Liputan6.com, Jakarta: Penangkapan DA siswa SMK Pelayaran Triarga I Kebon Jeruk, Jakarta Barat, karena diduga terlibat jaringan teroris mengejutkan pihak sekolah. Siswa kelas tiga itu pun tak terlihat lagi di ruang kelas, Senin (29/10).
DA ditangkap petugas Datasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri di Palmerah, Jakbar, Sabtu silam, karena diduga terlibat dalam jaringan teroris Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia atau Hasmi. Sejumlah guru dan teman mengatakan DA sering tak masuk sekolah karena mengaku tak memiliki ongkos. Bahkan sepekan sebelum ditangkap, DA juga mengaku diminta menikahi pacarnya.
Menurut Kepala Sekolah SMK Pelayaran Triarga Sri Suhainingsih, perilaku DA di sekolah baik. Prestasi DA juga bagus. "Nilainya bagus, tingkah lakunya juga baik, tidak ada yang kita ragukan dari tingkah lakunya," tutur Sri.
DA ditangkap bersama kakaknya di rumahnya di Jalan Palmerah Barat, Kemanggisan, Jakbar. Kelompok ini diduga akan membom kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Markas Brimob Jawa Tengah, Plaza 89 Kuningan, Jakarta Selatan, serta beberapa obyek vital lain.(ADI/AIS)
DA ditangkap petugas Datasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri di Palmerah, Jakbar, Sabtu silam, karena diduga terlibat dalam jaringan teroris Harakah Sunni untuk Masyarakat Indonesia atau Hasmi. Sejumlah guru dan teman mengatakan DA sering tak masuk sekolah karena mengaku tak memiliki ongkos. Bahkan sepekan sebelum ditangkap, DA juga mengaku diminta menikahi pacarnya.
Menurut Kepala Sekolah SMK Pelayaran Triarga Sri Suhainingsih, perilaku DA di sekolah baik. Prestasi DA juga bagus. "Nilainya bagus, tingkah lakunya juga baik, tidak ada yang kita ragukan dari tingkah lakunya," tutur Sri.
DA ditangkap bersama kakaknya di rumahnya di Jalan Palmerah Barat, Kemanggisan, Jakbar. Kelompok ini diduga akan membom kantor Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Markas Brimob Jawa Tengah, Plaza 89 Kuningan, Jakarta Selatan, serta beberapa obyek vital lain.(ADI/AIS)