Resensi Film La Famille Belier: Kebesaran Cinta Keluarga Bisu Tuli, Adegan Akhir Bikin Nangis

Anda yang lagi di rumah saja dan punya waktu luang, coba tonton lagi La Famille Belier alias The Belier Family. Kocak sekaligus haru.

oleh Wayan DianantoDiperbarui 08 Maret 2021, 18:25 WIB
Poster film La Famille Belier atau The Belier Family. (Foto: Mars Films/ France 2 Cinema/ IMDb)

Liputan6.com, Jakarta Sebagian masyarakat masih beraktivitas atau bekerja di rumah. Waktu senggang bisa diisi bareng keluarga atau menonton film. La Famille Belier atau The Belier Family rilisan tahun 2014 layak ditonton ulang.

Jangan terkecoh dengan judulnya yang memuat unsur keluarga, karena karya sineas Eric Lartigau ini membuat sejumlah dialog untuk dewasa. Meski demikian, film ini hangat dan layak disanjung.

Siapa sangka pula, La Famille Belier yang diawal tampak ugal-ugalan menyisakan adegan puncak (persis di akhir film) penguras air mata. Berikut resensi film La Famille Belier. Selamat menyimak.

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.


Paula Mengenal Gabriel

Ilian Bergala sebagai Gabriel dalam La Famille Belier atau The Berlier Family. (Foto: Mars Films/ France 2 Cinema/ IMDb)

Paula (Louane Emera) dibesarkan di lingkungan tani dan peternakan. Kedua orangtuanya, Rodolphe Belier (Francois Damien) dan Gigi (Karin Viard), tuli sekaligus bisu. Adik laki-lakinya, Quentin (Luca Gelberg) mengalami nasib serupa. Di sekolah, Paula bergaul karib dengan Mathilde (Roxane Duran).

Suatu hari, ada audisi paduan suara yang menuntut peserta pamer vokal di depan guru, Pak Thomasson (Eric Elmosnino). Mathilde ditolak karena suaranya dianggap bencana. Namun Paula diterima dengan alasan punya alto bagus.

Di kelas itu, Paula mengenal Gabriel (Ilian Bergala) yang tampan juga pendiam. Dirasa punya vokal harmonis, Thomasson menjodohkan mereka di lagu “Aku Akan Mencintaimu.” Thomasson juga mengabarkan ada audisi vokal di Prancis.


Keyakinan Seorang Guru

Thomasson diperankan Eric Elmosnino dalam La Famille Belier atau The Berlier Family. (Foto: Mars Films/ France 2 Cinema/ IMDb)

Sang guru yakin jika Paula ikut, kans untuk menang membesar. Saat rencana ini disampaikan Paula ke keluarga, Rodolphe dan Gigi menolak. Apalagi, Rodolphe tengah mencalonkan diri sebagai Wali Kota Lassay. Jika menang, ia mencetak sejarah sebagai pemimpin bisu tuli di sana.

Kegeniusan film ini terletak pada ide menempatkan remaja dengan bakat menyanyi di lingkungan keluarga yang tak bisa mendengar maupun bicara. Susah untuk meyakinkan orangtua bisu tuli bahwa putrinya pintar nyanyi.

Silang pendapat yang berujung pada aksi mendiamkan anak terasa dramatis. Yang menarik Eric Lartegau tak menempatkan orangtua di garis antagonis. Gigi rupanya masih mengganggap putrinya yang beranjak dewasa sebagai bayi.

Lanjut Baca:

Sementara Rodolphe khawatir apa jadinya jika Paula pergi? Siapa yang bisa menerjemahkan maksud mereka saat transaksi di pasar? Konflik psikologis ini diurai dengan beragam ekspresi. Francois Damiens dan Karin Viard mempresentasikan keresahan ditinggal Paula dengan sangat apik, dari emosi yang tumpah di meja makan hingga pillow talk dengan ujung saling tuding. Konflik keluarga ini diseimbangkan dengan pertemanan Paula-Mathilde yang unik dan gemasnya cinta pertama. Fokus Eric tampaknya pada interaksi antarkarakter dan alur cerita. Maka tak ada yang istimewa dari aspek teknis seperti sinematografi, editing, maupun artistik.  

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya