3 Momen Memalukan Pembukaan Olimpiade dari Masa ke Masa

Dari tragedi merpati panggang, hingga kaldron yang macet di tengah jalan.

oleh Marco TampubolonDiperbarui 24 Juli 2021, 07:01 WIB
Aktris Yunani Xanthi Georgiou sebagai Imam Besar menyalakan obor saat upacara penyalaan api Olimpiade Tokyo 2020 di Kota Tua Olympia, Yanani, Kamis (12/3/2020). Belum ada keputusan apakah Olimpiade Tokyo 2020 bakal ditunda atau dibatalkan akibat virus corona COVID-19. (AP Photo/Thanassis Stavrakis)

Liputan6.com, Jakarta Pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 tinggal sebentar lagi. Upacara yang menandai bergulirnya ajang olahraga empat tahunan itu digelar di National Stadium, Tokyo, Jumat (23/7/2021) pukul 18.00 WIB. 

Di tengah pandemi virus Corona COVID-19 yang belum berakhir, sejumlah perubahan dilakukan demi menjaga keamanan atlet dan ofisial. Salah satunya adalah keputusan IOC untuk meniadakan kehadiran penonton dan membatasi jumlah peserta yang mengikuti prosesi defile yang sudah menjadi tradisi. 

Sejauh ini, pihak penyelenggara masih merahasiakan detail acara pembukaan. Meski demikian, selain defile atau pawai kontingen, satu hal yang pasti dilakukan dalam menandai pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 adalah penyalaan api pada kaldron. 

Penyalaan api di kaldron selama ini dianggap sebagai puncak dari acara pembukaan Olimpiade. Oleh sebab itu, tuan rumah biasanya menggunakan cara yang unik dalam melakukan prosesi ini.

Hanya saja, tidak semua berjalan sesuai rencana. Sebagian justru berubah jadi momen memalukan. 

Berikut ini, tiga momen aneh acara pembukaan Olimpiade dari masa ke masa. 

Saksikan juga video menarik di bawah ini


Olimpiade Berlin 1936 Ala NAZI

Adolf Hitler (AP)

Tidak ada yang menyangka bila Olimpiade pernah berlangsung di negara yang dikuasai oleh fasis seperti rezmi Nazi. Namun kehidupan nyata terkadang lebih aneh dari cerita fiksi. Pada tahun 1936, Olimpiade pernah berlangsung di Berlin, Jerman yang dikuasai oleh Nazi pimpinan Adolf Hitler.

Seperti dilansir dari berbagai sumber, momen pembukaan kala itu jauh dari kesan semarak. Pasalnya, momen pembukaan berubah menjadi parade militer di bawah pimpinan langsung Adolf Hitler.

Tidak aneh bila banyak militer yang terlibat selama acara tersebut. Bahkan api kaldron dinyalakan dengan latar belakang ratusan lambang Nazi dan poster Hitler. Susana bertambah tegang manakala lagu kebangsaan Jerman diputar berulang-ulang. Ratusan merpati lalu diterbangkan. Dan saat meriam ditembakkan, burung-burung itu kaget hingga mengeluarkan kotoran yang jatuh ke penonton.   

Benar-benar bukan suasana yang menggambarkan sebuah pesta, tapi lebih kepada parade militer. 


Merpati Panggang Olimpiade Seoul 1988

Suasana pertandingan sepak bola pada Olimpiade 1988 di Seoul, Korea Selatan. (The Nation).

Bagi masyarakat Indonesia, Olimpiade Seoul, Korea Selatan, pada tahun 1988 merupakan tonggak sejarah tradisi medali dimulai. Trio srikandi Tanah Air, yang terdiri dari Lilies Handayani, Kusuma Wardhani dan Nurfitriyana Saiman berhasil merebut medali perak dari nomor recurve beregu putri. 

Lanjut Baca:

Ini menjadi keping medali pertama Indonesia sepanjang tampil di Olimpiade sejak 1952. Dan sejak saat itu, Indonesia tidak pernah pulang lagi dengan tangan hampa hingga Olimpiade Brasil 2016.  Seperti Olimpiade-Olimpiade sebelumnya, acara pembukaan pada edisi ini juga dikemas meriah dan unik. Hanya saja, pelepasan burung merpati sebagai simbol perdamaian belakangan pantas disesali.  Bagaimana tidak, belasan merpati yang dilepaskan memilih hinggap di kaldron. Dan saat api dinyalakan, sebagian dari burung-burung itu bernasib tragis karena terbakar hidup-hidup. Ironisnya, momen mengerikan itu tidak hanya disaksikan oleh penonton di stadion tapi juga oleh masyarat di berbagai belahan dunia karena disiarkan langsung oleh berbagai stasiun televisi.    

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya