Tercatat, 16 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Dari korban sebanyak itu, 11 orang di antaranya tewas dalam peristiwa dua kali kecelakaan di daerah Patokbeusi.
Menurut data Kepolisian Wilayah Purwakarta, kecelakaan di Patokbeusi adalah peristiwa yang menonjol selama mudik dan balik Lebaran pada tahun ini. Kejadian terakhir di Patokbeusi, Subang, pada Kamis subuh pekan silam. Kecelakaan mengakibatkan empat orang tewas ketika kendaraan mereka Toyota Kijang bertabrakan dengan Bus Handoyo [baca: Longsor, Jalur Cadas Pangeran Dialihkan]. Warga sekitar mengakui bahwa seringnya kecelakaan di jalur yang populer dengan sebutan "Jalur Tengkorak" akibat tak disiplinnya pengemudi. Itulah sebabnya, warga yang mengaku resah meminta pemerintah untuk membuat pembatas jalan dari beton dalam upaya mengatasi kecelakaan di jalur rawan itu.
Deret panjang kecelakaan lalu lintas selama arus mudik dan balik jelas memprihatinkan. Kendati demikian, jauh-jauh hari sebelumnya, pemerhati transportasi Sutanto Soehodho sudah mengkhawatirkan akan hal itu. Dalam pandangan dia, kondisi sarana dan jalur transportasi di Tanah Air masih jauh dari harapan. Kondisi itu dapat membahayakan para pengguna sarana transportasi, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran [baca: Pemerintah Diminta Serius Menangani Arus Mudik].
Lantaran itulah, dia mengimbau agar pemerintah memprioritaskan masalah-masalah perbaikan sarana utama maupun sarana penunjang transportasi umum. Pemerintah juga diminta meningkatkan kualitas pelayanan yang mengutamakan keselamatan. Terutama memperbaiki mutu sumber daya manusia operator di lapangan.
Sedangkan jajaran Departemen Perhubungan menyatakan kesiapan menghadapi arus mudik Lebaran yang diperkirakan mencapai 16 juta orang. Mereka juga menyiapkan moda angkutan darat dengan kapasitas mencapai 23 juta penumpang. Khusus untuk angkutan laut, Dephub telah mengizinkan pengoperasian 28 armada kapal angkut Lebaran. Tak ketinggalan PT KAI Daerah Operasi I Jakarta yang menyiagakan 29 kereta untuk kebutuhan [baca: Moda Angkutan Darat Arus Mudik Lebaran Diperbanyak].
Terlepas dari berbagai kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa puluhan pemudik--belum ada keterangan resmi mengenai jumlah korban tewas--arus mudik dan balik pada tahun ini relatif lebih lancar. Sebagian pemudik merasakan perjalanan pulang pergi mereka lebih baik meski masih terjadi kemacetan di jalur Pantura, berdesak-desakan saat menumpang kereta, hingga peristiwa nahas lainnya. Toh, secara umum kondisi saat ini tak separah tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan Iskandar Abubakar, membaiknya penyelenggaraan angkutan Lebaran 2002, tak terlepas dari menurunnya jumlah pemudik ketimbang tahun silam. "Angka penurunannya pun cukup tajam, sekitar 8,75 persen untuk moda angkutan darat, laut, maupun udara," ungkap Iskandar.
Iskandar menjelaskan, jika tahun silam jumlah pemudik yang dihitung pada H-7 sampai H+2 mencapai 10.078.719 orang, maka sekarang jumlah pemudik untuk semua moda angkutan hanya mencapai 9.196.774 orang. Namun, moda angkutan darat masih sangat dominan. Yakni 92 persen dari seluruh jumlah penumpang, sedangkan moda laut cuma tiga persen dan moda udara lima persen dari seluruh penumpang.
Khusus angkutan darat, Iskandar menambahkan, pengguna angkutan pribadi justru naik sekitar 9,06 persen. "Jika tahun silam jumlah kendaraan pribadi yang keluar dari Jabotabek sebanyak 680.473 kendaraan, tahun sekarang meningkat menjadi 742.162 kendaraan," kata Iskandar. Namun, meningkatnya pengguna kendaraan pribadi justru disertai pula dengan naiknya angka kecelakaan lalu lintas di jalan tol. Tercatat 68 kasus selama angkutan Lebaran, dengan korban tewas mencapai 17 orang. Sedangkan tahun silam tercatat 48 kasus kecelakaan dengan korban tewas empat orang.
Kecelakaan demi kecelakaan tersebut memang patut disayangkan meski sebagian besar akibat kelalaian pengemudi. Walau begitu, tak ada salahnya bila polisi lebih keras lagi memperingati atau menindak para pelanggar lalu lintas saat mudik Lebaran. Misalnya, membatasi laju kendaraan di sejumlah titik rawan kecelakaan. Pemerintah pun harus lebih memperhatikan perbaikan jalan-jalan yang rusak. Dengan begitu, jumlah keluarga yang kehilangan sanak saudara saat perjalanan mudik dapat diperkecil.(ANS/Tim Liputan6 SCTV)
Musibah yang menimpa keluarga Haji Yusfit Taher, misalnya. Bayangkan, enam anggota keluarganya tewas menyusul tabrakan beruntun di Desa Campang Tiga, Sudimulyo, Lampung Selatan, Jumat malam pekan silam. Dua orang adalah yang paling dicintai Yusfit, yaitu putrinya yang bernama Yurnita beserta menantunya, Doni Putra Eka. Dan empat orang lainnya masih terhitung keluarga dekat Doni. Sedangkan dua anggota keluarga lainnya masih dalam keadaan kritis di Rumah Sakit Abdul Muluk, Lampung Selatan.
Pada malam nahas itu, mobil Isuzu Panther yang dikemudikan Doni tengah menuju Kota Bandar Lampung seusai berlebaran di Bogor, Jawa Barat. Di sebuah tikungan, mobil mereka bertabrakan frontal dengan Bus PO Handoyo. Kecelakaan itu juga menyebabkan tabrakan beruntun yang melibatkan dua mobil lainnya. Tabrakan diduga lantaran sopir bus trayek Sumatra Barat-Yogyakarta itu mengantuk, sehingga tak bisa menguasai kendaraannya. Benturan keras itu mengakibatkan Doni dan Yurnita yang tengah mengandung tujuh bulan beserta empat keluarga mereka tewas seketika [baca: Tabrakan Beruntun di Lampung Selatan, Enam Tewas].
Saat jenazah mereka dikuburkan, Yusfit beserta anggota keluarga lainnya pun tak kuasa menahan derai air mata. Dengan mata masih berkaca-kaca, Yusfit menuturkan, dia sempat melarang Yurnita berlebaran di Bogor. Larangan ini mengingat putri semata wayangnya tengah hamil tua. Namun, lantaran niat bersilaturahmi dengan keluarga mertua, ia akhirnya mengizinkan keberangkatan anak dan menantunya. Mereka pun berpamitan. Ternyata, pamit mereka adalah pamit yang terakhir sebelum maut datang menjemput.
Kesedihan ternyata tak cuma milik keluarga Yusfit. Pada malam yang bersamaan, kecelakaan kembali terjadi di Jalur Pantai Utara. Sebuah mobil Suzuki Carry yang melaju dari Jawa Timur menyeruduk pagar rumah di tepi jalan di kawasan Tegal, Jawa Tengah. Tiga orang tewas dan delapan luka-luka dalam kecelakaan tersebut. Musibah diduga karena sopir Carry lelah dan mengantuk, sehingga tidak mampu mengendalikan kemudi. Para korban adalah para pemudik yang hendak kembali ke Jakarta setelah mudik Lebaran di kampung halaman. Saat itu, delapan penumpang dilarikan ke Rumah Sakit Teksin Tegal [baca: Tabrakan di Pantura, Tiga Tewas].
Maut ternyata tak hanya mengancam para pemudik pengguna jalan raya. Pemudik yang menumpang Kereta Api Eksekutif Argo Dwipangga jurusan Yogyakarta-Jakarta, misalnya. Senin malam pekan silam, Argo Dwipangga anjlok di Desa Sarwagadung, Mirit, Prembun, Kebumen, Jateng. Kecelakaan diduga dipicu rusaknya rel yang mengakibatkan delapan gerbong KA Argo Dwipangga terguling ke areal persawahan [baca: KA Dwipangga Anjlok, Tiga Penumpang Tewas].
Kerusakan rel terjadi setelah sebuah mobil boks yang dikendarai Ahmad Syaifuddin menyundul jembatan kereta yang mengakibatkan rel bergeser. Dia pun dijadikan tersangka dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun. Kendati demikian, lima nyawa penumpang melayang sia-sia dalam kecelakaan tersebut.
Belum lagi hilang ingatan akan musibah itu, tiga hari kemudian, lima nyawa lainnya melayang dalam kecelakaan yang menimpa Bus Sri Kerta Bumi trayek Merak-Kalideres. Kali ini penyebabnya diduga akibat perilaku sopir bus yang ugal-ugalan. Sejumlah penumpang yang selamat mengungkapkan, pengemudi bus mencoba menyalip kendaraan di depannya. Akan tetapi, dari arah berlawanan muncul mobil lain. Untuk menghindari tabrakan, ia membanting setir ke kiri dan terjun ke anak Sungai Cisadane yang berkedalaman 15 meter. Setelah kecelakaan, sopir dan kernet bus langsung melarikan diri [baca: Bus Nyebur ke Sungai Cisadane, Tiga Tewas].
Daftar korban tewas selama arus balik bertambah menyusul tabrakan di jalur Sampang-Sumenep, Madura, Jatim. Hari ini atau H+8, Bus Kramatdjati jurusan Jakarta-Sumenep dan Bus Akas tujuan Banyuwangi-Sumenep bertabrakan. Dalam tabrakan itu sopir Bus Kramatjati Suwandi dan Bus Akas Said tewas seketika [baca: Tabrakan Maut di Jalur Sampang-Sumenep].
Sejumlah kecelakaan lalu lintas juga terjadi pada saat arus mudik. Di jalur Pantura Jabar, misalnya. Sampai dengan Ahad kemarin atau delapan hari setelah puncak perayaan Idul Fitri 1423 Hijriah, sedikitnya 20 orang tewas dan 45 lainnya luka berat, serta 31 korban cedera ringan dalam berbagai kecelakaan lalu lintas di Wilayah Cirebon. Meliputi Kotamadya/Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
Data dari Kepolisian Wilayah Cirebon menyebutkan, jumlah total kecelakaan lalu lintas sejak H-10 hingga H+7 tahun ini mencapai 26 kecelakaan. Rincinya, tiga kecelakaan terjadi di wilayah hukum Kepolisian Resor Kota Cirebon, empat di Kepolisian Resor Cirebon, 14 kecelakaan di Polres Indramayu, dan lima kecelakaan di Polres Majalengka. Korban tewas paling banyak terjadi di Kabupaten Majalengka, yakni sembilan orang tewas.
Menurut Polwil Cirebon, jumlah tersebut turun ketimbang periode arus mudik dan arus balik pada tahun 2001, yaitu sebesar 41 kejadian kecelakaan yang menyebabkan 35 orang tewas, 36 luka berat, dan 40 luka ringan. Sementara itu, jajaran Jasa Marga Cabang Jalan Tol Palimanan-Kanci Cirebon menyebutkan, selama musim arus mudik dan balik Lebaran 2002 yang dimulai 26 November silam hingga Sabtu kemarin, total terjadi 21 kecelakaan lalu lintas di ruas jalan tol sepanjang 27 kilometer tersebut. Akibatnya, sebanyak empat orang tewas dan lebih dari 15 orang luka berat.
Masih menurut Jasa Marga Tol Palimanan-Kanci, sebanyak 18 kecelakaan atau 85,7 persen dari total kejadian kecelakaan di ruas jalan tol itu, merupakan kecelakaan tunggal yang disebabkan oleh pecah ban, pengemudi mengantuk, atau kerusakan mekanis. Ban pecah menduduki tempat pertama penyebab kecelakaan, yaitu delapan kecelakaan, pengemudi mengantuk (enam kasus), kurang antisipasi pengemudi (empat kasus), mekanis kendaraan rusak (dua kasus) dan jarak antarkendaraan terlalu dekat (satu).
Kecelakaan selama arus mudik dan balik juga terjadi di jalur Pantura Jabar lainnya, yakni wilayah Subang dan Purwakarta. Tercatat, 16 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Dari korban sebanyak itu, 11 orang di antaranya tewas dalam peristiwa dua kali kecelakaan di daerah Patokbeusi.
Menurut data Kepolisian Wilayah Purwakarta, kecelakaan di Patokbeusi adalah peristiwa yang menonjol selama mudik dan balik Lebaran pada tahun ini. Kejadian terakhir di Patokbeusi, Subang, pada Kamis subuh pekan silam. Kecelakaan mengakibatkan empat orang tewas ketika kendaraan mereka Toyota Kijang bertabrakan dengan Bus Handoyo [baca: Longsor, Jalur Cadas Pangeran Dialihkan]. Warga sekitar mengakui bahwa seringnya kecelakaan di jalur yang populer dengan sebutan "Jalur Tengkorak" akibat tak disiplinnya pengemudi. Itulah sebabnya, warga yang mengaku resah meminta pemerintah untuk membuat pembatas jalan dari beton dalam upaya mengatasi kecelakaan di jalur rawan itu.
Deret panjang kecelakaan lalu lintas selama arus mudik dan balik jelas memprihatinkan. Kendati demikian, jauh-jauh hari sebelumnya, pemerhati transportasi Sutanto Soehodho sudah mengkhawatirkan akan hal itu. Dalam pandangan dia, kondisi sarana dan jalur transportasi di Tanah Air masih jauh dari harapan. Kondisi itu dapat membahayakan para pengguna sarana transportasi, terutama saat arus mudik dan balik Lebaran [baca: Pemerintah Diminta Serius Menangani Arus Mudik].
Lantaran itulah, dia mengimbau agar pemerintah memprioritaskan masalah-masalah perbaikan sarana utama maupun sarana penunjang transportasi umum. Pemerintah juga diminta meningkatkan kualitas pelayanan yang mengutamakan keselamatan. Terutama memperbaiki mutu sumber daya manusia operator di lapangan.
Sedangkan jajaran Departemen Perhubungan menyatakan kesiapan menghadapi arus mudik Lebaran yang diperkirakan mencapai 16 juta orang. Mereka juga menyiapkan moda angkutan darat dengan kapasitas mencapai 23 juta penumpang. Khusus untuk angkutan laut, Dephub telah mengizinkan pengoperasian 28 armada kapal angkut Lebaran. Tak ketinggalan PT KAI Daerah Operasi I Jakarta yang menyiagakan 29 kereta untuk kebutuhan [baca: Moda Angkutan Darat Arus Mudik Lebaran Diperbanyak].
Terlepas dari berbagai kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa puluhan pemudik--belum ada keterangan resmi mengenai jumlah korban tewas--arus mudik dan balik pada tahun ini relatif lebih lancar. Sebagian pemudik merasakan perjalanan pulang pergi mereka lebih baik meski masih terjadi kemacetan di jalur Pantura, berdesak-desakan saat menumpang kereta, hingga peristiwa nahas lainnya. Toh, secara umum kondisi saat ini tak separah tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Direktur Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan Iskandar Abubakar, membaiknya penyelenggaraan angkutan Lebaran 2002, tak terlepas dari menurunnya jumlah pemudik ketimbang tahun silam. "Angka penurunannya pun cukup tajam, sekitar 8,75 persen untuk moda angkutan darat, laut, maupun udara," ungkap Iskandar.
Iskandar menjelaskan, jika tahun silam jumlah pemudik yang dihitung pada H-7 sampai H+2 mencapai 10.078.719 orang, maka sekarang jumlah pemudik untuk semua moda angkutan hanya mencapai 9.196.774 orang. Namun, moda angkutan darat masih sangat dominan. Yakni 92 persen dari seluruh jumlah penumpang, sedangkan moda laut cuma tiga persen dan moda udara lima persen dari seluruh penumpang.
Khusus angkutan darat, Iskandar menambahkan, pengguna angkutan pribadi justru naik sekitar 9,06 persen. "Jika tahun silam jumlah kendaraan pribadi yang keluar dari Jabotabek sebanyak 680.473 kendaraan, tahun sekarang meningkat menjadi 742.162 kendaraan," kata Iskandar. Namun, meningkatnya pengguna kendaraan pribadi justru disertai pula dengan naiknya angka kecelakaan lalu lintas di jalan tol. Tercatat 68 kasus selama angkutan Lebaran, dengan korban tewas mencapai 17 orang. Sedangkan tahun silam tercatat 48 kasus kecelakaan dengan korban tewas empat orang.
Kecelakaan demi kecelakaan tersebut memang patut disayangkan meski sebagian besar akibat kelalaian pengemudi. Walau begitu, tak ada salahnya bila polisi lebih keras lagi memperingati atau menindak para pelanggar lalu lintas saat mudik Lebaran. Misalnya, membatasi laju kendaraan di sejumlah titik rawan kecelakaan. Pemerintah pun harus lebih memperhatikan perbaikan jalan-jalan yang rusak. Dengan begitu, jumlah keluarga yang kehilangan sanak saudara saat perjalanan mudik dapat diperkecil.(ANS/Tim Liputan6 SCTV)