HEADLINE: European Super League, Berakhirnya Pemberontakan Bikin UEFA Berubah?

European Super League menguras emosi suporter dan pemain hingga akhirnya klub pendukung pun mundur.

oleh Defri SaefullahDiperbarui 22 April 2021, 07:02 WIB
European Super League (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - European Super League (ESL) atau Liga Super Eropa menjadi guncangan hebat bagi sepak bola dunia. Sudah diwacanakan sejak 2016, ESL tak disangka benar-benar digulirkan para penggagas dengan pimpinan Presiden Real Madrid, Florentino Perez.

Florentino Perez menghentak dunia karena European Super League disebutnya menjadi solusi krisis keuangan di sepak bola dunia, utamanya bagi klub-klub di Eropa. Dia mengajak 11 klub lainnya sebagai pendiri ESL.

11 klub lainnya tersebut yaitu Barcelona, Atletico Madrid, Juventus, Inter Milan, AC Milan, Manchester United, Manchester City, Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur dan Liverpool. Dalam proposalnya, Perez mengatakan 12 klub ini merupakan pendiri European Super League.

12 pendiri ini disebut Perez tak akan mengalami degradasi dalam European Super League yang direncanakan diikuti 20 klub. Namun masih ada tiga klub pendiri yang dirahasiakan sehingga total ada 15 klub pendiri, plus 5 klub cadangan yang bakal bergonta ganti setiap tahunnya.

"Kami akan membantu sepak bola di setiap level dan membawanya ke tempat yang selayaknya di dunia. Sepak bola adalah satu-satunya olahraga global di dunia dengan lebih dari empat miliar penggemar dan tanggung jawab kami sebagai klub besar adalah menanggapi keinginan mereka," kata Perez dalam keterangan tertulis yang dikutip dari Football Italia.

UEFA dengan tegas mengharamkan adanya European Super League. Klub-klub peserta akan dilarang ikut kompetisi domestik di negaranya masing-masing.

Demi mencegah bergulirnya European Super League, UEFA juga memberikan ancaman kepada para pemain agar tidak ikutan. Pemain yang berkompetisi di European Super League bakal tidak bisa membela negaranya di ajang internasional seperti Piala Eropa dan Piala Dunia.

Ancaman ini berhasil dilaksanakan. Hingga hari ini, 9 klub sudah menyatakan mundur dari Liga Super Eropa. Hanya Real Madrid, Barcelona dan Juventus yang secara formal belum menyatakan mundur. Seperti apa sebenarnya European Super League? Apakah UEFA bakal mengubah hadiah uang di Liga Champions dan kompetisi lainnya setelah pemberontakan ini berakhir?

 

Infografis Infografis European Super League, Layu Sebelum Berkembang. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Video Menarik di Bawah Ini:

Lanjut Baca:

European Super League bukan ide yang baru. Bahkan ide ini sudah bergulir sejak 2016. Lalu bagaimana sambutannya? Sejak saat itu, resistensi terhadap ide ESL ini sangat kencang. Klub-klub pada dasarnya ogah untuk mengikuti ide ESL yang break away atau berpisah dari kompetisi sebenarnya yaitu Liga Champions. Manajer Chelsea pada 2016 lalu, Guus Hiddink diantaranya yang menolak ide ESL. Hiddink mengaku khawatir akan potensi eksklusivitas yang bisa dimiliki ESL apabila jadi digulirkan dalam waktu dekat. "Saya pikir semua harus berhati-hati jika memang ingin masuk ke sisi [kompetisi] eksklusivitas ketika tim seperti Leicester juga turut dilibatkan," ujar Hiddink. Wacana ini, seperti dilaporkan The Sun, muncul setelah sejumlah pimpinan eksekutif klub papan atas Liga Primer Inggris, seperti Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City dan Manchester United menggelar pertemuan dengan miliuner Amerika Serikat, Stephen Ross. Pertemuan guna membahas format turnamen baru antarklub Eropa. Sebelumnya, mantan manajer MU Louis van Gaal juga tidak sependapat dengan wacana itu. Dia merasa kompetisi tersebut hanya menguntungkan tim-tim besar dan lebih berorientasi pada uang. Van Gaal melihat, kecil kemungkinan tim-tim kecil untuk berpartisipasi di ESL. "Olahraga harus selalu berada dalam tempat terbaiknya. Ide itu (ESL) sampah. Saya selalu mengatakan itu, ketika berbicara kompetisi tidak selalu melibatkan tim besar," ujar Van Gaal dilansir dari The Guardian.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya